BYD di Persimpangan: Saat Raja Mobil Listrik Diuji Era AI

Setelah menyalip Tesla dalam penjualan kendaraan listrik, BYD menghadapi ujian berikutnya: mempertahankan dominasi di tengah persaingan yang semakin ditentukan oleh software dan AI. (Istimewa)
Setelah menyalip Tesla dalam penjualan kendaraan listrik, BYD menghadapi ujian berikutnya: mempertahankan dominasi di tengah persaingan yang semakin ditentukan oleh software dan AI. (Istimewa)

Selama lebih dari satu dekade, BYD menjadi simbol kebangkitan industri kendaraan listrik China. Perusahaan yang bermula sebagai produsen baterai itu berhasil membangun kerajaan otomotif dengan filosofi yang sederhana tetapi sulit ditiru: mengendalikan hampir seluruh rantai nilai produksi sendiri.

Penurunan

Dari pengolahan lithium, pembuatan baterai, produksi kendaraan, pengembangan semikonduktor, hingga kecerdasan buatan, sebagian besar teknologi inti BYD dibangun secara internal. Strategi integrasi vertikal tersebut menjadikan perusahaan lebih efisien dibanding banyak pesaingnya dan mampu memproduksi mobil listrik berkualitas dengan harga yang relatif terjangkau.

Hasilnya luar biasa. Pendapatan BYD melonjak hampir sepuluh kali lipat dalam satu dekade terakhir. Pada 2025, perusahaan yang dipimpin Wang Chuanfu itu menjual lebih banyak kendaraan listrik dibanding Tesla dan memperkokoh posisinya sebagai produsen EV terbesar di dunia.

Namun, sejumlah indikator mulai menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan BYD tidak lagi melaju secepat sebelumnya. Menurut laporan Reuters (27/3/2026), BYD mencatat penurunan laba tahunan untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Pelemahan tersebut terjadi di tengah perang harga yang semakin brutal di pasar kendaraan listrik China, yang memaksa hampir seluruh produsen memangkas harga demi mempertahankan pangsa pasar.

Data S&P Global menunjukkan laba operasional BYD mencapai sekitar US$6,8 miliar pada 2024 sebelum turun menjadi sekitar US$4,7 miliar pada 2025. Penurunan tersebut menandai berakhirnya periode pertumbuhan profit yang hampir tanpa hambatan selama beberapa tahun terakhir.

Laba operasi BYD 2015-2025

Tekanan tidak hanya datang dari sisi profitabilitas. Reuters (2/6/2026) melaporkan bahwa hingga April 2026 penjualan BYD mengalami penurunan secara tahunan selama delapan bulan berturut-turut. Bahkan pada dua bulan pertama 2026, Geely sempat mengakhiri dominasi BYD sebagai produsen kendaraan listrik terlaris di China sebelum perusahaan itu kembali merebut posisi puncak.

Perubahan lanskap industri menjadi salah satu penyebab utama. Jika satu dekade lalu persaingan ditentukan oleh baterai, kapasitas produksi, dan efisiensi rantai pasok, kini perhatian konsumen mulai bergeser ke perangkat lunak, kecerdasan buatan, dan teknologi mengemudi otonom.

Pembeli kendaraan listrik generasi baru tidak hanya membandingkan jarak tempuh baterai atau performa motor listrik. Mereka juga menilai kualitas sistem hiburan, kecanggihan antarmuka digital, kemampuan asisten suara berbasis AI, serta fitur bantuan mengemudi yang semakin mendekati kendaraan otonom.

Dikejar pesaing

Di sinilah kompetisi baru dimulai. Perusahaan seperti Xpeng dan Li Auto sejak awal dibangun oleh para entrepreneur teknologi yang memiliki DNA perangkat lunak. Produsen otomotif konvensional pun mulai menjalin aliansi dengan perusahaan teknologi untuk mempercepat inovasi.

Volkswagen, misalnya, menggandeng Xpeng untuk memperkuat kemampuan perangkat lunaknya. Huawei kini memasok sistem digital dan teknologi kendaraan pintar kepada sejumlah produsen mobil China. Geely bekerja sama dengan startup AI StepFun untuk mengembangkan teknologi mengemudi otonom dan dengan iFlytek untuk sistem pengenalan suara.

Sebaliknya, BYD tetap mempertahankan pendekatan integrasi vertikal yang menjadi ciri khasnya. Perusahaan lebih memilih mengembangkan teknologi sendiri dibanding mengandalkan mitra eksternal.

Strategi tersebut memberi BYD kendali penuh atas teknologi inti. Namun pendekatan yang sama juga menciptakan risiko baru. Ketika perkembangan teknologi bergerak sangat cepat, perusahaan harus menanggung sendiri seluruh biaya penelitian, pengembangan, dan penyempurnaan sistem.

Area yang paling banyak mendapat sorotan adalah teknologi mengemudi otonom. Menurut laporan The Economist (6/6/2026), sejumlah pesaing menilai BYD terlalu cepat menerapkan sistem bantuan mengemudi ke berbagai model kendaraan, termasuk model yang lebih murah, sebelum teknologinya benar-benar matang.

Persaingan di sektor ini semakin penting karena mobil listrik perlahan berubah menjadi produk teknologi. Nilai tambah tidak lagi hanya berasal dari mesin dan baterai, tetapi juga dari kemampuan perangkat lunak yang terus diperbarui melalui konektivitas digital.

Padahal selama ini baterai merupakan benteng utama BYD. Perusahaan bahkan baru-baru ini memperkenalkan teknologi pengisian daya ultra-cepat yang diklaim mampu mengisi baterai hingga mendekati penuh dalam waktu sekitar sepuluh menit.

Namun keunggulan tersebut semakin sulit dipertahankan secara eksklusif. CATL, produsen baterai terbesar dunia, terus mengejar dan mereplikasi berbagai terobosan yang sebelumnya menjadi keunggulan kompetitif BYD.

Persaingan industri baterai kendaraan listrik global semakin memanas. CATL dan BYD asal China kini menguasai lebih dari separuh pasar baterai EV dunia pada 2025. (Foto: REUTERS/Kevin Krolicki)
Persaingan industri baterai kendaraan listrik global semakin memanas. CATL terus menghimpit BYD. (Foto: REUTERS/Kevin Krolicki)

Bukan jaminan

Di sisi lain, ekspansi global BYD terus berlanjut. Reuters (22/5/2026) melaporkan bahwa pada Mei 2025 BYD untuk pertama kalinya berhasil mengungguli Tesla dalam penjualan kendaraan listrik murni di pasar Eropa, sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa produsen China semakin mampu menembus pasar yang selama ini didominasi merek Barat.

Skala bisnis perusahaan juga terus membesar. Associated Press (25/3/2026) melaporkan bahwa pendapatan BYD pada 2024 mencapai 777,1 miliar yuan atau sekitar US$107 miliar, melampaui pendapatan Tesla yang tercatat sebesar US$97,7 miliar pada periode yang sama.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa BYD masih merupakan salah satu perusahaan otomotif paling kuat di dunia. Namun kekuatan yang membawanya ke puncak belum tentu menjadi jaminan untuk memenangkan kompetisi berikutnya.

Pertanyaan terbesar bagi BYD kini bukan lagi apakah perusahaan mampu memproduksi baterai terbaik atau kendaraan listrik termurah. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah model integrasi vertikal yang selama ini menjadi sumber keunggulan dapat tetap relevan ketika masa depan industri semakin ditentukan oleh perangkat lunak, kecerdasan buatan, dan kolaborasi teknologi.

Jika era pertama kendaraan listrik ditentukan oleh siapa yang mampu membuat baterai terbaik, maka era berikutnya kemungkinan akan ditentukan oleh siapa yang mampu membangun sistem operasi terbaik untuk mobil. Dan di arena baru itulah dominasi BYD sedang diuji. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag