DEWA Targetkan Eksplorasi Tambang Emas Gayo Rampung pada 2027, IPO Anak Usaha Jadi Opsi Pendanaan

Direktur PT Darma Henwa Tbk, Ricardo Silaen, memberikan keterangan kepada media usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Fairmont Hotel, Jakarta, Senin (29/6/2026) (Foto: Arie Liliyah/SWA)
Direktur PT Darma Henwa Tbk, Ricardo Silaen, memberikan keterangan kepada media usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Fairmont Hotel, Jakarta, Senin (29/6/2026). (Foto: Arie Liliyah/SWA)

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) terus mematangkan pengembangan proyek tambang emas Gayo di Aceh sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha di luar bisnis jasa pertambangan batu bara. Perseroan menargetkan seluruh tahapan eksplorasi selesai pada akhir 2027 sebelum memasuki fase pendanaan dan pengembangan menuju operasi komersial.

Direktur PT Darma Henwa Tbk, Ricardo Silaen, mengatakan proyek yang dikelola melalui anak usaha Gayo Mineral Resources tersebut masih berada dalam tahap eksplorasi yang dibagi ke dalam tiga fase.

"Untuk Gayo saat ini kami sedang jalankan. Itu dibagi dalam tiga tahap. Tahap satu sudah selesai, kemudian tahap dua drilling sedang berjalan, dan tahap tiga akan kami selesaikan sampai akhir 2027," ujar Ricardo dalam wawancara.

Setelah seluruh proses survei, pengeboran (drilling), dan eksplorasi rampung, perseroan baru akan menentukan kebutuhan pendanaan untuk membawa proyek tersebut ke tahap operasi komersial.

"Eksplorasi akan selesai di 2027. Setelah eksplorasi selesai baru kita mencari funding. Setelah mendapatkan pendanaan baru kita bisa masuk ke commercial operation," katanya.

Ricardo mengatakan hingga kini perseroan belum dapat mengungkapkan nilai investasi proyek karena hasil eksplorasi belum final.

"Saat ini saya belum bisa bilang berapa investasinya, karena eksplorasinya juga belum selesai," ujarnya.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa proyek Gayo telah memperoleh pendanaan sebelumnya. Menurut Ricardo, pendanaan yang diperoleh perseroan pada tahun lalu dialokasikan untuk proyek pertambangan yang telah berjalan, bukan untuk pengembangan tambang emas Gayo.

Untuk membiayai pengembangan proyek setelah tahap eksplorasi selesai, DEWA membuka berbagai alternatif pendanaan, mulai dari penerbitan saham baru (right issue) hingga penawaran umum perdana (IPO) anak usaha.

"Opsi masih terbuka. Right issue maupun IPO adalah salah satu yang memang kami pertimbangkan, tapi belum ada keputusan. Itu tergantung hasil eksplorasi," kata Ricardo.

Ia mengatakan kemungkinan IPO anak usaha tetap terbuka apabila dinilai menjadi metode pendanaan yang paling optimal.

"Kemungkinan itu tidak tertutup. Kami akan melihat metode pendanaan yang paling ideal dan paling menarik untuk mendanai proyek ini," ujarnya.

Ricardo menilai proyek Gayo memiliki potensi yang besar, meski besaran cadangan maupun kebutuhan investasinya baru dapat diketahui setelah eksplorasi selesai.

"Kalau melihat proyek ini potensinya besar. Memang saya belum bisa mengatakan sebesar apa karena eksplorasi belum selesai. Tapi proyek ini sangat menarik untuk dikembangkan," katanya.

Ia menambahkan, tingginya harga emas dunia turut meningkatkan daya tarik proyek tersebut.

Ricardo menjelaskan aset tambang emas Gayo telah resmi dikonsolidasikan ke dalam Darma Henwa setelah memperoleh persetujuan pemerintah. Dalam proses konsolidasi tersebut, perseroan membukukan keuntungan akuntansi berupa negative goodwill sebesar Rp4,3 triliun.

Ia mengatakan wilayah konsesi tambang di Gayo Lues memiliki luas sekitar 34.500 hektare. Sejauh ini, eksplorasi baru dilakukan pada satu lokasi, sementara perseroan telah mengidentifikasi sekitar sembilan titik yang dinilai memiliki indikasi deposit emas yang menjanjikan.

"Kami sudah mengidentifikasi kurang lebih ada sembilan spot atau titik deposit yang menurut indikasi awal sangat menjanjikan. Untuk meningkatkan tingkat keyakinan, kami melakukan drilling dan eksplorasi lanjutan," ujar Ricardo.

Tahap pertama eksplorasi telah selesai dan menjadi dasar penilaian aset oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), sedangkan tahap kedua dan ketiga masih berlangsung.

Meski belum dapat memastikan besaran cadangan maupun nilai investasi, Ricardo optimistis proyek emas Gayo akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan jangka panjang perseroan. Menurutnya, karakteristik proyek tersebut berbeda dengan bisnis jasa pertambangan yang selama ini menjadi andalan DEWA karena merupakan aset yang dimiliki langsung sehingga berpotensi memberikan margin lebih tinggi.

"Kalau melihat volume cadangan yang kami optimistis, ini akan sangat signifikan untuk pertumbuhan jangka menengah maupun jangka panjang," katanya.

Ia memperkirakan hasil akhir eksplorasi baru akan memberikan gambaran mengenai kebutuhan investasi, kapasitas produksi, serta skema pengembangan proyek setelah 2027.

"Setelah hasil eksplorasi keluar, baru kami bisa menghitung berapa investasi yang dibutuhkan, berapa produksi optimum per tahun, dan bagaimana rencana pengembangannya," ujar Ricardo.

Berdasarkan proyeksi awal perseroan, apabila proses eksplorasi dan pendanaan berjalan sesuai rencana, operasi komersial proyek tambang emas Gayo diperkirakan baru dapat dimulai pada kisaran 2029 hingga 2030. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag