6 Emiten Siap Melantai di Bursa pada 7–10 Juli 2026, Ini Perbandingan DER-nya

6 Emiten Siap Melantai di Bursa pada 7–10 Juli 2026, Ini Perbandingan DER-nya
Suasana pembukaan perdagangan saham di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Jumat (2/1/2026) yang dihadiri oleh (kiri ke kanan) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bank Indonesia (BI), Menteri Keuangan, dan BEI.

Data yang dihimpun dari laman e-IPO menunjukkan terdapat enam calon perusahaan tercatat yang akan melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) pada 7–10 Juli 2026.

Berdasarkan prospektus masing-masing perusahaan, seluruh calon emiten tersebut memiliki rasio liabilitas terhadap ekuitas atau Debt to Equity Ratio (DER) di bawah 3 kali pada posisi laporan keuangan tahun 2025.

Enam emiten tersebut saat ini masih berada dalam masa penawaran umum. PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), misalnya, menjalani masa penawaran pada 1–3 Juli 2026.

JELI yang bergerak di sektor barang konsumen primer (non-siklikal) menawarkan saham pada harga Rp900 per saham, sedangkan JECX dari sektor kesehatan menawarkan saham pada harga Rp1.250 per saham.

Dari sisi struktur permodalan, DER JELI menunjukkan tren menurun dalam tiga tahun terakhir. DER perseroan tercatat sebesar 3,82 kali pada 2023, turun menjadi 3,41 kali pada 2024, dan kembali turun menjadi 2,79 kali pada 2025.

Sementara itu, DER JECX tetap berada di bawah 1 kali selama tiga tahun terakhir. Rasio tersebut tercatat sebesar 0,63 kali pada 2023, meningkat menjadi 0,75 kali pada 2024, dan kembali naik menjadi 0,79 kali pada 2025.

Masih dalam masa penawaran, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dari sektor kesehatan menawarkan saham pada harga Rp120 per saham pada periode 1–7 Juli 2026.

Berdasarkan prospektusnya, DER PRDL juga berada di bawah 2 kali selama tiga tahun terakhir. Rasio tersebut tercatat sebesar 1,23 kali pada 2023, meningkat menjadi 1,78 kali pada 2024, kemudian turun menjadi 1,34 kali pada 2025.

Sementara itu, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) dari sektor kesehatan dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dari sektor perindustrian menjalani masa penawaran pada 2–6 Juli 2026.

EMMI menawarkan saham pada harga Rp470 per saham, sedangkan BACH menawarkan saham pada harga Rp442 per saham.

DER EMMI berfluktuasi dalam tiga tahun terakhir. Rasio tersebut tercatat sebesar 5,08 kali pada 2023, meningkat menjadi 8,74 kali pada 2024, lalu turun menjadi 2,89 kali pada 2025.

Adapun DER BACH relatif rendah. Rasio tersebut tercatat sebesar 0,83 kali pada 2023, meningkat tipis menjadi 0,88 kali pada 2024, kemudian naik menjadi 1,30 kali pada 2025.

Terakhir, PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) dari sektor barang konsumen non-primer (siklikal) menjalani masa penawaran pada 2–8 Juli 2026. Perseroan menawarkan saham pada harga Rp170 per saham.

DER RANS juga berada di bawah 1 kali selama tiga tahun terakhir. Rasio tersebut tercatat sebesar 0,62 kali pada 2023, kemudian turun menjadi 0,36 kali pada 2024 dan kembali turun menjadi 0,35 kali pada 2025.

Mengutip laman Maybank Sekuritas Indonesia, investor dapat menggunakan DER sebagai salah satu indikator untuk menilai struktur permodalan perusahaan. Namun, tidak ada satu angka DER yang ideal untuk semua sektor usaha karena setiap industri memiliki karakteristik pembiayaan yang berbeda.

Secara umum, DER di bawah 1 kali menunjukkan perusahaan lebih banyak dibiayai oleh modal sendiri sehingga memiliki risiko keuangan yang relatif lebih rendah.

DER sebesar 1 kali menunjukkan struktur permodalan yang relatif seimbang antara utang dan ekuitas.

Sementara itu, DER di atas 1 kali menunjukkan perusahaan lebih bergantung pada pembiayaan utang. Kondisi tersebut dapat mencerminkan risiko keuangan yang lebih tinggi apabila tidak didukung oleh kemampuan menghasilkan arus kas yang memadai.

Sebagai contoh, perusahaan di sektor konstruksi dan manufaktur umumnya memiliki DER yang lebih tinggi karena karakteristik usahanya padat modal sehingga membutuhkan pembiayaan eksternal yang lebih besar.

Di sektor keuangan, khususnya perbankan, DER juga cenderung tinggi karena dana pihak ketiga yang dihimpun dari nasabah dicatat sebagai liabilitas, sementara dana tersebut disalurkan kembali dalam bentuk kredit.

Karena itu, analisis DER sebaiknya tidak dilakukan secara terpisah, melainkan dipadukan dengan rasio keuangan lainnya, seperti Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV). PER mengukur valuasi saham terhadap laba perusahaan, sedangkan PBV membandingkan nilai pasar perusahaan dengan nilai buku atau ekuitasnya. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag