Krista Interfood 2026 Targetkan 1.000 Peserta Kompetisi Kuliner
Pameran industri makanan dan minuman berskala internasional, Krista Interfood, akan berlangsung pada 4–7 November 2026 di Nice PIK 2, Tangerang. Selain menjadi ajang pameran, acara ini juga menghadirkan berbagai kompetisi kuliner tingkat nasional hingga internasional. Tahun ini, penyelenggara menargetkan sedikitnya 1.000 peserta kompetisi.
Chief Executive Officer Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan salah satu kompetisi bertaraf internasional yang akan digelar adalah La Cuisine dengan berbagai kategori perlombaan. Pada 2025, kompetisi tersebut diikuti 948 peserta dari enam negara. Jumlah kelas yang dipertandingkan pun meningkat dari 15 kelas menjadi 33 kelas pada Krista Interfood 2026.
Selain itu, akan digelar Global Chefs Challenge yang menjadi ajang seleksi chef untuk mewakili Indonesia pada kompetisi internasional. Ada pula kompetisi Master Gelato yang diperkirakan diikuti peserta dari sekitar 10 negara. Seleksi wakil Indonesia untuk kompetisi tersebut akan dilakukan dalam Bali Interfood pada 2–4 September 2026.
"Pemenang Master Gelato akan mendapatkan kesempatan mewakili negaranya pada kompetisi internasional di Italia yang dijadwalkan berlangsung pada 23–27 Januari 2027," ungkapnya di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Bertahan dari tahun ke tahun
Advisor of Association of Culinary Professionals (ACP) Indonesia, Stefu Santoso, mengatakan salah satu kompetisi yang terus dipertahankan sejak penyelenggaraan pertama adalah lomba nasi tumpeng. Dalam kompetisi tersebut, peserta secara berpasangan harus memasak tumpeng dari awal dalam waktu sekitar dua jam. Peserta terbanyak berasal dari kalangan siswa SMK dan mahasiswa.
Selain itu, terdapat lomba sate yang mempertahankan konsep tradisional. Peserta hanya diperbolehkan menggunakan arang dan kipas tanpa bantuan kompor modern. Menurut Stefu, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara menjaga kelestarian budaya kuliner Indonesia. Kategori tersebut kini juga diperluas dengan lomba sate dan ayam bakar.
"Bagi saya, hal yang paling membanggakan adalah melihat anak-anak muda tetap antusias mengikuti kompetisi kuliner tradisional seperti nasi tumpeng, sate, dan jajanan pasar," ucap Stefu.
Menurut dia, di balik pertumbuhan jumlah peserta yang terus meningkat, dampak terbesar dari kompetisi tersebut adalah pengembangan sumber daya manusia di sektor kuliner. Meski demikian, partisipasi dari kalangan hotel saat ini tidak sebanyak sebelumnya, seiring perubahan kondisi industri yang sedang berlangsung.
"Selain peserta dari Indonesia, setiap tahun juga hadir peserta dari berbagai negara. Tahun lalu misalnya ada peserta dari Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Singapura, Vietnam. Yang paling unik, ada peserta dari Mongolia," tutup Stefu. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.