Pesan dari MSCI untuk BEI dan Dampaknya ke IHSG di Perdagangan Jumat Ini
PT Samuel Sekuritas Indonesia dan PT Kiwoom Sekuritas Indonesia menanggapi hasil tinjauan Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal posisi Indonesia di kategori pasar berkembang (emerging markets). MSCI menyoroti masalah struktur pemegang saham emiten, transaksi manipulasi saham, hingga penyajian data saham beredar di publik atau free float untuk investor institusi asing.
"Kriteria Information Flow Indonesia telah diturunkan dari '+' menjadi '-', persyaratan pengungkapan pemegang saham 1%, kerangka HSC (high shareholder concentration), dan peta jalan free float 15% seharusnya cukup untuk mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai Emerging Market,” jelas Kepala Riset Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi pada risetnya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Pada laman MSCI itu termaktub mengenai kesetaraan hak bagi investor asing, terkait informasi emiten yang tercatat tidak selalu tersedia dalam Bahasa Inggris. Pada aspek liberalisasi pasar valas, tidak ada pasar valas luar negeri yang efisien dan terdapat pembatasan di pasar valas dalam negeri. Misalnya, transaksi valas harus terkait dengan transaksi sekuritas.
MSCI menyoroti masalah kliring dan penyelesaian, yaitu fasilitas cerukan (in-kind transfers) dilarang bagi investor asing. Pinjaman saham atau stock lending masih diperbolehkan, tapi terbatas pada sekuritas tertentu dan kontrak pinjaman selama 90 hari.
Sementara untuk transaksi short-selling, MSCI menyoroti jenis ini diizinkan di Indonesia, tetapi dengan beberapa pembatasan tertentu.Hasilnya, MSCI menurunkan status Information Flow pasar saham Indonesia dari simbol “+” menjadi simbol “-“.
“Kekhawatiran terkait kelayakan investasi tetap ada karena keterbatasan transaparansi dalam struktur kepemilikan saham dan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang wajar. Informasi pasar saham yang terperinci tidak selalu diungkapkan dalam Bahasa Inggris,” tegas MSCI dari keterangan yang terbit di laman resmi pada Jumat ini..
Terpisah, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyampaikan otoritas dan emiten di pasar saham Indonesia masih berfokus dalam tata kelola, transparansi, arus informasi, serta kualitas harga saham dibandingkan ukuran pasar, likuiditas pasar, akses investor asing, serta infrastruktur transaksi jual-beli.
“Kami memandang, para investor sebaiknya tidak terlalu memusatkan perhatian pada kemungkinan Indonesia kehilangan status Emerging Market-nya, dan lebih memperhatikan apa sinyal yang ditunjukkan oleh penurunan peringkat MSCI tersebut,” jelas Liza.
Adapun. PT PHintraco Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat ini bergerak konsolidasi, i pada kisaran level 6.100-6.250 poin..
Phintraco Sekuritas mencermati laju IHSG sisi teknikal itu berada di area jenuh beli (overbought), berdasarkan pendekatan Stochastic RSI. Namun, melalui pendekatan Moving Average Convergence Divergence (MACD), IHSG masih membentuk histogram positif. Phintraco Sekuritas jmencermati, pergerakan indeks ini masih berada di atas level MA5, MA10, dan MA20. Karena itu, IHSG akan bergerak di kisaran level 6.100-6.250 poin. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.