Harga CPO Melemah di Pasar Global Imbas Anjloknya Harga Minyak Dunia
Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bergerak melemah pada perdagangan Senin (15/6/2026) seiring turunnya harga minyak dunia, yang mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel di pasar global.
Kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives sempat turun hingga 4.438 ringgit Malaysia per ton pada awal perdagangan. Namun, hingga jeda siang, kontrak tersebut bergerak relatif stabil di level 4.475 ringgit per ton.
Pelemahan harga CPO dipicu oleh tekanan di pasar energi global dan penurunan harga minyak nabati pesaing. Kepala Riset Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan kontrak berjangka CPO bergerak dalam kisaran terbatas setelah dibuka lebih rendah akibat aksi jual yang terjadi pada komoditas energi, minyak kedelai di Chicago, serta kontrak minyak nabati di China.
“Kontrak berjangka terlihat bergerak sideways setelah dibuka melemah akibat aksi jual pada harga energi, minyak kedelai Chicago, dan kontrak minyak nabati China pada perdagangan Asia hari ini,” ujar Bagani dikutip dari Reuters, Senin (15/6/2026).
Di pasar komoditas lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian turun 0,44 persen, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 1,51 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) terkoreksi 0,97 persen.
Secara fundamental, pergerakan harga CPO sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak nabati lainnya karena seluruh komoditas tersebut bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Tekanan terhadap CPO juga datang dari anjloknya harga minyak mentah dunia. Harga minyak global turun ke level terendah sejak Maret setelah muncul sinyal meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan perwakilan pemerintah Iran menyampaikan bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Penurunan harga minyak mentah berdampak langsung pada prospek permintaan CPO untuk sektor energi. Ketika harga minyak fosil melemah, penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel menjadi kurang kompetitif sehingga berpotensi menekan permintaan.
Dari sisi mata uang, penguatan ringgit Malaysia turut membatasi ruang kenaikan harga CPO. Nilai tukar ringgit tercatat menguat 0,25 persen terhadap dolar AS, yang membuat harga minyak sawit menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Sementara itu, pemerintah Malaysia juga menurunkan harga referensi CPO untuk Juli. Meski demikian, penyesuaian tersebut masih mempertahankan tarif bea keluar (export duty) sebesar 10 persen, sesuai ketentuan yang tercantum dalam surat edaran Dewan Minyak Sawit Malaysia.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan harga minyak dunia dan prospek permintaan biodiesel global sebagai faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan harga CPO dalam jangka pendek. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.