Raymond Tjandrawinata, Dari Laboratorium NASA hingga Bertengger di Jajaran Top Ilmuwan Global

Raymond Tjandrawinata, Dari Laboratorium NASA hingga  Bertengger di Jajaran Top Ilmuwan Global
Farmakolog molekuler PT Dexa Medica, Prof. Raymond Tjandrawinata. (Foto : Istimewa).

Farmakolog molekuler PT Dexa Medica, Prof. Raymond Tjandrawinata masuk dalam jajaran Top 5% (persen) Scientist Globally versi SciRank Global Database. Pengakuan tersebut diberikan setelah SciRank menganalisis lebih dari 8 juta peneliti, 20 juta karya ilmiah, dan data akademik dari lebih dari 150 negara.

“Pengakuan ini saya terima dengan penuh syukur. Di balik setiap publikasi, paten, dan pencapaian ilmiah, ada kerja keras banyak peneliti, kolaborator, dan mentor yang berjalan bersama selama bertahun-tahun. Bagi saya, tujuan utama riset adalah menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia,” ungkap Raymond pada siaran pers di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

SciRank merupakan platform pemeringkatan ilmiah global yang mengevaluasi jutaan peneliti dari berbagai negara berdasarkan dampak dan produktivitas karya ilmiah mereka. Pemeringkatan dilakukan dengan menganalisis berbagai indikator bibliometrik, termasuk publikasi, sitasi, dampak penelitian, dan pengaruh akademik dalam komunitas ilmiah global. Pada pendekatan berbasis data tersebut, SciRank memberikan gambaran mengenai posisi dan kontribusi seorang peneliti dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia, sekaligus menjadi salah satu referensi untuk mengukur daya saing riset di tingkat internasional.

Pencapaian terbaru ini melengkapi deretan pengakuan internasional yang telah diterima Raymond selama lebih dari tiga dekade berkarier di bidang biomedis, farmakologi molekuler, dan inovasi farmasi. Pada AD Scientific Index 2026, ia tercatat sebagai peneliti peringkat top 3. Di balik berbagai peringkat tersebut terdapat rekam jejak ilmiah yang panjang. Pada awal 1990-an, Raymond terlibat dalam proyek Spacelab Life Sciences milik NASA yang meneliti dampak mikrogravitasi terhadap tubuh manusia. Saat para ilmuwan dunia berupaya memahami bagaimana astronot kehilangan massa tulang selama berada di luar angkasa, ia menjadi bagian dari tim yang mencari jawabannya. Pengalaman tersebut membuka akses terhadap ekosistem riset kelas dunia.

Namun, justru setelah merasakan atmosfer penelitian internasional, Raymond melihat potensi riset di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain: biodiversitas yang sangat kaya dan belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber inovasi kesehatan. Keyakinan itulah yang kemudian membawanya bergabung dengan Dexa Medica.

Pada saat banyak perusahaan farmasi nasional masih berfokus pada produksi obat, Raymond mendorong penguatan riset sebagai fondasi utama inovasi. Melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) di PT Dexa Medica, ia dsn tim peneliti mengeksplorasi kekayaan hayati Indonesia untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan berbasis bukti ilmiah.

Perjalanan tersebut tidak berlangsung singkat. Dibutuhkan bertahun-tahun penelitian, pengujian, validasi ilmiah, hingga proses registrasi sebelum sebuah inovasi dapat digunakan masyarakat. Namun konsistensi itu menghasilkan berbagai terobosan yang kemudian dikenal sebagai Obat Modern Alami Integratif (OMAI). Produk-produk tersebut lahir dari penelitian terhadap biodiversitas Indonesia yang dipadukan dengan pendekatan farmakologi molekuler modern.

Jejak ilmiahnya pun terus bertambah. Hingga saat ini, Raymond telah menghasilkan lebih dari 400 publikasi ilmiah internasional. Karyanya telah memperoleh lebih dari 5.300 sitasi dari peneliti di berbagai negara. Dalam lima tahun terakhir saja, lebih dari 2.800 sitasi baru tercatat, menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukannya masih terus menjadi rujukan bagi komunitas ilmiah global.

Produktivitas tersebut juga tercermin dari indikator akademik yang banyak digunakan dunia riset. AD Scientific Index 2026 mencatat Raymond memiliki H-index 37 dan i10-index 112. Pada pemeringkatan yang sama, ia menempati posisi ketiga Indonesia untuk bidang Pharmacy & Pharmaceutical Sciences serta peringkat ke-19 nasional untuk bidang Medical and Health Sciences.

Di luar publikasi ilmiah, kontribusinya juga terlihat dari inovasi yang berhasil diterjemahkan menjadi kekayaan intelektual. Hingga kini, Prof. Raymond tercatat memiliki 64 paten yang terdaftar di Indonesia maupun berbagai negara lain. Sebagian di antaranya iti telah menjadi dasar pengembangan produk yang dipasarkan di dalam maupun luar negeri. Pengakuan atas kontribusi tersebut terus berdatangan. Pada 2026, Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) menganugerahkan penghargaan kepadanya sebagai peneliti Indonesia dengan publikasi Scopus dan paten terbanyak di bidang biomedis interdisipliner.

Penghargaan itu menegaskan bahwa produktivitas ilmiah dapat berjalan beriringan dengan inovasi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Menariknya, perjalanan akademikRaymond belum berhenti. Di tengah kesibukannya sebagai Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica, ia masih aktif meneliti dan melanjutkan studi doktoral di bidang hukum. Fokus kajiannya berkaitan dengan hak kekayaan intelektual, regulasi kesehatan, dan inovasi farmasi.

Baginya, ilmu pengetahuan, regulasi, dan akses masyarakat terhadap teknologi kesehatan merupakan bagian dari ekosistem yang saling terkait. Masuknya Raymond Tjandrawinata ke dalam kelompok Top 5% ilmuwan dunia menjadi pengingat bahwa inovasi besar sering kali berawal dari keputusan yang sederhana: memilih pulang, membangun, dan bertahan. Dari laboratorium NASA hingga pengembangan fitofarmaka berbasis biodiversitas Indonesia, perjalanan itu menunjukkan bahwa sains yang lahir di Indonesia mampu berbicara di panggung global.

Terbaru di tahun 2026 ini, Raymond menerbitkan buku dalam dua bahasa yakni Indonesia dan Inggris berjudul System Shift: Reading the World as Structure in Motion. Dalam buku ini, Raymond memperkenalkan sebuah kerangka baru untuk membaca perubahan dunia dan melihat bahwa perubahan besar hampir tidak pernah terjadi secara mendadak. Sebuah sudut pandang yang relevan dengan kondisi dunia saat ini, di tengah meningkatnya ketidakpastian global, fragmentasi geopolitik, percepatan kecerdasan buatan, krisis institusi, dan tekanan ekonomi yang muncul hampir bersamaan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag