Keunggulan AI Tidak Ditentukan Teknologi, Melainkan Cara Organisasi Menggunakannya

AI Leadership Exchange 2026, mempertemukan pemimpin teknologi pelaku bisnis dan regulator untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi AI bagi setiap organisasi di Indonesia. (Istimewa)

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dinilai telah memasuki fase implementasi strategis, bukan lagi sekadar tahap uji coba. Teknologi ini diproyeksikan mengubah cara perusahaan beroperasi, mengambil keputusan, hingga membangun model bisnis baru untuk memenangkan persaingan.

Pandangan tersebut mengemuka dalam AI Leadership Exchange 2026, hasil kolaborasi IBM Indonesia dan CIO Insight Indonesia. Dalam panel bertajuk “From AI Investment to ROI: Building the Foundations for Agentic AI”, para pemimpin teknologi, pelaku industri, dan regulator membahas strategi memaksimalkan pemanfaatan AI di berbagai sektor.

Setiaji, Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, menegaskan bahwa organisasi tidak seharusnya mengadopsi AI semata-mata karena dorongan fear of missing out (FOMO). Tanpa tujuan bisnis yang jelas, investasi AI berisiko menjadi proyek mahal tanpa menghasilkan dampak yang nyata.

Senada dengan itu, Toto Prasetio, Information Technology Director Bank BNI, menilai transformasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia serta kemampuan organisasi membangun budaya kerja yang adaptif.

Sementara itu, Patrick Bruinsma, CTO IBM ASEAN, mendorong perusahaan meninggalkan pendekatan implementasi AI yang bersifat parsial atau project-by-project. Menurutnya, fondasi operasional yang kuat akan memungkinkan berbagai inisiatif AI di masa depan dijalankan lebih cepat, aman, dan efisien.

Dari sisi investasi dan pengembangan teknologi, Ricardo Irwan Rei, Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara, menegaskan pihaknya akan terus memanfaatkan AI untuk meningkatkan kinerja dan daya saing BUMN.

Ricardo juga menilai Indonesia perlu mulai membangun kemampuan pengembangan AI sendiri, sebagaimana dilakukan Tiongkok melalui DeepSeek dan Qwen. Dalam jangka panjang, langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kedaulatan teknologi (technology sovereignty).

Di sektor perbankan, AI semakin dipandang sebagai kapabilitas strategis. Jika digitalisasi sebelumnya memungkinkan nasabah melakukan berbagai aktivitas secara mandiri melalui aplikasi, perkembangan AI diperkirakan akan membawa organisasi memasuki era operasi yang semakin otonom.

Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi yang dipandu Juvanus Tjandra, Country Managing Director IBM Indonesia, bersama Rico Usthavia Frans, Operations, Technology, Analytics & AI Director PT Bank CIMB Niaga Tbk, serta Jayaprawirya Diah, Executive Vice President Corporate & Strategic Planning, CFO Office PT Bank Central Asia Tbk.

Meski demikian, membangun kapabilitas AI bukan perkara mudah. Selain dituntut terus berinovasi, lembaga keuangan juga harus menjaga keamanan data, memenuhi berbagai ketentuan regulasi, serta memastikan ketahanan operasional tetap terjaga.

Karena itu, adopsi AI tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa. Sepanjang forum, satu pesan mengemuka: keunggulan tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengakses teknologi AI terbaru, melainkan oleh kemampuan organisasi mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis, budaya kerja, tata kelola, dan pengambilan keputusan.

Dengan demikian, tantangan terbesar saat ini bukan lagi membangun AI, melainkan membangun organisasi yang siap bekerja berdampingan dengan AI. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag