Tesla Masih Memimpin, tetapi Produsen China Kian Mendominasi Pasar Kendaraan Listrik Global
Pasar kendaraan listrik global mulai menunjukkan perubahan arah yang semakin jelas. Jika selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan kendaraan listrik didorong bersama oleh battery electric vehicle (BEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), kini kendaraan listrik berbasis baterai mulai mengambil alih peran sebagai motor utama pertumbuhan industri.
BEV terus membesar
Mengutip Cleantechnica.com (2/7/2026), data penjualan global Mei 2026 menunjukkan registrasi kendaraan plug-in mencapai sekitar 1,7 juta unit atau meningkat 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, di balik pertumbuhan yang relatif moderat tersebut tersimpan perubahan struktur pasar yang cukup signifikan. Penjualan BEV tumbuh 15% secara tahunan, sedangkan PHEV justru turun 15%. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak 2019, PHEV mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut.
Perubahan tersebut membuat pangsa BEV terus membesar. Pada Mei 2026, sekitar 71% dari seluruh kendaraan plug-in yang terjual merupakan BEV. Secara kumulatif sejak awal tahun, komposisinya mencapai 70% BEV dan 30% PHEV, mendekati level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa pasar kendaraan listrik mulai bergerak menuju elektrifikasi penuh. Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya ketika PHEV dipandang sebagai teknologi transisi, kini konsumen semakin banyak beralih langsung ke kendaraan listrik murni.
Menariknya, perlambatan pasar global terutama dipengaruhi dua pasar terbesar dunia, yakni China dan Amerika Serikat. Pengurangan insentif kendaraan listrik di China serta berakhirnya subsidi di Amerika Serikat menahan pertumbuhan global.
Namun, apabila kedua negara tersebut dikeluarkan dari perhitungan, penjualan kendaraan listrik justru melonjak 39% secara tahunan, sementara BEV tumbuh hingga 47%. Kondisi ini menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik di berbagai negara lain masih berlangsung sangat kuat.

Tesla masih memimpin
Persaingan model kendaraan listrik juga semakin menarik. Tesla Model Y masih mempertahankan status sebagai mobil listrik terlaris di dunia dengan penjualan lebih dari 93 ribu unit selama Mei, disusul Geely Xingyuan sekitar 47 ribu unit dan Tesla Model 3 sebanyak 44 ribu unit.
Meski demikian, dominasi Tesla semakin mendapat tekanan dari produsen China. BYD Song mulai kembali menguat berkat generasi terbaru yang telah dilengkapi teknologi pengisian daya ultra-cepat. Sementara itu, BYD Yuan Up/Atto 2 juga menunjukkan pertumbuhan setelah memperoleh penyegaran model dan tambahan varian PHEV.
Salah satu pendatang baru yang paling mencuri perhatian adalah Leapmotor A10. Baru tiga bulan dipasarkan, crossover listrik kompak tersebut langsung menembus delapan besar penjualan global dengan sekitar 22 ribu unit. Pencapaian ini memperkuat posisi Leapmotor sebagai salah satu produsen kendaraan listrik dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Di luar para pemain utama, MG4 generasi terbaru juga mulai memperlihatkan daya saing yang kuat di segmen hatchback kompak. Wuling Mini EV kembali menunjukkan pemulihan, sementara AITO M6, Qiyuan Q05, Xpeng Mona M03, hingga Wuling Bingo generasi baru turut memperlihatkan peningkatan penjualan.
Era baru industri otomotif
Perubahan yang lebih besar justru terlihat pada tingkat korporasi. Produsen kendaraan listrik asal China terus memperbesar pangsa pasar global, bukan hanya melalui penjualan domestik, tetapi juga ekspansi ekspor ke berbagai kawasan.
Leapmotor bahkan berhasil melampaui Volkswagen dalam peringkat produsen kendaraan listrik global sepanjang tahun berjalan. Xiaomi, yang baru memasuki industri otomotif sekitar dua tahun lalu, juga berhasil menjual kendaraan listrik lebih banyak dibandingkan Mercedes-Benz dalam segmen kendaraan listrik.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa transformasi industri otomotif global tidak lagi hanya ditentukan oleh perusahaan otomotif tradisional. Perusahaan teknologi dan startup kendaraan listrik kini mampu berkembang jauh lebih cepat dengan memanfaatkan inovasi perangkat lunak, efisiensi rantai pasok, dan siklus pengembangan produk yang lebih singkat.
Bagi produsen otomotif konvensional, perubahan ini menjadi pengingat bahwa transisi menuju elektrifikasi bukan lagi sekadar mengikuti tren, melainkan menjadi faktor utama dalam mempertahankan daya saing di pasar global. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.