Japfa Comfeed Indonesia: Perkuat Fondasi Bisnis Agrifood Berkelanjutan

Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs Japfa Comfeed Indonesia. (Dok: Pribadi)
Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs Japfa Comfeed Indonesia. (Dok: Pribadi)

Sebagai salah satu perusahaan agribisnis terintegrasi terbesar di Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (dahulu bernama PT Java Pelletizing Factory) menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menjaga pertumbuhan bisnis. Dinamika ekonomi global, tekanan biaya hidup, perubahan iklim, hingga fluktuasi harga bahan baku menjadi faktor yang harus diantisipasi agar perusahaan tetap mampu memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat sekaligus menciptakan nilai (value creation) bagi para pemegang saham.

Model bisnis terintegrasi

Dalam menghadapi kondisi tersebut, Japfa Comfeed memilih untuk memperkuat fondasi bisnisnya melalui strategi jangka panjang. Perusahaan ini tidak ingin hanya berfokus pada pertumbuhan volume usaha, tetapi juga membangun efisiensi di seluruh rantai bisnis, memperkuat struktur keuangan, serta mengintegrasikan prinsip keberlanjutan sebagai bagian dari strategi korporasi.

Japfa Comfeed menerapkan model bisnis industri terintegrasi yang mencakup penerapan usaha skala besar, teknologi pakan canggih, dan genetika unggul. Perusahaan ini juga menjalankan strategi diversifikasi protein (ayam, ikan, udang, dan sapi) untuk memenuhi preferensi konsumen. Selain itu, perusahaan emiten ini pun melakukan investasi pada unit pengolahan, seperti pengadaan rumah potong hewan dan produk konsumen di segmen hilir.

“Model bisnis terintegrasi tersebut diharapkan dapat memperluas rantai nilai perusahaan, serta mampu memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam menghadapi dinamika pasar,” kata Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs Japfa Comfeed Indonesia, kepada SWA.

Bagi Japfa Comfeed, menjaga fundamental perusahaan tetap kuat menjadi kunci untuk mempertahankan kinerja di pasar modal. Perusahaan ini berupaya menjadi penyedia protein hewani yang efisien dengan harga terjangkau agar mampu bertahan ketika industri memasuki fase penurunan siklus. Salah satu praktiknya, momentum pertumbuhan volume penjualan, terutama pada periode Ramadan, terus dijaga, bersamaan dengan upaya memperbaiki margin bisnis pakan melalui penyesuaian harga jual yang lebih stabil.

Dalam hal pengelolaan belanja modal atau capital expenditure (capex), besaran capex setiap tahun disusun berdasarkan proyeksi pertumbuhan permintaan pasar. Namun, menurut Rachmat, pihaknya tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian melalui kebijakan alokasi modal yang fleksibel.

Kebijakan alokasi modal bersifat fleksibel tersebut dijalankan dengan filosofi “membangun kapal kecil, bukan kapal besar”. Dengan demikian, perusahaan dapat menyesuaikan pengeluaran capex di pertengahan tahun untuk menjaga arus kas secara hati-hati. “Selama masa krisis, capex non-esensial akan ditunda,” ujar Rachmat.

Sementara itu, dalam pengelolaan struktur modal, Japfa Comfeed menunjukkan langkah progresif dan inovatif. Pada 2021, perusahaan ini menerbitkan Sustainable-Linked Bond (SLB) senilai US$350 juta yang merupakan penerbitan pertama di industri agrifood dunia.

Kemudian di tahun 2022, perusahaan ini melanjutkan langkah tersebut melalui penerbitan Sustainable-Linked Loan (SLL). Lalu, di tahun 2025 Japfa Comfeed menerbitkan SLL senilai US$150 juta yang untuk pertama kalinya memasukkan indikator sosial (Social KPI), dengan fokus pada peningkatan status gizi dan kesejahteraan anak-anak, khususnya di wilayah pedesaan, melalui program Japfa Comfeed for Kids.

Inisiatif sustainable finance tersebut, kata Rachmat, turut berkontribusi terhadap membaiknya struktur keuangan perusahaan. Indikasinya, rasio Net Debt to Equity berhasil ditekan secara signifikan dari 52,5% pada Maret 2025 menjadi 28,9% pada Maret 2026.

Komitmen berkelanjutan

Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan Japfa Comfeed melalui pendekatan yang berbasis ilmu pengetahuan. Perusahaan ini tercatat sebagai perusahaan perunggasan terintegrasi pertama di Indonesia yang secara formal mengintegrasikan kajian ilmiah ke dalam strategi pembiayaannya melalui penerapan Life Cycle Assessment (LCA).

Kajian menyeluruh tersebut menjadi fondasi dalam mengakses berbagai instrumen pembiayaan berkelanjutan di tingkat global. Hal ini semakin relevan seiring meningkatnya perhatian investor, pemegang obligasi, dan lembaga keuangan terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam pengambilan keputusan investasi.

Di tengah berkembangnya praktik keuangan berkelanjutan, lembaga pembiayaan tidak lagi hanya menilai komitmen perusahaan berdasarkan target, tetapi juga membutuhkan metode pengukuran yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks inilah, kata Rachmat, LCA berperan sebagai instrumen berbasis sains yang mampu memberikan dasar yang kredibel dalam penetapan target keberlanjutan sekaligus mengukur pencapaiannya secara objektif.

Penguatan bisnis juga didukung oleh berbagai inovasi operasional. Japfa Comfeed mengembangkan teknologi biosekuriti yang lebih modern, membangun unit riset vaksin mandiri yang disebut Vaksindo, serta melakukan ekspansi bisnis makanan konsumen melalui Japfa Comfeed Food Indonesia.

Seluruh strategi tersebut, kata Rachmat, berjalan beriringan dengan komitmen perusahaan terhadap prinsip ESG yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan kedua, yaitu mewujudkan dunia “tanpa kelaparan” (zero hunger).

Lebih lanjut Rachmat menjelaskan, fokus terdekat pihaknya adalah agenda 2030, yaitu menurunkan emisi scope 1 sebesar 25% per kilogram live bird. “Pengurangan emisi ini harus dimulai dari efisiensi operasional yang nyata, bukan sekadar offsetting,” katanya.

Untuk menjalankan strategi tersebut, Japfa Comfeed memulai dari area-area yang paling material dan paling dapat dikendalikan, seperti efisiensi energi, pemanfaatan energi yang lebih rendah emisi termasuk penggunaan solar panel dan biomassa, optimalisasi sistem pendingin dan boiler, pengurangan material kemasan, pemanfaatan ulang limbah organik, hingga langkah digitalisasi data sustainability.

Komitmen Japfa Comfeed terhadap keberlanjutan didukung oleh Japfa Sustainability Reporting System, sebuah ekosistem digital yang mengelola 5.095 titik data ESG setiap bulan di seluruh operasional perusahaan ini di berbagai negara.

Tidak hanya fokus pada operasional internal, Japfa Comfeed juga berkontribusi dalam pengembangan standar industri global melalui kolaborasi dengan United Nations Environment Programme (UNEP) dalam studi internasional pertama mengenai mata pencarian peternak plasma. Hasil studi tersebut turut menjadi dasar dalam penyusunan pedoman S-LCA untuk industri perunggasan global.

Rachmat juga menegaskan bahwa perusahaan akan terus memperkuat fundamental bisnis sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola perusahaan. “Kami akan terus memperkuat fundamental perusahaan melalui peningkatan saham publik yang sehat, likuiditas saham, transparansi kepemilikan, dan tata kelola yang semakin kuat,” katanya. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag