Honda Tinggalkan Target Mobil Listrik 100%, CEO Toshihiro Mibe di Bawah Tekanan

Car concept mobil listrik Honda Saloon. (Istimewa)
Car concept mobil listrik Honda Saloon. (Istimewa)

Ambisi besar Honda Motor Co. untuk menjadi produsen mobil yang sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada 2040 kini resmi kandas.

Target batal

Setelah bertahun-tahun menggelontorkan investasi puluhan miliar dolar AS, produsen otomotif asal Jepang itu membatalkan target tersebut menyusul melemahnya permintaan kendaraan listrik global yang berujung pada kerugian tahunan pertama sejak perusahaan melantai di bursa lebih dari tujuh dekade lalu.

Perubahan arah strategi ini sekaligus menempatkan Presiden Direktur Honda, Toshihiro Mibe, di bawah tekanan. Sejumlah eksekutif senior, termasuk sedikitnya satu anggota dewan, disebut mulai menghimpun dukungan internal agar Mibe mengundurkan diri dan bertanggung jawab atas kemunduran perusahaan. Informasi tersebut terungkap berdasarkan wawancara The New York Times (25/6/2026) dengan enam orang yang mengetahui kondisi internal Honda.

Lima tahun lalu, Mibe dipuji sebagai sosok visioner ketika mengumumkan bahwa Honda akan menghentikan penjualan mobil bermesin bensin dan diesel secara bertahap demi beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik pada 2040.

Langkah itu disambut positif oleh investor Wall Street yang saat itu optimistis terhadap prospek industri EV, sekaligus diapresiasi kelompok pemerhati lingkungan karena Honda dinilai lebih progresif dibanding sejumlah produsen Jepang lain yang masih mengandalkan mobil hybrid.

Namun kondisi pasar berubah drastis. Di Amerika Serikat, yang merupakan pasar otomotif terbesar Honda, permintaan kendaraan listrik melemah setelah pemerintahan Presiden Donald Trump menghapus insentif kredit pajak untuk pembelian mobil listrik. Pelemahan tersebut menjadi salah satu faktor yang memukul kinerja Honda hingga mencatatkan rugi bersih tahunan pertama dalam sejarahnya sebagai perusahaan publik.

Honda akhirnya menghentikan pengembangan tiga model EV unggulannya, termasuk Saloon, sebuah station wagon futuristis yang sebelumnya diproyeksikan menjadi ikon generasi baru kendaraan listrik perusahaan. Bersama Sony, Honda juga membatalkan sejumlah rencana pengembangan mobil listrik yang sempat dipromosikan sebagai proyek strategis.

Presiden Direktur Honda, Toshihiro Mibe. (Foto: Issei Kato/Reuters)
Presiden Direktur Honda, Toshihiro Mibe. (Foto: Issei Kato/Reuters)

Perlambatan permintaan

Kegagalan tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak produsen otomotif global. Sejumlah perusahaan seperti Volkswagen dan Ford sebelumnya juga menginvestasikan dana besar untuk mempercepat transisi menuju kendaraan listrik, namun harus menghadapi perlambatan permintaan yang lebih cepat dari perkiraan.

Chief Executive Nakanishi Research Institute, Takaki Nakanishi, menilai keputusan Honda untuk mengembangkan kendaraan listrik pada dasarnya tidak keliru. Menurut dia, hampir seluruh industri otomotif turut terkena dampak perlambatan pasar EV.

Persoalannya, kata Nakanishi, Honda terlalu lambat menyesuaikan strategi ketika tanda-tanda pelemahan mulai terlihat. Setelah antusiasme terhadap kendaraan listrik mereda, posisi Mibe pun menjadi sasaran kritik internal.

Sebenarnya, sejak awal Mibe menyadari transformasi menuju kendaraan listrik bukanlah langkah mudah. Mantan insinyur Honda yang menghabiskan lebih dari tiga dekade di divisi teknik tersebut pernah menyebut proyek elektrifikasi total sebagai perjuangan yang berat, namun dianggap perlu agar Honda dapat mendukung target netral karbon Jepang pada 2050.

Untuk mendukung strategi tersebut, Honda mengubah pendekatan bisnisnya. Perusahaan menjalin kerja sama dengan General Motors pada 2022 untuk mengembangkan mobil listrik berharga terjangkau serta menggandeng Sony membentuk perusahaan patungan yang berfokus pada pengembangan kendaraan berbasis perangkat lunak. Honda juga mengalokasikan investasi puluhan miliar dolar AS untuk riset dan pengembangan platform kendaraan listrik baru.

Namun, momentum industri berubah. Penjualan kendaraan listrik di Amerika Serikat mulai turun pada 2025 setelah lima tahun berturut-turut mencetak rekor pertumbuhan. Di Jepang, sejumlah calon model baru Honda, termasuk Saloon, juga mendapat respons yang kurang menggembirakan dalam berbagai evaluasi produk yang melibatkan pakar otomotif.

Gaya kepemimpinan dikritik

Di internal perusahaan, muncul pula kritik terhadap gaya kepemimpinan Mibe. Beberapa pihak menilai ia terlalu lama mempertahankan strategi elektrifikasi meski kondisi pasar telah berubah. Selain itu, Mibe dinilai kurang aktif mengamati perkembangan di China, yang kini menjadi pusat inovasi kendaraan listrik dunia, padahal Honda tengah mengalami penurunan daya saing di negara tersebut.

Sejumlah analis juga menyoroti tata kelola perusahaan. Selama menjabat, Mibe merangkap sebagai chief executive officer sekaligus chairman, struktur yang dinilai membuat mekanisme pengawasan terhadap manajemen menjadi kurang efektif. Menurut pengamat otomotif Takaki Nakanishi, Honda juga tidak memiliki sosok nomor dua yang cukup kuat untuk memberikan penyeimbang terhadap keputusan strategis Mibe.

Dalam dua tahun terakhir, Honda menghadapi berbagai tekanan. Selain gagal melanjutkan rencana merger dengan Nissan Motor pada akhir 2024, perusahaan juga mencatatkan rugi bersih tahunan akibat beban restrukturisasi dan penurunan nilai investasi yang berkaitan dengan proyek kendaraan listrik, dengan total lebih dari US$9 miliar.

Menghadapi kondisi tersebut, Honda kini mengubah fokus bisnisnya. Perusahaan akan memperkuat lini kendaraan hybrid dengan meluncurkan 15 model hybrid generasi baru hingga 2030. Strategi itu dipadukan dengan efisiensi biaya dan percepatan pengembangan produk, dengan target mengembalikan profitabilitas perusahaan ke level tertinggi sebelum akhir dekade ini.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Mibe mengumumkan pemotongan gajinya sebesar 30% untuk sementara waktu. Ia juga akan melepaskan jabatan sebagai chairman dan keluar dari komite nominasi dewan direksi sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola perusahaan. Pada rapat umum pemegang saham, mayoritas anggota dewan yang diajukan merupakan direktur independen.

Meski menghadapi tekanan, Mibe menegaskan dirinya masih bertanggung jawab memulihkan daya saing Honda. Sejumlah pengamat menilai peluangnya bertahan masih terbuka mengingat sebagian besar pemegang saham Honda berasal dari institusi Jepang yang selama ini cenderung mendukung manajemen.

Kini, tantangan terbesar Honda bukan lagi mengejar mimpi menjadi produsen mobil listrik sepenuhnya, melainkan merebut kembali kepercayaan konsumen melalui produk hybrid yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag