Berebut Pasar Komputer Jinjing
Berdasarkan laporan lembaga riset International Data Corp. (IDC), pada kuartal III/2006 penjualan notebook atau laptop (komputer jinjing) di Asia Pasifik tumbuh 37% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini memang lebih kecil daripada pertumbuhan setahun sebelumnya, yakni 46%. Namun, secara jumlah unit yang terjual, angkanya jauh lebih besar, mencapai 3,3 juta unit. “Walaupun pertumbuhan penjualannya turun, notebook tetap menjadi katalisator penjualan PC di kuartal III/2006 ini,†ujar Bryan Ma, Direktur Riset IDC, seperti dilansir AFP.
Bryan menambahkan, hampir semua negara di kawasan tersebut berhasil melampaui prediksi penjualan di kategori produk ini, termasuk Thailand dan Korea Utara yang baru-baru ini diwarnai kisruh politik. “Permintaan notebook di kuartal-kuartal mendatang diperkirakan terus meningkat,†ujarnya.
Bagaimana pasar Indonesia? Setali tiga uang. Pertumbuhan pasar komputer jinjing sudah jauh melampaui pertumbuhan penjualan personal computer (desktop). “Setiap tahun penjualan notebook selalu tumbuh double digit,†ungkap Martin Wibisono, Manajer Pengembangan Pasar Notebook Hewlett-Packard (HP) Indonesia.
“Dalam beberapa tahun belakangan, pasar notebook nampaknya sedang mendapatkan momentumnya,†ungkap Timothy Sidik, Presiden Direktur PT Zyrexindo Mandiri Buana, membenarkan pernyataan Martin. Maklumlah, dari sisi harga, kini jauh lebih murah, sehingga tak hanya kalangan atas yang sanggup membelinya, tapi juga kalangan menengah. Kenyataan itulah kiranya yang mendorong pasar laptop bergairah beberapa tahun terakhir.
Meluasnya target pasar produk laptop membuat gairah pemain-pemain yang menggarap kategori ini pun memuncak. Berbagai strategi diterapkan untuk menarik konsumen. “Sejak dua tahun lalu, Acer melakukan pembaruan desain, dengan desain yang sangat fungsional dan user friendly, yaitu Folio Design,†ungkap Reinhart Poli, Manajer Pemasaran PT Acer Indonesia. Menurutnya, pembaruan desain ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pemakai.
Saat ini, seluruh laptop keluaran Acer telah mengadopsi bentuk konstruksi melengkung (kurva) di ujung, dan dengan magnesium alloy, warna ditampilkan sedikit hijau. Berbeda dari notebook umumnya, interface notebook Acer ditempatkan di bagian depan dan samping. Sementara itu, di bagian belakang tinggal replikator dan VGA, sehingga lebih memudahkan pengguna.
Desain memang menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen. Seperti diungkapkan Rully Chairunnisa, staf bagian keuangan perusahaan farmasi terkemuka di Jakarta, selain kebutuhan, salah satu alasannya membeli laptop merek Sony tipe Vaio tak lain karena ia sangat tertarik pada desainnya yang mewah. “Laptop masih menjadi barang mewah, jadi desainnya juga harus eksklusif,†ungkapnya.
Ungkapan Rully dibenarkan Martin. Menurutnya, HP amat sadar akan pentingnya desain bagi produk laptop. Karena itu, dari waktu ke waktu HP terus memperbarui desain laptop-nya. Bahkan, seri terakhir yang diluncurkan, Pavilion dv2000 series, tampil dengan desain wah dan dilengkapi dengan kamera 1,3 megapixel.
Martin mengatakan, salah satu strategi HP dalam menggarap pasar notebook adalah menawarkan varian yang lebih lengkap. Hal ini dimaksudkan agar konsumen dapat memilih produk sesuai dengan selera dan kebutuhannya. “Saat ini HP memiliki sekitar 30 varian khusus untuk produk laptop,†ungkapnya. Namun, karena teknologi berkembang begitu cepat, HP pun rajin mengeluarkan produk baru. “Karena itu, kami menggunakan sistem promosi dan degradasi. Produk-produk yang sudah out of date akan hilang dari pasaran.â€Â
Selain melengkapi varian, HP pun rajin menggelar promo. Bahkan, hampir setiap hari iklan HP hadir di berbagai media cetak dengan promo “Harga Coret†(harga diskon). “Tipikal konsumen Indonesia seperti itu, mereka suka harga diskon,†ungkap Martin sambil menyebut bahwa promo tersebut memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap penjualan laptop HP.
Menurutnya, strategi seperti itu tidak akan melemahkan citra HP sebagai vendor teknologi informasi terkemuka di dunia. Lagi pula, tidak semua produk ditawarkan dengan “harga coretâ€Â, hanya produk-produk tertentu yang kebetulan memang sedang digenjot pemasarannya. “Toh, kami tidak sendirian, semua pemain melakukan hal yang sama,†kata Martin.
Harga memang menjadi salah satu alat jualan utama para pemain laptop. Zyrex, misalnya. Sebagai produk lokal, Zyrex mematok harga 10%-15% di bawah harga produk lain. “Kendati lebih murah, bukan berarti dari sisi kualitas kurang baik lantaran semua produk Zyrex sudah mengusung teknologi terbaru,†kata Timothy berkilah. Dengan strategi harga tersebut, Zyrex dapat bersaing dengan produsen multinasional.
Selain harga, Zyrex pun mengedepankan layanan pascajual. Timothy menyebutkan, layanan pascajual merupakan salah satu fokus utama Zyrex. Tak mengherankan, mereka mendirikan sentra layanan di 46 kota di Indonesia. “Hal itu semata-data dalam upaya memberikan layanan terbaiknya kepada konsumen.â€Â
Acer sebagai pemimpin pasar pun tak kalah gencar dalam hal promosi. Selain beriklan di media cetak, berbagai program berhadiah acap digelar. Terakhir, Acer menggelar program promosi “Gila-Gilaan†untuk melanjutkan program promosi sebelumnya, “Tabrak Rejeki†. Program promo yang digelar sejak Februari lalu itu memberikan hadiah tunai Rp 10 juta setiap hari dan grand prize New Toyota Camry untuk setiap pembelian produk Acer. “Indonesia diidentifikasi sebagai pasar potensial. Karena itu, kami melakukan branding secara gencar,†ujar Jason Lim, Presdir Acer Indonesia. Tak cukup hanya itu, Acer pun menggandeng perusahaan asuransi ternama, Allianz, dalam menawarkan program All Risk Protections.
Selain upaya promosi yang kencang, kekuatan Acer juga ditopang jaringan distribusi yang luas. Didukung 6 distributor dan 13 mitra, produk Acer mampu menjangkau hampir seluruh kota di Indonesia. Dan terpenting, dari sisi harga produk, Acer diklaim terjangkau dibandingkan dengan kualitasnya. Menurut Reinhart, harga yang dipatok Acer disesuaikan dengan segmen pasar. Karena itu, positioning produk Acer dibagi menjadi tiga berdasarkan harga: value (membidik usaha kecil-menengah dan pelajar), mainstream (bisnis) serta premium (gaya hidup dan entertainment).
Kendati pemain di kategori produk ini tergolong cukup gencar melakukan aktivitas pemasaran, hampir semua pemain menggunakan pola yang sama. Promosi dilakukan hanya pada media cetak dan point of sales. Tak ada pemain yang berani masuk ke iklan di televisi (TV commercial/TVC) untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. “Tahun lalu kami pernah masuk ke TVC, tapi saat ini dihentikan sementara. Bukan tidak efektif, tapi harus disesuaikan dengan anggaran. Tahun depan rencananya kami akan kembali menggunakan TVC,†ungkap Martin.
Iklan di teve, menurut Martin, sebenarnya cukup efektif membangun awareness konsumen yang lebih luas. Hanya saja, biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan aktivitas ini tergolong sangat tinggi. “Lagi pula, produk ini juga bukan produk yang sangat massal.â€Â
Pengamat pemasaran yang juga Chief Operating Officer IBiI Consulting Darmadi Durianto menyebutkan, untuk kategori produk notebook, promosi lewat media cetak memang lebih efektif, karena bisa cerita lebih banyak. “Bandingkan dengan TVC yang hanya 15 detik,†ujar Darmadi, â€Âapa yang bisa disampaikan dalam waktu yang demikian singkat?â€Â
Meski demikian, menurutnya, jika pertumbuhan pasar mendukung dan potensi pasar yang belum tergarap juga besar, iklan di teve akan menjadi sarana yang sangat powerful. “Jadi, harus kombinasi antara keduanya.â€Â
Darmadi mengatakan, promosi harga diskon yang selama ini dijalankan sebagian besar pemain merupakan pisau bermata dua. Menurutnya, strategi ini memiliki dampak yang cukup baik terhadap penjualan, tapi akan merusak citra jika dilakukan terus dan dalam periode panjang. “Karena, konsumen merasa dibohongi.â€Â
Dijelaskan Martin, faktor lain yang tidak dilupakan HP adalah memperluas jaringan distribusi. Selain terus menambah jumlah HP Store (toko khusus produk HP), HP juga bekerja sama dengan toko yang sejak lama menjadi mitranya, yaitu dengan menyediakan HP Corner. Dengan kerja sama itu, produk HP akan tampil lebih eksklusif ketimbang produk-produk lain yang juga dijual di toko tersebut. “Saat ini jumlah HP Corner sudah mencapai 60 toko. Jumlah ini akan terus kami tingkatkan di masa mendatang.â€Â
Selain pasar ritel (perorangan), sebenarnya laptop juga menjadi konsumsi korporat. Namun uniknya, sebagian besar perusahaan di Indonesia membeli laptop secara eceran. “Bahkan banyak yang membeli bukan lewat outlet resmi,†ungkap Gunawan Nugroho, Chief Representatif Dejian Distribution Limited (distributor resmi Laptop Toshiba). Kenyataan ini menurutnya berbeda dari kondisi di negara-negara lain: segmen pasar B2B biasanya membeli langsung ke agen atau distributor resmi.
Padahal, menurut Gunawan, khusus untuk pasar B2B, Toshiba sebenarnya memiliki tim khusus. Pendekatannya lebih banyak dilakukan para tenaga penjualan yang mendatangi langsung perusahaan yang disasar. Sementara untuk pasar ritel, perusahaan mengandalkan berbagai sarana untuk ajang promosi, mulai dari iklan di berbagai media, demo produk hingga review produk.
Menurut Darmadi, pasar laptop masih berpotensi sangat besar untuk dikembangkan. Bahkan, pasarnya akan makin berkembang dengan terciptanya segmen baru, segmen C. Hal ini sudah dibuktikan dengan masuknya berbagai merek Cina ke pasar. “Segmen ini harus diperhatikan oleh pemain besar. Kalau tidak, mereka akan termakan,†ujarnya. “Bisa saja mereka meluncurkan fighting brand jika tidak mau merek utamanya rusak.â€Â
Mengingat potensi pasar masih sangat besar, ke depan, Timothy menyebutkan, Zyrex akan habis-habisan dan fokus pada pasar laptop. Dalam waktu yang tidak lama lagi, misalnya, pihaknya akan mengeluarkan produk laptop dengan layar 12 inci yang menurutnya bakal diterima pasar dengan baik. Produk yang masih dirahasikan itu akan disasarkan ke tingkat atas dan bawah. “Soal harga, tunggu saatnya,†ujarnya.
Senada dengan Timothy, Martin pun menyebutkan bahwa HP akan terus menggenjot pemasaran produk laptop-nya. Berbagai strategi telah disiapkan. “Saat ini kami memang masih berada di peringkat ketiga, namun kami menargetkan merebut posisi pertama dalam waktu yang tidak terlalu lama,†ujarnya yakin.
Reportase: A. Mohammad B.S. dan Dedi Humaedi