IHSG Terkoreksi 1,75% ke Level 6.204,63 di Sesi I, Cermati Fase Jenuh Beli dan Sentimen Eksternal

IHSG Terkoreksi 1,75% ke Level 6.204,63 di Sesi I, Cermati Fase Jenuh Beli dan Sentimen Eksternal
Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada papan elektronik di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Kamis (24/6/2026). (Foto: : Nadia K Putri/SWA).n harga saham pada papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada 24 Juni 2026. Foto: Nadia K Putri/SWA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama Jumat (24/7/2026) koreksi 1,75% dari level 6.315,31 ke level 6.204,63. Sejumlah analis menyebut, koreksi ini dipicu dari tekanan jual investor, kenaikan harga minyak dunia, hingga konflik geopolitik yang berlanjut.

“Kami menilai IHSG saat ini secara momentum sudah berada di fase jenuh beli yang terlihat dari indikator Stochastic,” jelas analis saham PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI Sekuritas), Ahmad Faris Mu’tashim dari risetnya pada Jumat siang.

Ahmad mencermati, IHSG salah satunya dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang kembali berada di harga US$90-US$95 per barel. Hal ini mengintai kondisi fiskal negara, meskipun kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I/2026 masih relatif aman, dengan defisit 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Senada, analis pasar modal, Elandry Pratama mengungkap bahwa pelemahan IHSG di sesi pertama perdagangan memang dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Selain harga minyak dunia, masih terdapat kelanjutan tensio geopolitik di Asia Barat. Hal ini menekan daya tarik risiko investor.

“Sementara dari domestik, masih ada tekanan jual asing, profit taking pada saham-saham berkapitalisasi besar, serta meningkatnya ketidakpastian dari sejumlah isu domestik yang membuat pelaku pasar cenderung wait and see,” jelas Elandry dari keterangan tertulisnya ke awak media hari ini.

Meskipun demikian, Elandry melihat bahwa koreksi IHSG yang sempat mencapai lebih dari 2% diklaim cukup dalam, tetapi masih relatif wajar karena dipicu sentimen negatif yang datang bersamaan.

“Selama tidak diikuti perubahan pada fundamental ekonomi domestik, saya melihat pelemahan ini lebih merupakan penyesuaian sentiments pasar dan meningkatnya volatilitas jangka pendek,” tutur Elandry.

Adapun, IHSG masih diproyeksikan bergerak di rentang level 5.880 sampai level 6.000 poin. Ahmad melihat, level tersebut diklaim menjadi area emas berdasarkan rasio Fibonacci. Area tersebut merupakan level support kuat untuk berbalik ke titik pemulihan (rebound).

Menjelang pembukaan sesi kedua perdagangan, IHSG diperkirakan masih akan bergerak dinamis hingga penutupan di pukul 16.00 WIB pada Jumat sore ini. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag