Ini Lima Pelajaran Penting untuk Perempuan Indonesia yang Ingin Membangun Startup
Membangun startup tidak pernah mudah, namun bagi perempuan tantangannya sering kali lebih besar. Meski jumlah startup yang dipimpin perempuan di Asia Tenggara terus bertambah, akses terhadap pendanaan modal ventura (venture capital) masih jauh dari kata setara.
Laporan OSK Ventures: Female Founders in Southeast Asia (2026) menunjukkan bahwa startup yang didirikan perempuan masih menerima porsi pendanaan yang jauh lebih kecil dibandingkan startup yang dipimpin laki-laki, mencerminkan masih adanya kesenjangan dalam ekosistem investasi di kawasan.
Kondisi tersebut juga pernah dialami oleh Elisabeth Kurniawan, angel investor, startup advisor dan pendiri dari beberapa startup di Indonesia. Dalam perjalanan menggalang pendanaan, Elisabeth harus melakukan lebih dari 100 kali presentasi kepada investor sebelum akhirnya mendapatkan investor pertama yang percaya pada visinya.
Berbekal pengalaman membangun perusahaan, melakukan pivot bisnis, hingga mengembangkan startup di tengah perubahan pasar Indonesia yang sangat cepat, Elisabeth membagikan lima pelajaran yang menurutnya perlu dipahami setiap perempuan yang ingin memulai bisnis.
1. Jangan ukur potensi bisnis hanya dari pendapatan
Banyak pendiri startup menganggap penjualan pertama sebagai satu-satunya bukti bahwa ide mereka berhasil.
Menurut Elisabeth, sinyal terkuat justru sering muncul jauh sebelum perusahaan menghasilkan keuntungan. "Tanda pertama bukanlah pendapatan atau pertumbuhan. Tetapi ketika pelanggan, mitra, dan para pemangku kepentingan terus datang, bahkan ketika bisnis kami belum benar-benar terbukti."
Orang yang rela meluangkan waktu, memberikan perhatian, serta mempercayai sebuah bisnis tanpa insentif sering kali menjadi indikator yang lebih kuat dibandingkan angka penjualan awal. "Spreadsheet memang memvalidasi bisnis, tetapi perilaku pelanggan sering kali lebih dulu menunjukkan bahwa bisnis itu memang dibutuhkan,” tegas Elisabeth.
2. Konsumen Indonesia berubah jauh lebih cepat dari yang dibayangkan
Salah satu kesalahan terbesar Elisabeth di awal membangun bisnis adalah mengira perilaku konsumennya akan bertahan cukup lama. Faktanya, minat dan preferensi konsumen Indonesia berubah dengan sangat cepat, dipengaruhi media sosial, tren, dan perubahan gaya hidup.
Karena itu, memahami pelanggan tidak cukup hanya berdasarkan usia atau lokasi. Pendiri startup harus memahami perilaku konsumennya secara detail—apa yang mereka sukai, bagaimana mereka berbelanja, hingga bagaimana kemungkinan mereka berubah beberapa bulan ke depan.
"Semakin detail kita memahami pelanggan, semakin siap kita menghadapi perubahan perilaku mereka," ungkapnya.
3. Berani meninggalkan strategi lama
Salah satu momen tersulit dalam perjalanan Elisabeth adalah ketika perusahaannya harus beralih dari perusahaan media digital menjadi bisnis e-commerce hanya dalam waktu satu bulan.
Saat itu, tim beranggapan bahwa lebih dari 10 juta pembaca yang mereka miliki otomatis akan menjadi pembeli. Ternyata asumsi tersebut keliru. Orang yang menikmati konten gratis tentang fesyen dan gaya hidup belum tentu siap melakukan transaksi.
Perusahaan pun harus mengubah hampir seluruh strategi, mulai dari pendekatan editorial, teknologi, hingga pengalaman pelanggan. "Kami harus mengubah cara berpikir, dari membuat konten yang ingin dibaca orang menjadi memahami apa yang benar-benar ingin mereka beli."
Pengalaman itu mengajarkan bahwa keberhasilan di masa lalu justru bisa menjadi hambatan apabila pendiri bisnis enggan meninggalkan pola pikir lama.
4. Bangun kemitraan, bukan mengerjakan semuanya sendiri
Banyak startup ingin menguasai seluruh rantai bisnis sejak awal. Elisabeth justru menyarankan sebaliknya. Menurutnya, fokuslah pada keunggulan utama perusahaan dan serahkan fungsi lain kepada mitra strategis.
Ketika membangun bisnisnya, ia memilih bekerja sama dengan penyedia payment gateway dan perusahaan logistik dibandingkan membangun layanan tersebut sendiri. "Ketahui apa kekuatan utama perusahaan Anda. Sisanya bisa dipercepat melalui kemitraan strategis yang menghemat waktu dan biaya,” katanya.
Bagi startup tahap awal dengan sumber daya terbatas, strategi ini memungkinkan perusahaan tumbuh lebih cepat tanpa membebani operasional.
5. Kepercayaan diri lebih penting daripada latar belakang
Tantangan terbesar Elisabeth bukan hanya membangun perusahaan, tetapi juga meyakinkan investor. Karena tidak berasal dari universitas Ivy League maupun firma konsultan global ternama, ia hampir selalu mendapat pertanyaan yang sama dalam setiap pertemuan dengan investor.
Mengapa mereka harus mempercayainya? Alih-alih mengubah dirinya, Elisabeth memilih memperkuat keyakinannya terhadap visi perusahaan. "Saya selalu kembali pada prinsip dasar: mengapa perusahaan ini ada, mengapa saya ingin membangunnya, dan dampak apa yang ingin saya ciptakan."
Keyakinan itu menjadi modal penting setelah menghadapi penolakan demi penolakan. Investor pertama baru datang pada pitching ke-104. "Saya hanya membutuhkan satu investor yang mau mengambil risiko bersama kami. Setelah itu, semuanya berubah."
Bangun bisnis dengan keyakinan
Melihat perkembangan ekosistem startup saat ini, Elisabeth menilai era growth at all costs telah berakhir. Kini investor lebih menghargai perusahaan yang memiliki model bisnis berkelanjutan, operasional yang efisien, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar.
Pesannya bagi perempuan Indonesia yang ingin membangun startup pun sederhana, "Jadilah diri sendiri. Jangan biarkan penilaian orang lain menjauhkan anda dari apa yang anda yakini. Kemampuan anda akan selalu sekuat pola pikir yang anda miliki.”
Bagi perempuan yang baru memulai perjalanan sebagai entrepreneur, kemampuan teknis memang penting. Namun menurut Elisabeth, yang paling menentukan keberhasilan adalah ketangguhan, kemampuan beradaptasi dan keyakinan untuk terus melangkah, bahkan ketika belum banyak orang yang percaya pada visi yang sedang dibangun. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.