Blue Phoenix Pacu Transformasi WGSH Menuju Holding Teknologi Berbasis Ekonomi Sirkular

Ikin Wirawan Komisaris Utama PT Wira Global Solusi Tbk. (Tengah). (Foto: Darandono/SWA)

Mengubah limbah menjadi nilai ekonomi merupakan esensi dari Blue Phoenix, inisiatif ekonomi sirkular yang dikembangkan PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH).

Berfokus pada pengolahan dan perdagangan material daur ulang berbasis plastik PET, proyek ini menjadi bukti bagaimana Perseroan menggabungkan strategi diversifikasi usaha dengan komitmen menciptakan dampak positif bagi lingkungan.

Blue Phoenix melalui PT Qorser Teknologi bergerak di perdagangan PET flakes sebagai bahan baku daur ulang, memanfaatkan tingginya permintaan industri terhadap material ramah lingkungan sekaligus mendukung pengurangan limbah plastik.

Di sisi inovasi, WGSH mengembangkan startup Lungpat yang menggabungkan kendaraan listrik, IoT, dan reverse vending machine untuk menciptakan sistem pengumpulan sampah plastik yang lebih efisien, terukur, dan bernilai ekonomi.

Komisaris Utama Wira Global Solusi, Ikin Wirawan, mengatakan perseroan memandang masa depan bisnis tidak semata ditentukan oleh kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga oleh kontribusinya dalam menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Berangkat dari keyakinan tersebut, WGSH mengembangkan Blue Phoenix sebagai platform yang mengintegrasikan aspek bisnis, teknologi, dan keberlanjutan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Saat ini WHSH bekerja sama dengan pabrik yang memiliki fasilitas pengolahan PET berteknologi tinggi. Setelah sampah plastik diolah menjadi PET flakes, material tersebut masih harus melalui proses lanjutan, mulai dari pemurnian, pembentukan butiran plastik daur ulang (rPET pellets), hingga peningkatan kualitas agar memenuhi standar industri makanan dan minuman (food grade).

Menurut Ikin bila harus Investasi untuk membangun fasilitas pengolahan tersebut dari kondisi baru diperkirakan mencapai sekitar Rp400 miliar. Di Indonesia, jumlah perusahaan yang memiliki teknologi serupa masih sangat terbatas, sehingga prospek pasar dinilai sangat besar.

“Tantangan utama justru berada di sisi pasokan bahan baku. Ketersediaan sampah plastik masih menjadi kendala, sementara dari sisi permintaan, kebutuhan industri terhadap material daur ulang terus tinggi,” kata Ikin.

Saat ini, kapasitas perdagangan perusahaan mencapai sekitar 1.200 ton PET flakes per bulan. Dengan margin sekitar Rp1.000 per kilogram, bisnis perdagangan ini sudah mampu menghasilkan potensi keuntungan yang menarik.

Dengan strategi integrasi dari hulu hingga hilir tersebut, perusahaan meyakini kontribusi bisnis akan semakin signifikan. Blue Phoenix ditargetkan mampu menghasilkan pendapatan berulang (recurring revenue) sebesar Rp 100 miliar-Rp200 miliar per tahun.

Langkah ini diharapkan semakin memperkuat posisi WGSH sebagai perusahaan holding berbasis teknologi yang aktif mendorong transformasi menuju ekonomi hijau.

Ikin menambahkan, Blue Phoenix merupakan salah satu dari sejumlah proyek strategis yang tengah dikembangkan WGSH.

Selain itu, Perseroan juga menggarap inisiatif lain, termasuk Landlogic dan Tumbara, sebagai bagian dari upaya diversifikasi bisnis berbasis teknologi dan keberlanjutan.

Dari sisi finansial, Blue Phoenix diproyeksikan menjadi salah satu kontributor pendapatan terbesar dalam portofolio WGSH.

Pertumbuhan kapasitas perdagangan material daur ulang, didukung tingginya permintaan industri terhadap bahan baku ramah lingkungan, membuka peluang ekspansi yang kuat dengan siklus perputaran kas yang relatif cepat.

Dari aspek ESG, Blue Phoenix berperan dalam mendorong ekonomi sirkular melalui pemanfaatan rPET yang menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan plastik berbahan baku baru.

“Inisiatif ini tidak hanya membantu mengurangi limbah plastik, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat,” kata Ikin.

Selain memperbesar skala bisnis, Perseroan juga berencana memperluas rantai nilai Blue Phoenix ke sektor hulu melalui pengumpulan sampah dan ke sektor hilir lewat pengembangan produk berbasis material daur ulang.

Strategi ini diharapkan memperkuat posisi WGSH sebagai holding berbasis teknologi yang berperan aktif dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau.

Ke depan, melalui aksi korporasi dan tambahan pendanaan, perusahaan berpeluang memperluas bisnis ke sektor hilir, termasuk industri air minum dalam kemasan berbahan daur ulang (rPET), sekaligus memperkuat rantai pasok di sisi hulu untuk memperoleh bahan baku dengan biaya yang lebih efisien.

Harga saham WGSH pada jeda sesi pertama di perdagangan hari ini naik sebesar 10% atau menjadi Rp132 dari perdagangan sebelumnya.(*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag