Dana Apresiasi Para Perempuan UMKM

Dana Apresiasi Para Perempuan UMKM
(kiri-kanan): Bernika Purba, Juara Pertama Area 1 Kategori Ulta-Mikro; Olavina Harahap, Director of Communications DANA Indonesia; Arina Budi Uminiarti, Juara Pertama Area 1 Kategori Mikro; Rachel Stefanie Halim, Juara Pertama DisBerdaya.

Dana dan Ant International menggelar SisBerdaya & DisBerdaya 2026 sebagai apresiasi bagi perempuan pelaku UMKM dan perempuan penyandang disabilitas untuk tumbuh dan berdaya lewat teknologi. Program ini diikuti oleh 35 finalis terbaik yang disaring dari lebih 6.000 pelaku UMKM perempuan dan perempuan penyandang disabilitas dari seluruh Indonesia.

Berdasarkan evaluasi terhadap finalis SisBerdaya & DisBerdaya periode 2023–2025, para peserta mencatat rata-rata kenaikan pendapatan hingga 113 persen dan pertumbuhan produksi sebesar 126 persen dalam waktu enam bulan setelah mengikuti program.

Tahun ini, program SisBerdaya dan DisBerdaya memperluas jangkauannya ke wilayah-wilayah baru di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat, Maluku, hingga Sulawesi Tengah.

Ke-35 finalis yang terpilih tidak hanya dinilai dari potensi bisnis mereka, tetapi juga berdasarkan pemanfaatan teknologi serta dampak sosial-ekonomi yang mereka bawa bagi komunitas sekitar. Penilaian juga dilakukan berdasarkan proposal bisnis yang diajukan, mulai dari rencana pemanfaatan bantuan modal hingga potensi pengembangan usahanya.

“Sebelum pengumuman pemenang, para finalis telah melewati proses seleksi berlapis serta mengikuti pelatihan intensif,” kata Olavina Harahap, Director of Communications Dana Indonesia di Jakarta, Rabu (30/6/2026)..

Pelatihan tersebut mencakup materi pengembangan bisnis, penguatan literasi keuangan, hingga adaptasi teknologi terkini seperti pemanfaatan akal imitasi (AI) khusus untuk UMKM.

Olavina menyampaikan esensi dari program ini adalah inklusivitas digital. Menurutnya, teknologi dapat membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkembang dan berdaya secara ekonomi.

Dana pada program iu memastikan para pelaku UMKM tidak hanya sekadar memiliki akses terhadap teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara cakap dan produktif untuk mengembangkan bisnis mereka.

Adapun kategori pemenang dibagi menjadi 3, yakni kategori Ultra-Mikro, kategori Mikro, dan DisBerdaya. Pengumuman pemenang dilakukan pada 30 Juli 2026 bertempat di Hutan Kota by Plataran Senayan, Jakarta. Ke-35 finalis yang hadir tampil menawan merepresentasikan daerah masing-masing. Berikut daftar pemenang:

Kategori Ultra-Mikro

· Area 1, juara pertama diraih oleh Bernika Purba dengan usaha Minyak Kempu Karo yang fokus melestarikan resep autentik obat tradisional Karo menggunakan bahan alami tanpa pengawet.

· Juara pertama Area 2 diraih oleh Hardinianti melalui Markisa Bintang Jaya, usaha keluarga asal Makassar yang sukses melakukan modernisasi lewat rebranding, digitalisasi, dan penerapan konsep zero waste.

· Untuk Area 3, Vadya Amalia Shalsabil memenangkan penghargaan berkat At Peace Studio, sebuah usaha yang membantu kesehatan mental masyarakat lewat media jurnal dan program mindfulness.

Kategori Mikro

· Area 1, Arina Budi Uminiarti menjadi juara pertama lewat Alawana, brand fesyen yang menghadirkan busana multifungsi dengan melibatkan pengrajin perempuan lokal.

· Juara pertama Area 2 diraih oleh Deva Nabilah dengan usaha Best Craft Premium asal NTB yang memproduksi kerajinan akrilik estetik dari pemanfaatan sisa material.

· Aske Mariska menyabet juara pertama Area 3 melalui DeFaVez, usaha camilan kering kentang premium rendah minyak yang diproses dengan teknologi oven.

Program DisBerdaya secara khusus memberikan penghargaan kepada perempuan penyandang disabilitas yang tangguh dalam mengoptimalkan teknologi.

· Juara pertama diraih oleh Rachel Stefanie Halim, seorang penyandang disabilitas netra yang sukses memproduksi Chicken Nugget Keraton tanpa bahan pengawet sejak masa pandemi.

· Posisi kedua ditempati oleh Eka Pratiwi Taufanti dengan English Mate, sebuah lembaga pembelajaran bahasa Inggris inklusif yang memberdayakan tutor sesama penyandang disabilitas netra.

· Juara ketiga diraih oleh Chatrinka Ustuhanifan Sugiapto, penyandang disabilitas tuli yang mendirikan Nirtch Arts untuk memadukan edukasi dan ilustrasi bahasa isyarat BISINDO.

· Di peringkat keempat, Syamsu Anita Fitrianingsih, penyandang disabilitas Cerebral Palsy, sukses membangun toko buku Menilik Aksara sebagai ruang literasi sekaligus aktif menerbitkan belasan karya sastra.

· Menutup daftar lima besar, Firsty Ukhti Molyndi yang merupakan penyandang disabilitas daksa sukses mengembangkan Molzania, sebuah platform digital untuk penulis artikel dan pemberdayaan kreator konten perempuan.(*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag