Harta Djaya Karya (MEJA) Akuisisi Trimata Coal Perkasa dan Siapkan Rights Issue
PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) telah memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Ketiga pada 21 Agustus 2026. Ini juga mencakup persiapan perseroan untuk menggelar right issue dalam rangka rencana akuisisi PT Trimata Coal Perkasa (TCP), serta rencana perubahan bidang usaha menjadi perusahaan induk.
“Perseroan juga sedang menyelesaikan proses audit laporan keuangan periode Juni 2026 dan melakukan penunjukan Kantor Jasa Penilai Publik sehubungan dengan rencana perubahan bidang usaha MEJA menjadi perusahaan induk,” jelas manajemen MEJA dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (22/7/2026).
Manajemen perseroan juga mengungkap, informasi tersebut akan berdampak pada rencana aksi korporasi MEJA, struktur permodalan, arah pengembangan usaha, serta persepsi pemegang saham dan investor terhadap prospek perseroan.
Dalam RUPSLB Ketiga tersebut, perseroan akan meminta restu pemegang saham untuk mata acara Persetujuan Pemberian Kuasa kepada Direksi untuk melaksanakan penambahan modal dasar perseroan.
Penambahan modal melalui right issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) diumumkan perseroan di keterbukaan informasi pada 24 Juni 2026. Adapun, perseroan dengan Trimata Coal Perkasa akan right issue untuk melaksanakan swap share 45% saham Trimata Coal Perkasa.
Direktur Utama PT Trimata Coal Perkasa, Subagio Wirjoatmojo mengungkapkan, perusahaan telah menunjuk Kantor Akuntan Publik Eric Sentosa Hadiwinata untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan per 31 Desember 2025. Laporan tahun buku 2025 akan terbit di awal Juli 2026.
Perusahaan juga telah menunjuk Competent Person (CP) untuk melakukan studi estimasi sumber daya dan cadangan batu bara tambang terbuka milik Trimata Coal Perkasa di Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Izin usaha pertambangan tersebut berlaku sejak 22 November 2013 sampai 21 November 2033.
“Berdasarkan laporan CP tersebut, diketahui cadangan batu bara yang dapat ditambang (mineable deposit) adalah sebanyak 400 juta ton,” jelas Subagio.
Sebelum perdagangan sesi kedua, saham MEJA di sesi pertama menguat 10% dari Rp80 ke Rp88, melansir data perdagangan BEI pukul 13.18 WIB. Nilai kapitalisasi pasarnya sebesar Rp229 miliar, dengan volume transaksi sebanyak 61,89 juta saham.
Data BEI tersebut juga menunjukkan pada sepanjang sesi pertama, saham MEJA membukukan nilai transaksi sebesar Rp5,38 miliar. Saham tersebut juga diperdagangkan investor dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.835 kali. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.