Mantan Pegawai Hotel Merawat Tradisi Menjadi Perajin Tedung Bali

Penggunaan tedung saat Hari Raya Galungan (Foto : Silawati/SWA).
Penggunaan tedung saat Hari Raya Galungan (Foto: Silawati/SWA).

Denyut usaha kerajinan tedung atau payung upacara khas Bali di Paksebali, Klungkung, Bali, tetap menunjukkan daya tahan kendati menghadapi beragam tantangan. Salah satu pelakunya, Anak Agung Gede Anom Suwastika, yang berhasil menjaga keberlanjutan bisnis warisan keluarga dengan memanfaatkan akses pembiayaan dan layanan digital perbankan.

Setelah pensiun dari industri perhotelan empat tahun lalu, Suwastika kembali menekuni usaha tedung yang telah digeluti keluarganya secara turun-temurun. Saat ini, ia mampu memproduksi sekitar 20 tedung per hari, dan meningkat hingga 50 unit menjelang Hari Raya Galungan.Permintaan datang dari sejumlah pasar tradisional di Denpasar. Dalam kondisi normal, pesanan mencapai sekitar 200 unit setiap dua hingga tiga minggu, dan bisa melonjak dua kali lipat saat musim hari raya.

Menurut Suwastika, tantangan terbesar bukan pada pasar, melainkan pasokan bahan baku kayu dan bambu yang semakin sulit diperoleh. Untuk menjaga ketersediaan stok, ia mengoptimalkan modal usaha senilai Rp100 juta dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diperolehnya dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

“Modal kerja sangat penting agar kami bisa membeli bahan baku lebih dulu saat tersedia,” ujarnya. Selain pembiayaan, digitalisasi juga mulai mengubah cara pelaku usaha tradisional bertransaksi. Sebagian besar pembayaran pelanggan kini dilakukan melalui BRImo, terutama untuk pembayaran uang muka sebelum pengiriman barang.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menilai usaha tedung merupakan contoh UMKM berbasis budaya yang memiliki pasar berkelanjutan. Menurutnya, akses pembiayaan dan layanan digital menjadi faktor penting untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan di Bali.

Di Paksebali, usaha tedung telah berkembang menjadi salah satu sentra ekonomi berbasis budaya. Sekitar 20 pelaku usaha tergabung dalam Klaster Tedung Paksebali. Selain memproduksi tedung, sebagian warga juga mengembangkan kerajinan prada dan ider-ider yang digunakan dalam berbagai kebutuhan upacara adat Bali.

Dengan dukungan akses permodalan dan layanan keuangan digital, usaha berbasis kearifan lokal justru memiliki peluang untuk tumbuh lebih berkelanjutan sekaligus menjaga warisan budaya Bali tetap hidup di tengah perubahan zaman. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag