Lamine Yamal dan Ekonomi Baru Sepak Bola: Saat Usia Lebih Berharga daripada Prestasi

Lamine Yamal dan Ekonomi Baru Sepak Bola: Saat Usia Lebih Berharga daripada Prestasi
Lamine Yaman. (Foto: Reuters)

Dulu, seringkali nilai pemain sepak bola ditentukan oleh prestasi. Kini tidak lagi. Dalam ekonomi sepak bola modern, pasar tidak membeli apa yang sudah dicapai seorang pemain. Pasar membeli apa yang mungkin akan ia capai lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Karena itulah Lamine Yamal, yang baru berusia 18 tahun, dinilai mencapai £309,4 juta atau sekitar Rp6,8 triliun — lebih dari dua kali lipat nilai Kylian Mbappé (kini 27 tahun) yang sudah memenangkan Piala Dunia (saat berusia 19 tahun) dan menjadi salah satu pemain terbaik generasinya.

Fenomena tersebut menunjukkan perubahan besar dalam cara industri sepak bola menilai aset. Klub tidak lagi sekadar menghitung jumlah gol atau trofi. Mereka memperhitungkan usia, panjang kontrak, potensi komersial, kemampuan berkembang, hingga kemungkinan menghasilkan keuntungan transfer di masa depan.

Dalam model yang digunakan Football Observatory, usia menjadi faktor yang sangat menentukan. Yamal memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Mbappé: waktu. Ia berpotensi memberikan kontribusi selama satu dekade lebih di level tertinggi sepak bola dunia. Itulah sebabnya valuasinya melampaui hampir semua pemain lain di planet ini.

Di bawah Yamal terdapat Erling Haaland dengan nilai £196,4 juta. Meski produktivitas golnya luar biasa, usia pemain Manchester City yang menginjak 25 tahun membuat nilai ekonominya tidak lagi setinggi pemain yang baru memasuki masa awal karier. Kontrak jangka panjang hingga 2034 membantu menjaga nilainya tetap tinggi, tetapi tidak cukup untuk mendekati Yamal.

Yang menarik, daftar ini juga mengungkap bagaimana klub-klub kini berfungsi layaknya perusahaan investasi. Bournemouth, misalnya, muncul sebagai anomali. Klub yang tidak memiliki kekuatan finansial seperti Manchester City atau Real Madrid ternyata memiliki dua aset bernilai tinggi: Rayan Vitor Simplício Rocha dan Junior Kroupi. Kedua pemain berusia 19 tahun ini dipandang sebagai investasi masa depan yang berpotensi menghasilkan keuntungan besar jika dijual dalam beberapa tahun mendatang.

Junior Kroupi. (Foto: BBC/Getty Images)
Junior Kroupi. (Foto: BBC/Getty Images)

Fenomena ini mencerminkan transformasi model bisnis sepak bola Eropa. Klub-klub menengah tidak lagi hanya mengejar prestasi di lapangan. Mereka membangun mesin pencetak nilai melalui identifikasi, pengembangan, dan penjualan talenta muda.

Daftar tersebut juga menghadirkan sejumlah kejutan. Morgan Rogers (23 tahun) dan Nico O'Reilly (21 tahun) dinilai lebih tinggi daripada Jude Bellingham (23 tahun), salah satu gelandang terbaik dunia saat ini. Sementara Declan Rice (27 tahun), yang dibeli Arsenal seharga £105 juta pada 2023, kini hanya diperkirakan bernilai £65,7 juta.

Hal itu menunjukkan bahwa harga transfer dan valuasi pasar bukanlah hal yang sama. Harga transfer mencerminkan kondisi saat transaksi terjadi. Valuasi mencerminkan nilai ekonomi pemain pada saat ini berdasarkan berbagai variabel yang terus berubah.

Di balik angka-angka fantastis tersebut, terdapat realitas yang lebih besar. Sepak bola modern telah berkembang menjadi industri investasi global. Pemain tidak lagi hanya dianggap sebagai atlet, melainkan aset strategis yang nilainya dapat naik atau turun layaknya saham perusahaan teknologi.

Dan untuk saat ini, tidak ada aset yang lebih berharga daripada seorang remaja Barcelona bernama Lamine Yamal. Di usia 18 tahun, ia bukan hanya simbol masa depan sepak bola. Ia adalah simbol bagaimana ekonomi sepak bola modern bekerja. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag