Bali Tawarkan 22 Proyek Strategis kepada Investor Global
Bali Jagadhita VII 2026 yang berlangsung pada 5–7 Juni 2026 mencatat sejumlah capaian dalam penguatan sektor perdagangan, pariwisata, dan investasi di Bali. Kegiatan ini membukukan nilai transaksi penjualan dan potensi ekspor sebesar Rp30 miliar.
Selain itu, rangkaian kegiatan yang mengintegrasikan tiga pilar utama perekonomian Bali tersebut juga menghasilkan potensi kesepakatan bisnis sektor pariwisata Bali-Nusa Tenggara (Bali-Nusra) senilai Rp6,9 triliun serta memperluas promosi peluang investasi strategis di Bali dan Nusa Tenggara.
Bali Jagadhita diinisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Pemerintah Provinsi Bali, Kementerian UMKM, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, serta Dekranasda Provinsi Bali. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengatakan Bali Jagadhita merupakan program strategis yang mengintegrasikan perdagangan, pariwisata, dan investasi dalam satu ekosistem pengembangan ekonomi daerah.
“Bali Jagadhita diharapkan menjadi momentum penting dalam mendukung visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali sekaligus memberikan manfaat bagi kepentingan daerah dan nasional,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip, Minggu (14/6/2026).
Menurut Achris, Bali Jagadhita VII 2026 mempertemukan 22 pemilik proyek investasi di Bali dan Nusa Tenggara dengan enam duta besar negara sahabat serta 35 investor potensial. Kehadiran para duta besar dan perwakilan negara sahabat dinilai penting untuk memperluas jejaring kerja sama ekonomi dan investasi daerah.
Kegiatan ini juga mendorong perluasan akses pasar UMKM melalui berbagai program business matching. Salah satu capaian datang dari UMKM binaan Bank Indonesia Bali, Macha Home Living, yang mencatat potensi ekspor senilai Rp3,3 miliar ke sejumlah negara.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Bali Jagadhita yang kini memasuki tahun ketujuh. Menurutnya, forum tersebut terus berkembang baik dari sisi skala maupun keterlibatan para pemangku kepentingan.
Kolaborasi berbagai pihak menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang berkualitas dan berkelanjutan. Pemerintah Provinsi Bali, lanjutnya, tetap membuka peluang investasi yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kepentingan masyarakat, kelestarian budaya, dan lingkungan.
Sebagai bagian dari rangkaian Bali Jagadhita VII 2026, Bali Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 yang berlangsung pada 28–30 Mei 2026 melibatkan 286 seller dan 407 buyer dari 44 negara. Kegiatan tersebut menghasilkan potensi transaksi bisnis pariwisata sebesar Rp6,9 triliun.
Sementara itu, Bali Investment Forum 2026 menjadi sarana promosi proyek-proyek unggulan pemerintah daerah. Forum ini mempertemukan pemilik proyek investasi dengan investor potensial dan para duta besar negara sahabat guna memperluas peluang kerja sama ekonomi.
Asisten Gubernur Bank Indonesia, Rudy Brando Hutabarat, mengatakan Bali memiliki daya tarik investasi yang kuat karena mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Ia mengungkapkan ekonomi Bali tumbuh 5,58% pada kuartal I/2026 dan inflasi tetap terkendali pada level 2,91%.
“Bali merupakan destinasi investasi yang memiliki daya saing kuat, didukung pertumbuhan ekonomi yang solid, stabilitas harga yang terjaga, ekosistem pariwisata berkelas dunia, serta komitmen pemerintah daerah terhadap investasi yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Rudy.
Menurut Bank Indonesia, sinergi berbagai pihak melalui Bali Jagadhita diharapkan dapat terus menjadi katalisator lahirnya karya kreatif bernilai tambah tinggi, memperkuat daya saing UMKM, meningkatkan kebanggaan terhadap produk lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
22 proyek strategis ditawarkan kepada investor global
Kinerja investasi Bali menunjukkan tren yang semakin kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada kuartal I/2026, investasi di Bali tumbuh 6,78% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang sebesar 5,47%.
Investasi berkontribusi sekitar 28% terhadap perekonomian Bali, mempertegas perannya sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata. Sepanjang 2025, realisasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Bali mencapai Rp42,82 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 68 ribu orang.
Namun, tantangan pemerataan investasi masih menjadi pekerjaan rumah. Sebanyak 88% investasi masih terkonsentrasi di Bali Selatan, sementara 97% realisasi investasi berada di sektor tersier.
Untuk mendorong investasi yang lebih berkualitas dan merata, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali melalui Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana (PIKBS) menggelar Bali Jagadhita Investment Forum 2026.
Achris menjelaskan forum tersebut menghadirkan proyek-proyek siap ditawarkan (Investment Project Ready to Offer/IPRO) dari berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, hilirisasi industri, pariwisata, perdagangan, hingga sektor unggulan lainnya.
“Pendekatan kawasan Bali-Nusa Tenggara dilakukan untuk memperkuat konektivitas ekonomi regional dan menciptakan peluang investasi yang saling melengkapi antarwilayah,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan forum mencakup pameran proyek unggulan, pertemuan bisnis satu-satu (one-on-one business meeting) antara pemilik proyek dan calon investor, serta kunjungan lapangan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur yang merupakan KEK kesehatan pertama di Indonesia.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Bali, Ketut Sukra Negara, menegaskan Bali memiliki beragam peluang investasi yang terbuka bagi investor global. Menurutnya, selain didukung berbagai insentif pemerintah, Bali juga memiliki keunggulan sebagai destinasi yang telah dikenal luas di tingkat internasional.
Ia berharap forum tersebut dapat menjadi katalis bagi masuknya investasi yang tidak hanya besar dari sisi nilai, tetapi juga mampu mendorong transformasi ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Sebanyak 22 proyek investasi strategis hasil kurasi Bali Investment Challenge 2026 dipromosikan dalam forum tersebut. Beberapa di antaranya meliputi pengembangan KEK Kesehatan Sanur, proyek penerangan jalan, hingga pengadaan kendaraan listrik (electric vehicle). Seluruh proyek tersebut dihimpun dalam Katalog Investasi yang diserahkan kepada para delegasi dan perwakilan negara sahabat.
Forum ini diikuti lebih dari 35 calon investor dari berbagai negara. Sejumlah duta besar turut hadir, antara lain dari Bulgaria, Bahrain, Oman, Armenia, Pakistan, dan Rumania, bersama perwakilan konsulat serta atase perdagangan negara-negara sahabat.
Menurut Achris, publikasi katalog investasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses informasi bagi investor potensial sekaligus mempercepat realisasi investasi pada proyek-proyek strategis daerah.
Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Bali tumbuh 5,4%–5,9% sepanjang 2026. Prospek tersebut ditopang oleh inflasi yang terjaga, optimisme dunia usaha yang tetap kuat, dukungan insentif pemerintah, serta daya saing daerah yang terus meningkat.
Melalui Bali Jagadhita Investment Forum 2026, Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Bali berupaya memperluas akses investor terhadap proyek-proyek strategis, mendorong pemerataan investasi antardaerah, serta mempercepat transformasi ekonomi Bali menuju pertumbuhan yang lebih inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.