ESDM Andalkan Surplus Listrik EBT untuk Tekan Biaya Green Hydrogen
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai biaya produksi green hydrogen berpotensi lebih kompetitif apabila memanfaatkan kelebihan pasokan listrik dari pembangkit energi baru terbarukan (EBT), seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan listrik yang tidak terserap sistem kelistrikan dapat dimanfaatkan untuk memproduksi hidrogen melalui proses elektrolisis.
Menurut Eniya, pemanfaatan listrik berlebih dari pembangkit EBT menjadi salah satu cara untuk menekan biaya produksi green hydrogen sehingga daya saingnya dapat meningkat dibandingkan jenis hidrogen lainnya. Peluang tersebut dinilai semakin terbuka seiring rencana penambahan kapasitas PLTS di Indonesia.
“PLTS 100 gigawatt (GW), utilisasinya besar, maka listrik yang dihasilkan pada periode demand rendah dapat langsung dialihkan untuk memproduksi hidrogen tanpa harus disimpan terlebih dahulu menggunakan sistem baterai,” jelas Eniya dalam pemaparannya pada Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, skema tersebut memungkinkan kelebihan produksi listrik pada periode permintaan rendah dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen, sehingga energi dari pembangkit EBT tidak terbuang.
Data Kementerian ESDM menunjukkan biaya produksi green hydrogen saat ini masih berada pada kisaran US$3–7 per kilogram. Sebagai perbandingan, biaya produksi grey hydrogen berkisar US$1–2 per kilogram, blue hydrogen sekitar US$1,5–3 per kilogram, sedangkan natural hydrogen atau white hydrogen diperkirakan hanya US$0,5–1,5 per kilogram.
Eniya mengatakan pengembangan industri hidrogen juga berpotensi mendukung kebutuhan bahan baku bagi industri pupuk dan kimia dalam negeri yang saat ini masih bergantung pada impor.
Ia menjelaskan hidrogen merupakan energi sekunder yang diproduksi dari energi primer. Karena itu, pengembangannya sangat bergantung pada ketersediaan sumber energi yang digunakan dalam proses produksinya.
Selain mengembangkan green hydrogen, pemerintah mulai mencermati potensi natural hydrogen atau white hydrogen, yakni hidrogen yang terbentuk secara alami di dalam bumi. Menurut Eniya, sumber energi tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif energi primer di masa mendatang. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.