Dunia Multipolar Buka Peluang Baru bagi Ekonomi Indonesia
Lanskap ekonomi global memasuki babak baru. Setelah lebih dari tiga dekade dunia berada dalam konfigurasi unipolar pasca-Perang Dingin, rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok kembali membentuk tatanan multipolar. Persaingan kedua negara kini meluas dari ranah militer ke ekonomi, teknologi, hingga diplomasi, memicu volatilitas pasar dari Timur Tengah hingga Indo-Pasifik.
Membangun kepercayaan pasar
Pergeseran tersebut tercermin pada Economic Surprise Index Bloomberg per pertengahan Juli 2026. Indeks Amerika Serikat berada di level 55,0, menunjukkan kinerja ekonomi yang konsisten melampaui ekspektasi pasar.
Sebaliknya, indeks Tiongkok berada di level -20,8, mengindikasikan data ekonomi yang masih berada di bawah perkiraan. Sementara itu, kawasan Asia Pasifik mencatatkan indeks 51,5 yang mencerminkan optimisme terhadap prospek pertumbuhan.
Di tengah polarisasi tersebut, negara-negara middle powers diperkirakan akan memainkan peran yang semakin penting dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Dengan posisi strategis, ukuran ekonomi yang terus bertumbuh, serta stabilitas geopolitik yang relatif terjaga, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu penggerak utama di kawasan.
Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai Indonesia memiliki modal geopolitik yang jauh lebih kuat dibandingkan beberapa dekade lalu. Menurutnya, Indonesia kini bukan lagi dipandang sebagai negara dunia ketiga, melainkan anggota G20 dengan status negara berpendapatan menengah ke atas.
"Geopolitik kita relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara sekaligus menjaga stabilitas kawasan. Namun, modal geopolitik saja tidak cukup. Kita tetap membutuhkan langkah-langkah konkret untuk memenangkan kepercayaan pasar dunia," ujar Dino dalam DBS Insight Forum: A New Lens on a Multipolar World, Senin (20/7/2026).
Di tengah tingginya mobilitas modal global, investor akan terus mencari negara yang mampu menghadirkan kepastian kebijakan, stabilitas ekonomi, dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Karena itu, tantangan Indonesia kini bukan lagi semata menjaga stabilitas politik dan keamanan, tetapi juga membangun kepercayaan pasar melalui penguatan fundamental ekonomi.
Melihat perubahan lanskap global tersebut, Bank DBS Indonesia menilai lahir peluang investasi baru yang perlu disikapi secara strategis. Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo mengatakan keputusan investasi saat ini perlu didasarkan pada tren struktural jangka panjang, bukan semata sentimen pasar.
"Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan. Saat ini kami melihat terdapat tiga kawasan utama yang menarik untuk dicermati, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia," katanya dalam kesempatan yang sama.
Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI). Di sisi lain, Tiongkok berhasil mempercepat pemanfaatan AI di berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas. Sementara itu, Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional.
Selain menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia, Asia juga memainkan peran strategis dalam rantai pasok industri masa depan, mulai dari produksi semikonduktor di Taiwan dan Korea Selatan hingga pasokan mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit dari Indonesia. Dengan konsumsi domestik yang kuat serta ketergantungan terhadap ekspor yang relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan, Indonesia dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang lebih baik menghadapi gejolak eksternal.
Memperkuat fundamental domestik
Di luar dinamika geopolitik global, penguatan fundamental domestik tetap menjadi prasyarat utama agar Indonesia mampu mempertahankan daya saing sekaligus menarik investasi secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya menjelaskan meningkatnya rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, disertai kecenderungan berbagai negara menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih proteksionis, menuntut setiap negara semakin adaptif dalam menyusun strategi ekonomi maupun diplomasi.
Karena itu, langkah Indonesia memperluas kemitraan strategis — mulai dari bergabung dengan BRICS hingga mempererat hubungan dengan Amerika Serikat — merupakan bagian dari strategi menjaga kepentingan nasional di tengah perubahan tatanan global. Namun, daya saing Indonesia pada akhirnya tetap ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi di dalam negeri.
"Posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya. Ketika regulasi memberikan kepastian, birokrasi semakin efektif, iklim investasi kondusif, serta pembangunan infrastruktur terus diperkuat, Indonesia memiliki daya saing yang semakin tinggi di tengah dinamika geopolitik global," ujar Yunarto.
Menurutnya, kebijakan yang berorientasi pada kepentingan nasional perlu didukung oleh perencanaan berbasis data, tata kelola yang baik, serta fondasi fiskal yang kuat agar mampu menjaga kepercayaan investor sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pandangan tersebut sejalan dengan analisis Bank DBS Indonesia mengenai prospek ekonomi nasional. Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry mengatakan, meskipun ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan, fundamental Indonesia tetap kuat sehingga prospek pertumbuhan jangka menengah masih positif.
"Saat ini Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik, sementara Asia terus mencatat momentum pertumbuhan yang positif. Di sisi lain, Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus. Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga program hilirisasi yang terus meningkatkan nilai tambah industri nasional," ujar Boy.
Di saat yang sama, pesatnya investasi global di sektor AI juga membuka peluang baru bagi Indonesia sebagai salah satu produsen utama nikel dan mineral strategis yang dibutuhkan dalam rantai pasok industri teknologi masa depan. Pertumbuhan investasi AI diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap berbagai komoditas strategis Indonesia sehingga menjadi salah satu katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah.
Meski volatilitas pasar masih dipengaruhi perkembangan geopolitik, kebijakan fiskal, likuiditas global, serta arah suku bunga, Bank DBS Indonesia menilai visibilitas pasar saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa bulan lalu. Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, Indonesia memiliki peluang untuk terus menarik investasi dan mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah perubahan lanskap ekonomi global. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.