Donny Damara: Film Indonesia Butuh Jejaring Global Agar Bisa Naik Kelas
Hari-hari ini, kawasan Sanur tidak hanya dipenuhi wisatawan yang menikmati angin pantai dan matahari Bali. Di sejumlah sudut hotel dan ruang pertemuan yang menjadi bagian dari rangkaian Bali International Film Festival (Balinale) 2026, percakapan tentang film berlangsung dalam berbagai bahasa. Produser, sutradara, investor, distributor, dan programmer festival dari berbagai negara saling bertukar kartu nama, membahas proyek, serta menjajaki kemungkinan kolaborasi baru.
Di tengah suasana itu, aktor senior Indonesia Donny Damara melihat sesuatu yang menurutnya jauh lebih penting daripada sekadar pemutaran film.
Baginya, masa depan perfilman Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membuat film yang bagus. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membawa karya-karya tersebut keluar dari batas pasar domestik dan menemukan penontonnya di panggung internasional.
“Festival seperti Balinale memberikan kesempatan bagi para pembuat film untuk bertemu langsung dengan produser, distributor, investor hingga programmer festival dari berbagai negara. Ini bukan hanya soal memutar film, tetapi membangun hubungan yang bisa melahirkan proyek-proyek baru,” ujar Donny kepada SWA.co.id di The Meru Sanur, Sabtu (6/6/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan yang sedang terjadi dalam industri film global. Kualitas produksi kini bukan lagi satu-satunya faktor pembeda. Di era ketika ribuan film diproduksi setiap tahun dan platform streaming berlomba menghadirkan konten baru, akses terhadap jaringan internasional menjadi aset yang tidak kalah penting dibandingkan kemampuan artistik.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan talenta. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai film Indonesia mulai tampil di festival-festival dunia dan mendapatkan perhatian penonton internasional. Sineas muda bermunculan dengan pendekatan cerita yang semakin matang, sementara kualitas teknis produksi terus mengalami peningkatan.
Namun menurut Donny, keberhasilan sebuah karya tidak selalu ditentukan oleh kualitas film semata. Ada persoalan distribusi, akses pasar, dan koneksi industri yang sering kali menjadi penghalang bagi banyak pembuat film.
Karena itulah keberadaan festival internasional menjadi penting. Festival berfungsi sebagai titik temu antara para kreator dengan para pemilik modal, distributor, platform streaming, hingga pengambil keputusan yang menentukan perjalanan sebuah film setelah selesai diproduksi.
Di banyak negara, festival film bahkan telah berkembang menjadi pusat transaksi industri kreatif. Film tidak hanya ditonton dan dinilai, tetapi juga diperjualbelikan, dipromosikan, dan dikembangkan menjadi berbagai proyek baru.
Dalam konteks tersebut, Balinale memiliki posisi yang semakin strategis. Festival yang digelar di Bali ini tidak hanya menghadirkan pemutaran film, tetapi juga berbagai forum industri yang mempertemukan pelaku perfilman Indonesia dengan jaringan internasional.
Menurut Donny, inilah jenis infrastruktur yang dibutuhkan industri film nasional saat ini. “Yang dibutuhkan sekarang adalah ruang pertemuan dan kesempatan untuk memperkenalkan karya-karya itu kepada dunia. Festival menjadi salah satu instrumen penting untuk mewujudkannya,” katanya.
Bali sendiri memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak kota lain di Indonesia. Nama pulau ini telah lama dikenal di berbagai belahan dunia, bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai tempat yang mampu menarik perhatian komunitas kreatif global.
Kombinasi antara daya tarik internasional Bali dan pertumbuhan industri kreatif Indonesia menciptakan peluang yang menarik. Ketika para pelaku industri film dunia datang ke Bali untuk menghadiri festival, mereka tidak hanya melihat keindahan alam atau budaya lokal. Mereka juga melihat potensi pasar, talenta, serta cerita-cerita baru yang dapat dikembangkan menjadi karya berskala global.
Donny melihat peluang tersebut semakin terbuka karena karakter cerita Indonesia memiliki keunikan yang mulai diminati audiens internasional.
Dunia perfilman saat ini sedang mencari narasi-narasi baru dari kawasan yang sebelumnya kurang mendapat sorotan. Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah yang semakin diperhatikan, seiring meningkatnya minat terhadap cerita yang lebih beragam dan autentik.
Indonesia, dengan kekayaan budaya dan kompleksitas sosialnya, memiliki sumber cerita yang hampir tidak terbatas. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana cerita-cerita tersebut bisa menemukan jalannya menuju pasar global.
Di sinilah festival film memainkan peran yang lebih besar daripada sekadar panggung apresiasi. Festival menjadi jembatan yang menghubungkan ide dengan peluang bisnis, kreativitas dengan investasi, serta talenta lokal dengan jaringan internasional.
Donny menilai banyak sineas muda Indonesia kini telah memiliki kemampuan teknis yang mampu bersaing di tingkat global. Mereka tidak hanya memahami aspek artistik pembuatan film, tetapi juga mampu menghadirkan narasi yang relevan bagi penonton lintas negara.
Persoalannya bukan lagi apakah Indonesia mampu menghasilkan film yang baik. Pertanyaannya adalah bagaimana memastikan film-film tersebut dapat ditemukan oleh dunia.
Karena itu, setiap forum diskusi, sesi pitching, dan percakapan informal yang berlangsung di sela-sela festival menjadi bagian penting dari proses membangun masa depan industri.
Posisi Balinale semakin penting karena festival ini menjadi satu-satunya festival film internasional di Indonesia yang memiliki kualifikasi Academy Awards untuk kategori Best Short Film. Status tersebut memberikan jalur yang lebih dekat bagi sineas Indonesia untuk memperoleh pengakuan dan eksposur di tingkat global.
Tahun ini Balinale mengusung tema Stories Worth Experiencing dengan menampilkan 94 film dari 38 negara, termasuk 20 world premiere, 10 international premiere, dan 26 Asian premiere. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia semakin masuk dalam radar komunitas perfilman internasional.
Bagi Donny, perkembangan perfilman Indonesia ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan industri membangun jejaring yang lebih luas.
“Perkembangan perfilman Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi film yang bagus, tetapi juga oleh kemampuan membangun jejaring dan kolaborasi internasional. Di situlah festival memiliki peran yang sangat penting,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus konten global, film Indonesia mungkin tidak lagi kekurangan cerita. Yang sedang dicari sekarang adalah pintu-pintu yang dapat membawa cerita itu melintasi batas negara. Dan di sebuah festival seperti Balinale, pintu-pintu itu mulai terbuka satu per satu. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.