Bos FIFA Buka Suara Tentang Harga Tiket Piala Dunia 2026

Presiden FIFA Gianni Infantino (Foto: Instagram @gianni_infantino)
Presiden FIFA Gianni Infantino. (Foto: Instagram @gianni_infantino)

Kritik terhadap mahalnya harga tiket Piala Dunia 2026 terus menjadi perbincangan publik menjelang kick-off turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut. Menanggapi gelombang keluhan dari para penggemar, Presiden FIFA Gianni Infantino akhirnya angkat bicara dan menegaskan bahwa kebijakan harga yang diterapkan telah melalui berbagai pertimbangan.

Sehari sebelum upacara pembukaan Piala Dunia 2026, Infantino menepis anggapan bahwa FIFA menetapkan harga tiket secara berlebihan. Menurutnya, skema harga yang berlaku sejalan dengan mekanisme pasar yang lazim diterapkan dalam industri olahraga dan hiburan di Amerika Utara.

"Jika kami melakukan kesalahan dalam menentukan harga tiket, maka mungkin semua pihak yang menjual tiket di Amerika Utara juga melakukan kesalahan," kata Infantino dilansir dari Reuters, Kamis (11/6/2026).

Harga tiket Piala Dunia 2026 memang menjadi sorotan karena mengalami lonjakan signifikan seiring meningkatnya fase pertandingan. Untuk laga fase grup, tiket dibanderol mulai sekitar US$140 atau setara Rp2,5 juta. Namun, harga tersebut meningkat tajam pada babak-babak berikutnya.

Puncaknya, tiket kategori reguler untuk partai final dipasarkan hingga US$8.680 atau sekitar Rp156 juta. Sementara itu, tiket kelas VVIP dibanderol mencapai US$73.200 atau sekitar Rp1,3 miliar, menjadikannya salah satu tiket pertandingan olahraga termahal dalam sejarah.

Di tengah derasnya kritik, FIFA kemudian melakukan penyesuaian dengan menyediakan tiket final mulai dari US$60 atau sekitar Rp1 juta bagi suporter tim nasional yang berhasil melaju ke partai puncak.

Infantino menjelaskan bahwa strategi penetapan harga tinggi juga bertujuan menekan praktik spekulasi dan penjualan kembali tiket di pasar sekunder. Menurutnya, harga yang terlalu rendah justru berpotensi dimanfaatkan oleh para calo untuk memperoleh keuntungan besar.

"Jika tiket dijual lebih murah, maka kemungkinan besar akan dijual kembali di pasar sekunder dengan harga jauh lebih tinggi. Uang itu tidak akan kembali ke sepak bola, melainkan masuk ke kantong para pelaku pasar gelap," ujarnya.

Selain isu harga, FIFA juga menghadapi sorotan dari otoritas hukum di Amerika Serikat. Jaksa Agung di California, New Jersey, New York, dan Texas diketahui tengah melakukan penyelidikan terkait sistem penjualan tiket Piala Dunia 2026.

Meski demikian, Infantino mengaku tidak khawatir. Ia menegaskan FIFA telah menjalankan proses verifikasi dan pemeriksaan hukum secara menyeluruh sebelum memasarkan sekitar 7 juta tiket untuk turnamen tersebut.

"Kami telah melakukan pemeriksaan yang sangat ketat bersama para penasihat hukum terbaik sebelum penjualan tiket dilakukan," kata dia.

Piala Dunia 2026 resmi dimulai pada Jumat (12/6/2026) dini hari WIB. Pertandingan pembuka mempertemukan Meksiko dan Afrika Selatan di Stadion Azteca, yang digelar sekitar 90 menit setelah upacara pembukaan berlangsung.

Di balik euforia turnamen, polemik harga tiket menjadi gambaran bagaimana industri olahraga global semakin bergerak ke arah premiumisasi pengalaman penonton. Bagi FIFA, harga tinggi dianggap sebagai konsekuensi dari tingginya permintaan dan nilai komersial ajang olahraga paling bergengsi di dunia tersebut. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag