DBS Menghimbau Investor Mengubah Strategi Portofolio, Tekanan Inflasi dan Geopolitik Masuki Babak Baru

Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook. (foto : istimewa)
Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook. (Foto: istimewa)

Asumsi lama dalam menyusun portofolio investasi dinilai sudah tidak lagi memadai. DBS Group Research menilai dunia tengah memasuki rezim makro baru yang ditandai oleh inflasi lebih tinggi, ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, serta belanja modal besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) dan energi.

Dalam laporan strategi investasi kuartal III 2026, DBS mengungkapkan bahwa dalam 18 bulan terakhir terjadi kesenjangan yang semakin lebar antara ekspektasi politik dan realisasi kebijakan, khususnya di Amerika Serikat. Alih-alih mengarah pada disiplin fiskal dan stabilitas geopolitik, kebijakan yang ditempuh justru memicu peningkatan belanja pertahanan, defisit fiskal yang lebih besar, dan tekanan inflasi yang lebih persisten.

Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook mengatakan Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko tersebut. Gangguan terhadap pasokan energi membuat harga minyak berpotensi bertahan tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi itu diperparah oleh meningkatnya belanja fiskal di sektor pertahanan dan industri yang semakin memperkuat tekanan inflasi global.

Di sisi lain, gelombang investasi AI yang masif juga dinilai belum memberikan dampak produktivitas dalam jangka pendek. Sebaliknya, pembangunan pusat data, kebutuhan semikonduktor, perangkat keras, hingga konsumsi listrik yang meningkat justru berpotensi mendorong inflasi karena tingginya permintaan terhadap berbagai komponen pendukung.

"Perkembangan tersebut mendorong bank-bank sentral utama seperti Federal Reserve, European Central Bank (ECB), dan Bank of England mengambil sikap yang lebih hawkish atau cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama," paparnya di Selasa (30/6/2026).

Ia mengamati perubahan makro itu membuat strategi investasi tradisional berbasis komposisi saham sebesa 60% dan 40% obligasi itu semakin kehilangan efektivitas. Korelasi yang tinggi antara saham dan obligasi saat inflasi meningkat membuat kemampuan obligasi sebagai instrumen lindung nilai melemah.

Karena itu, DBS menilai investor perlu memperluas diversifikasi ke aset alternatif. Selain emas yang tetap berperan sebagai aset aman dalam jangka panjang, komoditas tertentu dan saham domestik Tiongkok dinilai mampu memberikan manfaat diversifikasi karena memiliki korelasi yang lebih rendah terhadap pasar saham global.

Secara taktis, DBS mempertahankan posisi netral terhadap saham maupun obligasi. Pertumbuhan ekonomi AS dinilai masih cukup tangguh berkat konsumsi domestik, ekspor energi, dan investasi AI. Namun, meningkatnya risiko inflasi membuat ruang penurunan suku bunga semakin terbatas sehingga investor perlu lebih selektif dalam mengelola portofolio. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag