Ensign Dorong Kesiapan Pemimpin Teknologi Hadapi Krisis Siber Lewat Simulasi

(ki-ka) Adithya Nugraputra, Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia; Sachunaden Prabhu, Chief Information Security Officer Bank Sahabat Sampoerna; Benedict Sulaiman, Koordinator Divisi Partnership iCIO Community Periode 2024–2026; dan Zong Fu Chua, EVP International Business & Commercial Ensign InfoSecurity saat workshop di Jakarta, (18/6/2026). (Foto: Jeihan Kahfi/SWA
(ki-ka) Adithya Nugraputra, Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia; Sachunaden Prabhu, Chief Information Security Officer Bank Sahabat Sampoerna; Benedict Sulaiman, Koordinator Divisi Partnership iCIO Community Periode 2024–2026; dan Zong Fu Chua, EVP International Business & Commercial Ensign InfoSecurity saat workshop di Jakarta, Kamis (18/6/2026). (Foto: Jeihan Kahfi Barlian/SWA).

Di tengah meningkatnya intensitas serangan siber terhadap berbagai organisasi, kesiapan menghadapi krisis dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan teknologi. Kemampuan para pemimpin dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat saat insiden terjadi menjadi faktor penting untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Ensign InfoSecurity (Ensign), perusahaan penyedia layanan keamanan siber murni (pure-play) yang berkantor pusat di Singapura menggelar workshop simulasi ketahanan siber yang ditujukan bagi para pemimpin teknologi senior.

Dalam pelaksanaannya Ensign menggandeng iCIO Community sebagai mitra yang menaungi keanggotaan para pemimpin teknologi dan bisnis senior di Indonesia. Melalui pendekatan berbasis simulasi, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan kepemimpinan krisis sekaligus mengasah pengambilan keputusan dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.

Sesi diskusi yang bertajuk From Threat to Action: Cyber Simulation Experience ini mengajak peserta ke dalam skenario krisis siber yang terfasilitasi dan membawa mereka melalui alur respons yang praktis, membantu mereka berlatih pengambilan keputusan di bawah tekanan.

Di bawah bimbingan para spesialis keamanan siber dan respons insiden Ensign, peserta menjalani tahap-tahap kunci sebuah krisis mulai dari tanda-tanda awal gangguan hingga penahanan, respons, pemulihan, dan pengelolaan pemangku kepentingan.

Simulasi ini menantang para pemimpin untuk mempertimbangkan tidak hanya respons teknis, tetapi juga keberlangsungan bisnis, koordinasi internal, dampak kepada pelanggan, aspek regulasi, serta komunikasi dengan pemangku kepentingan utama.

Adithya Nugraputra, Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, menjelaskan peserta diperlihatkan bahwa tidak ada pilihan yang benar-benar sempurna dalam menghadapi krisis siber.

Momen paling berbahaya dalam sebuah krisis siber jarang terjadi pada saat serangan itu terjadi. Momen tersebut adalah ketika para pemimpin harus mengambil keputusan berdampak besar tanpa pernah berlatih menghadapinya.

"Pelatihan simulasi ini memberikan kesempatan kepada para pemimpin teknologi Indonesia untuk berlatih mengalami langsung tekanan sebuah insiden nyata dan mempertajam respons mereka sebelum serangan sesungguhnya terjadi," Adithya Nugraputra, Head of Consulting Ensign InfoSecurity Indonesia di Jakarta, Kamis kemarin (18/6/2026).

Simulasi ini, lanjutnya, menekankan pentingnya tindakan cepat pada fase awal insiden. Upaya penanganan yang dilakukan sejak dini, serta arah kebijakan yang jelas dari jajaran pimpinan dapat membantu mengurangi dampak jangka panjang akibat serangan..

Pada akhirnya, ketahanan siber dipandang sebagai sesuatu yang harus dibangun jauh sebelum insiden terjadi. Investasi terhadap peningkatan kematangan keamanan siber, pengujian sistem cadangan secara berkala, serta penyusunan dan latihan prosedur penanganan krisis menjadi fondasi penting yang menentukan kemampuan organisasi untuk bertahan ketika menghadapi serangan.

Setelah krisis berlalu pun, pengawasan tetap diperlukan agar organisasi dapat melakukan evaluasi menyeluruh, memastikan adanya akuntabilitas, mengambil pelajaran dari insiden yang terjadi, serta memperkuat kontrol keamanan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Laporan bertajuk Ensign Cyber Threat Landscape 2025 itu menyoroti berkembangnya ekonomi bawah tanah yang telah mengakar di seluruh Asia Pasifik, dengan kelompok ransomware, Initial Access Brokers, dan hacktivist yang semakin kerap beroperasi secara terkoordinasi.

Kolaborasi yang semakin erat di antara para pelaku ancaman ini telah melahirkan serangan siber yang lebih canggih, lebih terarah, dan berdampak lebih besar dan menegaskan kebutuhan mendesak bagi organisasi untuk bergerak melampaui kesiapan di atas kertas dan menguji pertahanan mereka secara nyata.

Secara terpisah, pada April tahun ini, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melaporkan lonjakan serangan siber di Indonesia, dengan 5,5 miliar serangan siber yang tercatat sepanjang tahun 2025 dan angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat pada 2026.

Para CIO Indonesia saat ini dituntut untuk melakukan lebih dari sekadar memahami teknologi. Mereka harus mampu memimpin organisasinya melewati krisis siber secara langsung.

"Simulasi ini menempatkan para pemimpin kami tepat di jantung krisis tersebut dan menantang mereka untuk merespons dan itu adalah jenis pengalaman nyata yang tidak dapat diberikan oleh konferensi atau diskusi panel mana pun," ungkap Benedict Sulaiman, Koordinator Divisi Partnership iCIO Community Periode 2024-2026 sekaligus panelis. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag