ABL Group: Mengawal Ekspansi Bisnis dengan Menyiapkan Talenta Unggul
Mulai beroperasi pada 2011 sebagai perusahaan pelayaran dan logistik yang berfokus pada pengangkutan produk-produk komoditas, Asian Bulk Logistics Group (ABL Group) sukses bertransformasi menjadi penyedia solusi logistik dan infrastruktur terintegrasi. Perusahaan ini terus berekspansi tidak saja di dalam negeri, tetapi juga merambah Australia, Singapura, Dubai, hingga Afrika Barat melalui strategi merger dan akuisisi.
Saat ini ABL mengoperasikan lebih dari 100 kapal, meliputi: 15 cargo transfer ships (CTS), 11 kapal ocean-going yang terdiri dari kapal dry bulk carrier dan tanker, lebih dari 57 armada tongkang, dua landing craft tank (LCT), dua accommodation barge, 14 kapal tug assist, sekitar 20.000 kontainer, dan lebih dari 35 unit alat berat.
Periode 2025–2026, ABL menyelesaikan akuisisi perusahaan di Perth, Australia, yaitu Transhipment Service Australia (TSA). Dengan akuisisi ini, ABL berhasil menambah satu CTS, enam armada tongkang, dua kapal crew transfer, dan satu kapal self-propelled ke dalam portofolio operasional.
Masih di Australia, ABL juga telah menyelesaikan akuisisi SCF Containers yang berbasis di Adelaide pada Desember 2025. Akuisisi TSA dan SCF secara signifikan memperkuat jejak bisnis ABL di Benua Kanguru yang sebelumnya (2023–2024) juga mengakuisisi One Rail Australia (ORA), perusahaan kereta api logistik yang memiliki 54 lokomotif, 1.596 gerbong, dan dua fasilitas maintenance khusus.
Integrasi SCF ke dalam ABL Group membuka peluang besar untuk memperluas basis pelanggan, meningkatkan ragam solusi layanan, serta menghadirkan solusi logistik end-to-end yang lebih komprehensif guna mendukung pertumbuhan jangka panjang dan penciptaan nilai perusahaan.
Pertumbuhan bisnis yang melaju cepat tersebut menuntut kesiapan organisasi dan talenta yang mampu bergerak lincah dalam skala global. Karena itu, ABL Group membangun strategi human capital yang terintegrasi (people roadmap) yang mencakup: mengadakan Leadership Development Programs untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin yang lincah dan menjunjung nilai-nilai perusahaan; memperkuat Employee Value Proposition (EVP); melakukan Talent Management dengan salah satu program Global Talent Mobility; menjalankan Organization Development dengan menyiapkan pemimpin dari dalam; dan mengoptimalisasi teknologi untuk meningkatkan employee experience.
Menurut Hermawan, Chief Human Resources Officer ABL Group, pertumbuhan bisnis yang agresif tidak mungkin dicapai tanpa kesiapan talenta dan organisasi yang kuat. Karena itu, bagian HR di ABL Group diposisikan sebagai strategic business partner yang ikut mengawal arah pertumbuhan perusahaan.
Membangun piramida pengembangan talenta
Salah satu fokus utama strategi HR di ABL Group ialah menyiapkan talenta-talenta unggul untuk mendukung ekspansi bisnis. Untuk itu, ABL mengembangkan framework human capital yang dirancang selaras dengan roadmap bisnis jangka panjang.
ABL Group membangun piramida pengembangan talenta mulai dari level entry hingga C-level. Setiap jenjang memiliki standar kompetensi, sertifikasi, dan program pengembangan yang berbeda.
Di level awal, perusahaan menjalankan Graduate Development Program (GDP), bekerja sama dengan institusi pendidikan seperti Prasetiya Mulya, untuk memperkuat aspek soft skills dan mentoring. Sementara untuk kompetensi teknis di industri marine dan pelayaran, ABL Group menggandeng institusi seperti STIP Jakarta dan sekolah pelayaran lainnya.
“Kompetensi teknis menjadi sangat penting karena industri marine memiliki kebutuhan khusus,” kata Hermawan kepada SWA.
Di level manajerial, perusahaan menjalankan Executive Competency Development Program (ECDP). Program ini dirancang sebagai inkubator bisnis bagi para future leader untuk mengembangkan kemampuan analisis bisnis, seperti analisis layak-tidaknya potensi bisnis untuk diakuisisi. Sebagai bagian dari penguatan intuisi bisnis, peserta ECDP juga mengikuti Mini MBA, bekerja sama dengan SBM ITB.
Di level eksekutif dan C-level, pengembangan dilakukan melalui program internasional bersama institusi global seperti Oxford, INSEAD, dan Stanford. “Komitmen grup CEO kami adalah berinvestasi sebanyak mungkin untuk talent karena mereka adalah masa depan perusahaan,” Hermawan menandaskan.
Selain pembelajaran konvensional, ABL Group juga mulai mengintegrasikan platform digital learning agar proses pembelajaran dapat diakses lintas negara dan lintas unit bisnis.
Siapkan talenta untuk ekspansi global
Ekspansi internasional ABL Group mendorong perusahaan membangun program Global Talent Mobility (GTM). Program ini menjadi salah satu strategi penting untuk menyiapkan talenta Indonesia agar mampu bekerja dan memimpin di level global. Melalui GTM, ABL Group menempatkan talenta-talenta terbaik ke berbagai entitas bisnis di luar negeri, terutama setelah proses merger dan akuisisi.
Perusahaan menjalankan proses seleksi yang ketat melalui talent mapping, asesmen bersama konsultan pihak ketiga, hingga komite BOD. Kandidat yang lolos kemudian mengikuti program grooming selama tiga bulan sebelum ditempatkan.
Program persiapan tersebut mencakup pelatihan bahasa, cross-cultural training, hingga simulasi komunikasi dengan tim di negara tujuan melalui sesi virtual rutin. “Harapan kami, mereka tidak hanya berhasil bekerja di luar negeri, tetapi juga mampu membawa misi perusahaan secara global,” kata Hermawan.
Reward management untuk menarik dan mempertahankan talenta
Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, ABL Group menyadari bahwa strategi kompensasi menjadi faktor penting dalam memenangi persaingan talenta.
Menurut Hermawan, positioning kompensasi ABL Group saat ini berada pada level P50 market, bahkan setara dengan industri pertambangan. “Kompensasi kami berada di atas industri logistik dan similar dengan mining industry. Ini menjadi strong point untuk attract potential talent,” katanya.
Selain annual bonus, perusahaan juga memberikan quarterly incentive berbasis pencapaian produksi. Sistem ini dirancang untuk menjaga motivasi karyawan agar terus bergairah dalam bekerja.
ABL Group juga mengadopsi pola kerja hybrid dengan skema tiga hari work from office dan dua hari work from home. Bahkan, untuk fungsi-fungsi tertentu seperti komersial, perusahaan memberikan fleksibilitas kerja dari berbagai lokasi.
Menjaga engagement melalui wellbeing management
ABL Group memandang wellbeing bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian dari strategi menjaga produktivitas dan employee engagement. Perusahaan membangun berbagai program wellbeing berbasis tiga pilar utama yang terintegrasi dengan budaya perusahaan dan sustainability agenda.
Di area kerja, perusahaan menyediakan berbagai fasilitas olahraga, seperti gym, basket, hingga meja multifungsi yang dapat digunakan untuk aktivitas rekreasi seperti pingpong. Selain physical wellbeing, perusahaan pun aktif menjalankan program emotional & spiritual wellbeing melalui kegiatan keagamaan, employee engagement, dan aktivitas sosial.
ABL Group juga mendorong keberagaman dan kepemimpinan perempuan di lingkungan kerja. Perusahaan menargetkan komposisi gender yang lebih seimbang dan aktif menyiapkan talenta perempuan untuk posisi kepemimpinan.
“Kami mendorong para wanita untuk bisa memimpin di organisasi kami. Bahkan, Dirut kami saat ini adalah perempuan,” kata Hermawan.
HR sebagai penggerak transformasi bisnis
Bagi ABL Group, pengelolaan SDM bukan hanya soal administrasi ketenagakerjaan, tetapi bagaimana menciptakan organisasi yang resilient, agile, dan siap mendukung ekspansi global.
Melalui kombinasi learning & development yang terstruktur, reward management yang kompetitif, talent mobility internasional, serta wellbeing management yang kuat, ABL Group berupaya membangun pipeline talenta unggul untuk menopang pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Di tengah transformasi industri dan ekspansi lintas negara, perusahaan percaya bahwa investasi terbesar tetap berada pada manusia yang menjalankan bisnis tersebut. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.