Traveloka Memanfaatkan Akal Imitasi untuk Menangkap Perilaku Wisatawan ke Destinasi Wisata Asia

Traveloka Memanfaatkan Akal Imitasi untuk Menangkap Perilaku Wisatawan ke Destinasi Wisata Asia
(Foto: Syifa Nur Layla/SWA)

Traveloka memiliki fitur rekomendasi destinasi wisata berbasis akal imitasi (AI). Teknologi mutakhir ini membantu Traveloka untuk memahami perilaku dan preferensi pelanggan secara lebih mendalam.

Chief Financial Officer Traveloka, Yady Guitana mengungkapkan salah satu fokus utama penerapan AI adalah mencocokkan wisatawan dengan akomodasi yang paling sesuai berdasarkan kebutuhan, tujuan perjalanan, serta riwayat pencarian mereka. Dengan demikian, pengguna memperoleh proses pemesanan yang lebih mudah dan rekomendasi yang relevan.

Berdasarkan analisis data Traveloka, sebagian besar pengguna memulai perjalanan mereka dengan memesan tiket pesawat. Kemudian AI memberikan rekomendasi merekomendasikan hotel yang sesuai setelah proses pemesanan penerbangansi konsumen.

"Pendekatan ini merupakan bagian dari strategi all-in-one app, yaitu menyediakan seluruh kebutuhan perjalanan dalam satu ekosistem, mulai dari tiket pesawat, hotel, hingga atraksi wisata," ucap Yady di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Potensi wisata Asia

Meski kondisi global cukup berhgejolak dan berdampak pada kenaikan biaya perjalanan, Traveloka mencermati minat masyarakat global untuk menmabnagi destinasi wisata itu tetap tinggi. Vice President of Commercial Traveloka, Tejveer Singh Bedi, menuturkan perubahan perilaku konsumen itu cenderung ke pilihan destinasi wisata ke Asia dari sebelumnya Eropa.

"Jika sebelumnya banyak wisatawan berencana bepergian ke destinasi yang lebih jauh seperti Eropa, kini mereka cenderung memilih lokasi yang lebih dekat, baik di dalam negeri maupun di kawasan Asia dan Asia Tenggara," ungkapnya.

Berdasarkan data Traveloka, destinasi yang paling banyak diminati wisatawan di Indonesia masih didominasi oleh kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, Surabaya, dan Bandung.

Kemudian, destinasi favorit wisatawan di Asia Tenggara ini didominasi Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Selain itu, Jepang dan Korea Selatan tetap menjadi tujuan yang banyak diminati di Asia.

"Menariknya, dalam satu tahun terakhir Traveloka juga mencatat peningkatan minat wisatawan untuk berkunjung ke Tiongkok," pungkasnya.

Wisatawan Malaysia ke Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) kembali meningkat, diikuti kenaikan perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) dan membaiknya tingkat hunian hotel berbintang. Di sisi lain, perjalanan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri masih mengalami penurunan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan jumlah kunjungan wisman pada Mei 2026 mencapai 1,382 juta kunjungan, naik 5,83% dibandingkan Mei 2025. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang mencapai 1,25 juta kunjungan. Ini menandakan tren pemulihan kunjungan wisata asing terus berlanjut.

"Malaysia masih menjadi penyumbang wisman terbesar dengan porsi 21,58%, disusul Australia 11,22%, dan Singapura 9,89%. Ketiga negara tersebut tetap menjadi pasar utama pariwisata Indonesia," ujar Ateng pada taklimat media di Rabu (1/7/2026). Tidak hanya wisatawan asing, aktivitas perjalanan domestik juga menguat. BPS mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Mei 2026 mencapai 106,16 juta perjalanan, meningkat 8,69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan ini sekaligus menunjukkan pemulihan setelah pada April 2026 jumlah perjalanan wisnus tercatat 97,55 juta. Provinsi tujuan utama perjalanan wisnus masih didominasi Jawa Barat dengan pangsa 18,39%, diikuti Jawa Timur 16,15%, dan Jawa Tengah 13,37%.

Tingginya mobilitas domestik menjadi penopang utama industri pariwisata nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berbeda dengan tren wisman dan wisnus, jumlah perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri masih melemah.

Pada Mei 2026, perjalanan wisnas tercatat 550,38 ribu perjalanan, turun 6,05% secara tahunan. Malaysia tetap menjadi destinasi utama dengan pangsa 31,81%, diikuti Singapura 14,70%, dan Tiongkok 9,97%.

Perbaikan aktivitas wisata turut tercermin pada industri perhotelan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Mei 2026 mencapai 50,76%, meningkat 2,48 poin persentase dibandingkan Mei 2025.

Sementara itu, TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya mencapai 26,24%, naik 1,13 poin persentase secara tahunan. Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel berbintang juga meningkat menjadi 1,64 malam, atau bertambah 0,06 malam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan sektor pariwisata mulai memasuki fase pertumbuhan yang lebih stabil.

Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, pulihnya perjalanan wisata domestik, dan membaiknya okupansi hotel menjadi sinyal positif bagi pelaku industri. Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum tersebut melalui penguatan konektivitas, peningkatan kualitas destinasi, dan perluasan promosi di pasar internasional maupun domestik agar pemulihan pariwisata dapat berlangsung lebih berkelanjutan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag