KAI Mulai Akuisisi INKA, Siapkan Industri Hadapi Kebutuhan 156 Rangkaian KRL hingga 2040

KAI Mulai Akuisisi INKA, Siapkan Industri Hadapi Kebutuhan 156 Rangkaian KRL hingga 2040
Kereta Commuter Line Jabodetabek seri iE305 yang merupakan kereta produksi PT INKA . (Foto : KAI).

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI resmi memulai proses akuisisi terhadap PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA. Langkah korporasi ini menjadi bagian dari strategi memperkuat ekosistem industri perkeretaapian nasional melalui integrasi antara operator dan produsen sarana kereta.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin mengatakan, penyatuan KAI dan INKA diperlukan untuk membangun rantai nilai industri yang lebih terintegrasi. Menurutnya, hubungan antara operator dan pemasok selama ini belum mampu membentuk ekosistem industri yang utuh.

"Kami tidak melihat value chain. Karena itu INKA sedang kami integrasikan agar menjadi satu ekosistem dengan layanan yang dijalankan KAI," ujar Bobby.

Ia menjelaskan, meningkatnya kebutuhan sarana perkeretaapian nasional menjadi salah satu alasan utama di balik aksi korporasi tersebut. Hingga 2040, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 156 rangkaian kereta rel listrik (KRL), sehingga kapasitas industri manufaktur dalam negeri perlu dipersiapkan sejak dini.

Menurut Bobby, penguatan sektor manufaktur merupakan elemen penting dalam mendukung agenda industrialisasi nasional. Seiring meningkatnya layanan transportasi publik, industri domestik juga harus mampu memenuhi kebutuhan produksi sarana perkeretaapian secara berkelanjutan.

Kerja sama bisnis KAI dan INKA dalam pengadaan armada pun terus berlanjut. Sejak 2023, KAI telah memesan 192 unit kereta atau 16 trainset dari INKA dengan nilai kontrak sekitar Rp3,85 triliun.

Selain itu, terdapat proyek retrofit 24 unit KRL atau dua trainset yang masih dalam tahap penyelesaian di fasilitas produksi INKA. KAI juga berencana mengadakan 96 unit KRL baru atau delapan trainset senilai sekitar Rp2,05 triliun. Namun, penandatanganan kontrak tersebut masih menunggu realisasi penyertaan modal negara (PMN).

Kebutuhan armada diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penumpang dan program peremajaan kereta yang memasuki akhir masa operasional. Pada 2027, KAI menargetkan menghadirkan delapan rangkaian KRL baru sekaligus memensiunkan delapan rangkaian lama. Setahun kemudian, sebanyak 32 rangkaian tua dijadwalkan digantikan oleh armada baru.

Saat ini, armada KRL yang masih beroperasi terdiri atas 780 unit JR East Seri 205 dengan usia sekitar 34–41 tahun, serta 128 unit Tokyo Metro Seri 6000 yang memiliki rentang usia serupa.

Sementara itu, Direktur Utama INKA Bambang Jatmika menilai integrasi dengan KAI akan memperkuat sinergi antara pengalaman operator dalam memahami kebutuhan operasional dan kemampuan manufaktur INKA dalam desain, rekayasa, serta produksi sarana perkeretaapian.

Menurutnya, koordinasi yang lebih erat akan mendukung penyusunan proyeksi kebutuhan armada, perencanaan kapasitas produksi, pengembangan teknologi, hingga peningkatan kualitas produk. Melalui integrasi tersebut, industri manufaktur kereta api nasional diharapkan menjadi lebih kompetitif serta mampu menghasilkan sarana yang aman, andal, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag