MIND ID Melirik Potensi Sulfur Domestik dari Produk Sampingan Tambang untuk Kurangi Impor

MIND ID Melirik Potensi Sulfur Domestik dari Produk Sampingan Tambang untuk Kurangi Impor
BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. Foto: MIND ID

Holding industri pertambangan Indonesia, MIND ID, mulai memetakan potensi pengembangan sumber sulfur domestik yang berasal dari produk sampingan (by-product) tambang tembaga dan emas. Inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat pasokan bahan baku bagi industri hilirisasi nikel sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor sulfur.

Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung penguatan ekosistem hilirisasi mineral nasional.

Menurut Budi, kebutuhan sulfur untuk industri pengolahan nikel berbasis high pressure acid leach (HPAL) terus meningkat seiring berkembangnya industri bahan baku baterai kendaraan listrik. Karena itu, MIND ID bersama anggota holding tengah menginventarisasi potensi sulfur yang dapat diekstraksi dari produk sampingan tambang tembaga dan emas.

“Produk sampingan dari tambang tembaga maupun emas berupa iron oxide dan iron sulfate berpotensi untuk diolah dan diekstraksi guna menghasilkan sulfur maupun asam sulfat yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industri,” kata Budi dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (25/6/2026).

Ia menjelaskan, pengembangan sumber sulfur domestik menjadi semakin strategis seiring bertambahnya proyek HPAL di Indonesia. Sulfur merupakan bahan baku utama dalam proses pelindian bijih nikel limonit untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), yakni produk antara dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

MIND ID memperkirakan kebutuhan sulfur akan meningkat signifikan seiring ekspansi kapasitas pengolahan nikel. Berdasarkan perhitungan perusahaan, produksi satu ton MHP memerlukan sekitar 11,7 ton sulfur. Dengan demikian, setiap penambahan kapasitas HPAL akan mendorong kenaikan konsumsi sulfur nasional.

Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada pasokan sulfur impor. Budi mengungkapkan, lebih dari 70% kebutuhan sulfur untuk industri pengolahan nikel saat ini dipenuhi dari impor, dengan sekitar 75% hingga 80% pasokannya berasal dari kawasan Timur Tengah.

“Kondisi saat ini menunjukkan lebih dari 70% kebutuhan sulfur untuk industri nikel masih berasal dari impor, sementara sebagian besar pasokannya berasal dari kawasan Timur Tengah yang menghadapi dinamika geopolitik,” ujarnya.

Data industri menunjukkan impor sulfur Indonesia mencapai sekitar 5,3 juta ton per tahun. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor dinilai meningkatkan risiko gangguan pasokan dan volatilitas harga, yang pada akhirnya dapat memengaruhi daya saing industri hilirisasi nikel nasional.

Selain sulfur, MIND ID juga menilai pasokan litium masih menjadi tantangan bagi pengembangan industri baterai nasional. Menurut Budi, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi Indonesia untuk terus mengembangkan teknologi baterai berbasis nikel yang memanfaatkan keunggulan sumber daya mineral domestik.

“Kami perlu mendorong pengembangan teknologi baterai berbasis nikel agar semakin efisien, mengingat Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar, sementara bahan baku litium masih harus diimpor,” kata dia.

Pengembangan sumber sulfur domestik dan inovasi teknologi baterai berbasis nikel diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri mineral nasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag