Mirae Asset Sekuritas Cermati Bobot Indonesia di Emerging Market MSCI Terus Turun, Mengapa?

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin menjabarkan materi tentang tren bobot saham Indonesia di indeks global di acara daring media gathering pada Selasa (21/7/2026). (Tangkapan layar: Nadia K. Putri/SWA)
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin menjabarkan materi tentang tren bobot saham Indonesia di indeks global di acara daring media gathering pada Selasa (21/7/2026). (Tangkapan layar: Nadia K. Putri/SWA)

Mirae Asset Sekuritas Indonesia (kode broker YP) memaparkan tren penurunan bobot Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Emerging Markets yang dinilai turut memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham domestik.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin mengatakan, tren penurunan bobot Indonesia di kelompok Emerging Markets telah berlangsung dalam dua dekade terakhir. Per Juni 2026, bobot Indonesia tercatat sebesar 0,4%, turun dari 1,2% pada Desember 2025 atau menyusut sekitar 63% secara year-to-date.

Berdasarkan data yang dihimpun Mirae Asset Sekuritas, bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets sempat berada di kisaran 1,5% pada Juni 2006 dan mencapai puncaknya sebesar 3,2% pada Juni 2012.

Per Juni 2026, Indonesia menempati peringkat ke-17 dalam kelompok Emerging Markets dengan bobot 0,4%, setara dengan Chile (peringkat ke-16), Peru (ke-18), dan Turki (ke-19).

Di atas Indonesia terdapat Qatar (peringkat ke-15), Yunani (ke-14), dan Kuwait (ke-13) yang masing-masing memiliki bobot 0,5%. Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia berada di peringkat ke-12 dengan bobot 0,9%, sedangkan Thailand di peringkat ke-11 dengan bobot 1%.

“Dengan bobot kita yang menurun, ini juga berdampak terhadap posisi investor asing. Kita lihat secara year-to-date, sudah terjadi arus modal keluar sekitar US$5 miliar, baik pasif maupun aktif. Di sini terlihat pentingnya bobot kita di MSCI atau penyedia indeks,” kata Wilbert dalam Media Gathering secara daring, Selasa (21/7/2026).

Selain bobot indeks, Wilbert juga menyoroti penurunan kepemilikan investor asing di pasar saham Indonesia dalam satu dekade terakhir. Pada Juni 2017, bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets masih mencapai sekitar 2,5%, sedangkan per Juni 2026 turun menjadi 0,4%.

Sejalan dengan itu, porsi kepemilikan investor asing di pasar saham Indonesia juga menurun, dari sekitar 54,6% pada Juni 2017 menjadi 40,6% per Juni 2026.

Menurut Wilbert, peluang pasar saham Indonesia turun kelas ke kelompok Frontier Markets masih terbuka apabila berbagai persoalan struktural tidak dibenahi. Ia menyebut investor asing masih mencermati sejumlah aspek, antara lain porsi saham beredar di publik (free float), transparansi data, dan kualitas tata kelola pasar.

“Mungkin mereka menduga adanya potensi goreng-goreng saham. Mereka [MSCI] memberikan pengumuman, meminta harus ada perbaikan dan memberikan ancaman bila tidak ada perubahan, maka kita berpotensi mengalami antara, satu penurunan bobot di Emerging Market, kedua reklasifikasi ke Frontier Market,” ujar Wilbert.

Wilbert menjelaskan, dana kelolaan yang mengacu pada indeks MSCI Emerging Markets mencapai sekitar US$1,8 triliun, jauh lebih besar dibandingkan Frontier Markets yang hanya sekitar US$15 miliar.

“Kami perkirakan, skenario terburuk kita pindah ke Frontier, maka sekitar Rp80 triliun, ada dana asing yang mungkin keluar itu terjadi. Ini sudah memperhitungkan berapa dana yang keluar dari Emerging Market dan dana yang masuk dari Frontier Market,” lanjutnya.

Sepanjang tahun ini, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp90 triliun. Jika Indonesia benar-benar direklasifikasi ke Frontier Markets, potensi tambahan arus keluar dana sekitar Rp80 triliun dinilai dapat memberikan tekanan yang signifikan terhadap pasar.

Meski demikian, Wilbert mengatakan MSCI masih memberikan waktu hingga November 2026 bagi Indonesia untuk menunjukkan perbaikan, sembari tetap mempertahankan status pasar saham Indonesia dalam kelompok Emerging Markets.

“Memang berita bagusnya kita bertahan di Emerging Market, tapi dengan syarat dan ketentuan, mereka melihat pasar modal kita sudah mengalami reformasi... tapi yang mereka perhatikan adalah konsistensinya. Mereka tidak mau hanya melihat data perubahan sekejap,” tutup Wilbert. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag