Pendapatan Maharaksa Biru Energi (OASA) Turun 51%, Rugi Menyusut Jadi Rp42,78 Miliar

Pendapatan Maharaksa Biru Energi (OASA) Turun 51%, Rugi Menyusut Jadi Rp42,78 Miliar
Aktivitas pembangunan proyek konstruksi yang dikerjakan PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (Foto: OASA)

PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) membukukan pendapatan usaha neto sebesar Rp32,58 miliar pada tahun buku 2025. Nilai tersebut turun 51,20% dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp66,77 miliar.

Berdasarkan keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (14/6/2026), penurunan pendapatan terutama disebabkan melemahnya kinerja segmen jasa konstruksi. Pendapatan dari segmen ini turun menjadi Rp23,72 miliar pada 2025, dari Rp47,46 miliar pada 2024.

Di sisi lain, pendapatan dari segmen penjualan barang meningkat menjadi Rp8,86 miliar pada 2025 dibandingkan Rp8,31 miliar pada 2024. Sementara itu, pendapatan dari jasa konsultasi pengelolaan limbah yang pada 2024 tercatat sebesar Rp11 miliar tidak lagi dibukukan pada 2025.

Perseroan mencatat dua pelanggan utama yang masing-masing menyumbang lebih dari 10% total pendapatan bersih tahun 2025, yakni PT Hutama Karya Infrastruktur sebesar Rp23,72 miliar dan PT Bakti Energi Sejahtera sebesar Rp8,86 miliar.

Pada 2024, kedua perusahaan tersebut juga menjadi kontributor utama dengan nilai masing-masing Rp23,19 miliar dan Rp8,19 miliar. Sebaliknya, KSO Abipraya-SBS-Silcon dan PT Majukarya Mandiri Indonesia yang pada 2024 masing-masing berkontribusi Rp20,50 miliar dan Rp11 miliar, tidak lagi tercatat sebagai pelanggan pada 2025.

OASA juga berhasil menekan beban pokok pendapatan sebesar 49,24% menjadi Rp27,17 miliar pada 2025, dari Rp53,53 miliar pada 2024.

Meski demikian, laba bruto turun 59,12% menjadi Rp5,41 miliar pada 2025 dibandingkan Rp13,24 miliar pada tahun sebelumnya.

Sejumlah beban tercatat meningkat. Beban usaha naik menjadi Rp49,08 miliar dari Rp46,66 miliar, sedangkan beban keuangan neto meningkat menjadi Rp3,22 miliar dari Rp3,02 miliar pada 2024.

Di sisi lain, pajak penghasilan final berhasil ditekan dari Rp1,41 miliar menjadi Rp628,64 juta. Kerugian selisih kurs neto juga turun dari Rp168,23 juta menjadi Rp77,39 juta. Adapun pos lain-lain neto mencatat keuntungan Rp7,38 miliar, berbalik dari rugi Rp31,28 miliar pada tahun sebelumnya.

Setelah memperhitungkan seluruh komponen tersebut, OASA membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp45,37 miliar pada 2025. Kerugian ini menyempit 28,55% dibandingkan rugi Rp63,50 miliar pada 2024.

Rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga menyusut 31,87% menjadi Rp42,78 miliar dari Rp62,80 miliar pada tahun sebelumnya.

Sejalan dengan itu, rugi per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk membaik menjadi Rp6,74 per saham pada 2025, dibandingkan rugi Rp9,89 per saham pada 2024.

Dari sisi neraca, total aset OASA turun 15,59% menjadi Rp621,56 miliar pada akhir 2025, dari Rp736,41 miliar pada akhir 2024.

Sementara itu, total liabilitas berhasil ditekan 52,29% menjadi Rp63,50 miliar dari Rp133,11 miliar.

Direktur PT Maharaksa Biru Energi Tbk, Soraya Inderasari, menjelaskan penurunan liabilitas tersebut berasal dari pembayaran sebagian utang lain-lain kepada pihak ketiga, pelunasan pinjaman bank jangka pendek yang tercatat dalam liabilitas jangka pendek, serta pengurangan utang pihak berelasi dalam liabilitas jangka panjang.

“Manajemen perseroan berpendapat bahwa perubahan jumlah liabilitas lebih dari 20% tersebut di atas tidak berdampak terhadap kinerja keuangan perseroan pada periode berjalan,” jelas Soraya dalam keterbukaan informasi BEI.

Di sisi lain, ekuitas perseroan turun sekitar 7% menjadi Rp558,06 miliar pada 2025, dibandingkan Rp603,29 miliar pada tahun sebelumnya.

Terkait prospek kelangsungan usaha, manajemen menyatakan keberlangsungan bisnis grup bergantung pada keberhasilan pelaksanaan proyek-proyek yang sedang dijalankan serta kemampuan menagih pengembalian piutang atas uang muka proyek yang telah dibatalkan.

Untuk mendukung keberlanjutan usaha, perseroan menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain memperkuat penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), memastikan pelaksanaan proyek berjalan sesuai rencana dan regulasi, menjajaki berbagai alternatif pendanaan, mencari peluang proyek baru yang prospektif, serta meningkatkan efisiensi operasional.

“Selain itu, Gafur Sulistyo Umar, pemegang saham terakhir grup, berkomitmen untuk memberikan dukungan keuangan kepada grup sehingga memungkinkan grup untuk memenuhi kewajiban jatuh tempo pada saat telah jatuh tempo,” jelas manajemen OASA. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag