KAI Catatkan Volume Angkutan Ritel 123.810 Ton di Semester I, Naik 5%
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume angkutan ritel sepanjang Semester I/2026 mencapai 123.810 ton. Capaian ini meningkat 5,06% dibandingkan Semester I/2025 sebanyak 117.851 ton. Rata-rata volume angkutan retail KAI pada Januari–Juni 2026 mencapai sekitar 20.635 ton per bulan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata semester pertama di 2025 sekitar 19.642 ton per bulan dan semester I/2024 sekitar 16.936 ton per bulan.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan angkutan ritel menjadi salah satu ruang pertumbuhan penting dalam ekosistem logistik nasional. Menurutnya, layanan ini dapat membantu pelaku usaha mendapatkan pilihan distribusi antarkota yang lebih terjadwal, berkapasitas besar, dan terhubung dengan jaringan logistik mitra.
“Angkutan ritel KAI tumbuh karena pasar membutuhkan distribusi yang lebih efisien, terencana, dan mampu menjangkau lintas kota. Ini menjadi sinyal bahwa kereta api dapat mengambil peran lebih besar dalam sistem logistik nasional, termasuk untuk mendukung pelaku usaha dan UMKM,” ujarnya pada keterangan tertulis yang dikutip SWA.co.id di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Dia menjelaskan layanan angkutan ritel KAI ini dijalankan dengan model bisnis business to business (B2B) melalui kemitraan strategis bersama mitra logistik. Melalui skema tersebut, pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat dapat memanfaatkan layanan pengiriman berbasis kereta api melalui jaringan mitra, service point, serta layanan distribusi lanjutan yang tersedia di pasar. Dalam rantai logistik, kereta api berperan kuat pada middle-mile atau perjalanan utama antarkota.
Barang dikonsolidasikan oleh mitra, dibawa menggunakan kereta api pada lintas utama, lalu diteruskan melalui layanan distribusi lanjutan menuju titik penerima. Pola ini membuat kereta api dapat menjadi tulang punggung distribusi jarak menengah dan jarak jauh, sementara angkutan jalan tetap berperan penting sebagai penghubung awal dan akhir.
“Kereta api memiliki keunggulan pada kapasitas, keteraturan jadwal, dan efisiensi untuk perjalanan antarkota. Ketika peran ini dipadukan dengan jaringan first-mile dan last-mile dari mitra, pelaku usaha bisa mendapatkan rantai distribusi yang lebih kompetitif,”tuturnya.
Anne menambahkan, pertumbuhan angkutan ritel KAI dapat menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan logistik nasional berbasis rel. Menurutnya, kereta api memiliki ruang besar untuk menjadi tulang punggung distribusi antarkota, terutama pada lintas dengan volume barang yang stabil, jarak tempuh menengah hingga jauh, serta kebutuhan pengiriman yang terjadwal.
Dia mengatakan penguatan angkutan ritel berbasis kereta api perlu dilihat sebagai bagian dari agenda besar efisiensi logistik nasional. Ketika barang ritel dapat dikonsolidasikan lebih baik, dihubungkan ke jaringan rel, lalu diteruskan melalui distribusi lanjutan oleh mitra, biaya pengiriman berpotensi semakin kompetitif. Dampaknya akan kembali kepada pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat melalui rantai pasok yang lebih sehat.
KAI akan terus membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah, mitra logistik, pelaku usaha, kawasan industri, serta UMKM untuk memperbesar peran kereta api dalam distribusi barang ritel. Dukungan terhadap simpul logistik, integrasi antarmoda, akses first-mile dan last-mile, serta konsolidasi pengiriman ritel menjadi kunci agar kereta api dapat memberi kontribusi lebih besar dalam menekan biaya logistik nasional.
Tren pertumbuhan yang konsisten, angkutan ritel KAI menjadi sinyal bahwa logistik berbasis rel layak ditempatkan sebagai salah satu agenda strategis pemerintah.“Semakin besar porsi barang yang beralih ke kereta api untuk perjalanan utama antarkota, semakin besar juga peluang Indonesia membangun sistem distribusi yang lebih efisien, kompetitif, dan memberi manfaat langsung bagi ekonomi masyarakat,” tutup Anne.(*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.