DBS Catatkan Kinerja Positif di Bisnis Wealth Management
PT Bank DBS Indonesia mencatatkan kinerja positif pada bisnis wealth management sepanjang semester I 2026. Melalui layanan DBS Treasures Private Client, perseroan membukukan pertumbuhan Total Assets Under Management (AUM) sebesar 13% secara tahunan (year-on-year/yoy), seiring meningkatnya kebutuhan nasabah akan solusi investasi yang lebih personal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain pertumbuhan AUM, rata-rata AUM per nasabah meningkat 15%, sementara Total Income tumbuh 34%. Kinerja tersebut didorong oleh kenaikan Investment Fee Income sebesar 65%, yang turut mengerek Net Profit After Tax (NPAT) bisnis ini hingga 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Consumer Banking Director Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan kebutuhan pengelolaan kekayaan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada pencarian imbal hasil investasi, tetapi juga mencakup solusi yang lebih menyeluruh sesuai dengan tujuan finansial setiap nasabah.
"Selain memanfaatkan peluang global untuk pertumbuhan kekayaan yang optimal, pengelolaan kekayaan saat ini menjadi multifaceted, yaitu mencakup solusi yang sangat dipersonalisasi seperti produk KPD dengan high-touch relationship model, layanan corporate wealth management, hingga persiapan suksesi keluarga. DBS Treasures Private Client menghadirkan wealth management yang personal namun holistik untuk mendukung berbagai keputusan finansial dalam setiap fase kehidupan," ujarnya di Jakarta, Rabu (15/7/2026)
Untuk mendukung layanan tersebut, Bank DBS Indonesia juga memperkuat kompetensi para Relationship Manager (RM) melalui pendirian Wealth Management Institute. Program ini mencakup pelatihan mengenai strategi menghadapi volatilitas pasar global, solusi bisnis, tren industri, perencanaan pensiun, succession planning, hingga pengembangan soft skills agar mampu menjawab kebutuhan nasabah yang semakin kompleks.
Sejalan dengan strategi tersebut, Bank DBS Indonesia juga memperkenalkan evolusi layanan DBS Treasures Private Client yang mengusung tiga pilar utama, yakni menghadirkan insight investasi yang tepercaya, pendampingan oleh tim ahli, serta berbagai layanan eksklusif yang disesuaikan dengan tahapan kehidupan nasabah. Melalui pendekatan ini, nasabah diharapkan memperoleh arahan investasi yang lebih komprehensif sekaligus solusi wealth management jangka panjang.
Sebagai bagian dari penguatan layanan wealth management, Bank DBS Indonesia menggelar DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World. Forum yang ditujukan bagi nasabah private dan priority banking ini menghadirkan Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal, Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya, para pakar, mitra manajer investasi, serta jajaran ahli Bank DBS Indonesia.
Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, mengatakan forum tersebut dirancang untuk membantu nasabah memahami dinamika geopolitik dan ekonomi global yang memengaruhi pengelolaan kekayaan.
"DBS Insights Forum 2026 dirancang khusus untuk nasabah private dan priority banking dalam menavigasi pengelolaan kekayaan di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi. Dengan menyajikan beragam perspektif, forum ini diharapkan memberikan panduan dan praktik terbaik dalam mengembangkan kekayaan dan usaha, hingga perencanaan suksesi keluarga yang berkelanjutan,"jelasnya.
Dalam forum tersebut, para panelis membahas perkembangan geopolitik Amerika Serikat dan Asia, prospek ekonomi Indonesia, hingga strategi pengelolaan kekayaan lintas generasi. Sementara itu, DBS Chief Investment Office (CIO)dalam pandangan investasi kuartal III 2026 merekomendasikan peningkatan alokasi pada saham Asia di luar Jepang, obligasi korporasi negara maju, emas, aset swasta, dan hedge funds.
Menurut DBS, emas masih menjadi salah satu instrumen yang menarik sebagai diversifikasi portofolio dan lindung nilai karena didukung prospek jangka panjang di tengah meningkatnya risiko geopolitik, tekanan inflasi, serta tren dedolarisasi global. Bank DBS Indonesia menilai peluang investasi pada semester II 2026 tetap terbuka, meski volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi, sehingga investor perlu menjaga disiplin diversifikasi untuk membangun portofolio yang lebih tangguh. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.