Pasar Tanah Abang, Riwayatmu Kini

Pasar Tanah Abang, Riwayatmu Kini

Langit siang di Pasar Tanah Abang, 19 Februari 2003, menyemburkan warna merah saga. Kepanikan sontak mengepung kawasan grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu. Kobaran api dengan rakus melalap lebih dari 5 ribu kios. Dini harinya, kepedihan menggayuti ribuan pedagang yang mengais asa di pasar yang dibangun Justinus Vinks, anggota Dewan Hindia Belanda, pada 30 Agustus 1735. Ketika itu, pasar yang dibangun petinggi VOC yang kaya raya itu hanya beratap rumbia dan berdinding gedek.

Di tengah rumor yang masih bergentayangan ihwal penyebab kebakaran, sejak tahun 2005 Blok A yang terbakar itu telah berubah wajah. Nuansa Timur Tengah menjadi atmosfer pasar yang setiap harinya dipadati lebih dari 10 ribu pengunjung dengan omset lebih dari Rp 10 miliar per hari. Tak hanya Blok A yang berganti rupa. Usai kebakaran itu, Pasar Tanah Abang bermetamorfosis dari pasar tradisional yang berkesan kumuh menjadi sangat modern. Bahkan, kawasan Tanah Abang menjadi ladang subur para pengembang. Seiring rencana tata ruang wilayah Jakarta 2010, kawasan Tanah Abang yang diproyeksikan menjadi Sentra Primer Ekonomi terus menggeliat. Berbagai proyek properti untuk menjadikan Tanah Abang sebagai pusat bisnis terpadu bermunculan.

Lihat saja, selain peremajaan Blok A yang kontrak pembangunannya dilakukan oleh PT Priamanaya, hadir pusat perbelanjaan Metro Tanah Abang. Konsorsium PT Jakarta Realty juga ikut meramaikan kawasan ini dengan menghadirkan Jakarta City Center (JaCC). Proyek seluas 14 hektare yang dicanangkan mampu menampung lebih dari 10 ribu pedagang ini juga dilengkapi dengan pembangunan hotel dan apartemen. Geliat dan aktivitas perdagangan pun bahkan menjalar sampai ke Kampung Bali, Kebon Kacang, Jati Petamburan. Banyak rumah di sekitar daerah itu yang menjadi gudang, kantor ekspedisi, tempat penginapan, dan kios-kios.

Pasar Tanah Abang makin sumringah. Djan Faridz, Direktur Utama PT Priamanaya, menegaskan bahwa usai kebakaran pada Februari 2003, Pasar Tanah Abang makin maju. Bahkan, ia optimistis Pasar Tanah Abang akan terus bertahan di tengah maraknya pembangunan pusat perbelanjaan baru. Dia justru menilai pembangunan ITC, WTC Mangga Dua, dan JaCC tidak langsung bersaing dengan Pasar Tanah Abang. “Saya melihat mereka itu juga belanja grosirnya di sini,” ungkap Djan. Citra pusat grosir garmen dan aksesori, menurutnya, menjadi modal kuat bagi Pasar Tanah Abang untuk bangkit kembali, terutama Blok A.

Ia menuturkan saat ini Blok A sudah terisi sekitar 5 ribu kios dari 8 ribu kios yang dibangun. Sebelum kebakaran, ada 3 ribuan kios yang terisi. Blok A dibangun 10 bulan setelah kebakaran dengan menelan biaya Rp 700 miliar. Saat ini Blok A terdiri dari 18 lantai dengan keseluruhan luas bangunan 142.512 m2. Djan mengatakan, Blok A tetap menjadi daya tarik pengunjung meski pasar-pasar modern lainnya telah mengepung Tanah Abang. Menurutnya, paling tidak sekitar 10 ribu pengunjung memadati pasar ini. Bahkan, ketika Ramadhan bisa melonjak sampai lima kali lipat. Indikasinya bisa dilihat dari lahan parkir berkapasitas 2 ribu mobil yang tersedia, 80% terisi setiap harinya. Sementara mengenai omset, Djan memperkirakan sekitar Rp 25 miliar uang berputar di Blok A Pasar Tanah Abang.

Tasori, Manajer Area I Tanah Abang, juga menilai Pasar Tanah Abang sudah kembali normal bahkan bersinar. “Pengunjung bertambah, bisa dilihat dari volume parkir dalam gedung yang tiap hari relatif penuh padat, belum lagi parkir yang di luar gedung yang selalu penuh sehingga kerap membuat kemacetan,” katanya. Dalam pandangan Tasori, indikator Tanah Abang kembali bergairah adalah volume barang yang keluar-masuk dari area Tanah Abang dan ramainya kantor-kantor ekspedisi sekitar pasar. “Pada awal kebakaran, mungkin hanya beberapa bal, sekarang ini saya asumsikan bisa dua kali lipat. Bapak bisa buktikan sendiri,” ujar Tasori menyarankan pada Afiff M. Dewanda dari SWA.

Mengikuti saran Tasori, Afiff pun lantas menyusuri kawasan Pasar Tanah Abang yang pada paruh waktu 1628 dijadikan salah satu basis pasukan Mataram saat hendak menyerang Batavia. Disambanginya beberapa kios, baik pedagang maupun pemain ekspedisi. “Akhir-akhir ini ramai, Pak,” sapa Afiff kepada Luis, pemilik Toko Luis di lantai LG Blok A. “Yang beli eceran, satu-dua biji, ramailah, untuk grosir tidak seberapa. Mungkin konsep Blok A sekarang menyimpang ya. Sekarang barang apa saja ada,” papar Luis yang baru setahun ini berjualan di Pasar Tanah Abang. Dengan menyewa kios berukuran 4 x 2 meter yang ongkos sewanya Rp 40 juta per tahun, Luis mengaku masih optimistis, roda usaha yang diputarnya akan menggelinding. “Asal masih ada yang beli, oke-oke sajalah,” imbuhnya.

Di lantai UG, masih di Blok A, kita jumpai Iwan yang tengah sibuk melayani pembeli di tokonya yang khusus menjual pakaian dalam. Pemilik Toko Cendana ini mengaku omsetnya saat ini tidak berbeda jauh dari sebelumnya, di kisaran Rp 18-23 juta per hari. “Kalau menjelang Lebaran, bisa naik satu setengah kali lipat,” katanya. Pelanggannya adalah para pedagang pakaian di daerah Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, Sumatera, dan sekitar Jabodetabek.

Iwan sudah lama membangun usaha di sini. Menurutnya, saat ini pasar lebih teratur, fasilitas juga lebih lengkap sehingga pembeli lebih nyaman. Dengan menyewa kios seluas 6 m2 di tempat yang menghadap pintu masuk utama Blok A, Iwan pun harus membayar lebih mahal untuk ongkos sewanya, yakni Rp 95 juta setahun. Bahkan, menurutnya, tarif sewa itu akan dinaikkan oleh pengelola. “Tentunya ini akan mengurangi keuntungan,” ucapnya.

Sementara itu, pemilik Toko Enam Saudara mengatakan bahwa saat ini pembelian antara grosir dan eceran hampir sama. Dampaknya tentu saja berpengaruh ke omset. ”Memang tahun-tahun belakangan ini agak susah pembeli,” kata Zul yang memiliki 6 toko di Pasar Tanah Abang: tiga toko di Blok A; satu di Blok F; satu di Blok B; dan satu di Metro Tanah Abang. Grosir kemeja batik, baju koko dan sarung ini berjualan sejak tahun 2001. Waktu kebakaran, ia hanya mempunyai satu toko tapi kerugian yang dideritanya cukup besar. “Nilai kerugiannya bisa buat beli satu mobil Kijang,” ungkap suami Reda ini.

Ia menilai kondisi Pasar Tanah Abang sekarang memang jauh lebih nyaman, lebih rapi, bersih, dan banyak fasilitas sehingga membuat pengunjung betah berlama-lama belanja. “Asal masih ada yang beli saja, meski sebiji-sebiji, lumayan. Ya, saya harap cepat pulih seperti dulu,” kata Zul berharap. Ketika ditanya mengenai omset, Zul enggan menyebutkan. “Berbeda-beda Mas, tiap toko ada yang ramai ada juga yang sepi.”

Dari Blok A, perjalanan berlanjut ke Blok F. Kali ini wartawan SWA Rias Andriati menyambangi Toko Dewi Ayu di lantai dasar. Pemilik toko ini, Djunaedi, menuturkan bahwa omset sekarang tidak sebagus tahun 1997 sampai 2001. “Tahun itu para grosir sudah berani mengambil stok barang, lima bulan sebelum Lebaran. Sekarang ini hanya mengambil stok barang saat pasar ramai,” ungkap Djunaedi. Diakuinya, penurunan signifikan terutama terjadi setelah kebakaran di Pasar Tanah Abang. “Penurunan bisa sampai separuhnya,” imbuhnya. Ia menandaskan, penurunan omset juga dipicu persaingan antarpedagang grosir yang semakin ketat. Persaingan yang ketat ini membuat ayah Djunaedi yang merintis UD Dewi Ayu, berpindah haluan bisnis.

Djunaedi menceritakan, sebelum berjualan kerudung secara grosiran, ayahnya mengawali usaha jasa pembordiran. Ketika itu, pelanggannya banyak datang dari pabrik konveksi di Jakarta sampai TNI untuk pengadaan seragam. Saat keuntungan menjual jasa pembordiran makin menipis karena biaya perawatan mesin bordir yang cukup mahal, ayah Djunaedi yang sudah berdagang di Tanah Abang sejak 1974 memutuskan berjualan karpet impor. “Ayah saya adalah pedagang karpet pertama di Tanah Abang,” kata sarjana ekonomi dari Universitas Trisakti ini. Sebelum 1990, ayah Djunaedi menikmati masa keemasannya berjualan karpet dari Turki dan Belgia. Per lembar karpet bisa mendatangkan untung Rp 30 ribu. Saat pedagang karpet lain bermunculan, paling banter hanya meraup untung Rp 5 ribu per lembar.

Saat ini dengan berjualan kerudung impor dari Cina dan India, ia bisa menjual satu truk berisi 500-1.000 kodi per hari. “Itu kalau penjualan sedang bagus, kalau sedang sepi, sampai empat bulan barang tidak laku,” keluhnya. Rata-rata tiap bulan, ia mengaku bisa menjual 5 ribu kodi dengan harga Rp 60-150 ribu per kodi. Paling tidak dalam setahun ia membukukan omset sekitar Rp 10 miliar. Menurutnya, Senin dan Kamis adalah pasaran yang ramai dalam penjualan kerudung. Pasalnya, hari-hari itu pedagang dari Tasikmalaya tumpah ruah memadati Pasar Tanah Abang. Hari-hari tersebut, Dewi Ayu bisa meraih omset Rp 20-30 juta. Sangat jauh dibanding tahun 2001 yang bisa menjual sampai Rp 100-200 juta. Setahun omsetnya ketika itu bisa mencapai Rp 20 miliar.

Diakuinya, untuk menyiasati persaingan, ia bahkan bisa menurunkan harga per kodi sampai rugi 50%. Kerugian itu menurutnya bisa ditutupi dengan menggenjot volume penjualan. “Sekarang untung Rp 5-10 ribu saja sudah bagus sekali,” ungkap Djunaedi yang juga mengelola Toko Putri Ayu dan Ayu Scraf, serta toko grosir Sultan. Dalam pandangannya, penjualan secara umum di Pasar Tanah Abang cenderung menurun. Menurutnya, Pasar Tanah Abang sangat sensitif dengan isu-isu. “Ada kabar demo saja bisa menurunkan omset karena pelanggan dari luar daerah menjadi takut datang ke Jakarta,” tutur Djunaedi seraya menambahkan bahwa penjualan meningkat justru saat dolar naik. “Banyak pedagang dari Nigeria dan Filipina datang, sekarang tidak lagi,” katanya lesu.

Bagaimana dengan kondisi ekspedisi yang menjamur di sepanjang kawasan ini? CV Hira Ekpress yang terletak di Kebon Kacang I, persis sebelah pusat perbelanjaan Metro Tanah Abang, sudah lima tahun menjalankan bisnis pengiriman barang ke sejumlah daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sang pemilik, Erna, menuturkan sekarang ini tidak selalu setiap hari truknya mengirimkan barang. Sebelumnya, hampir saban hari dua truk Colt berkapasitas 3 ton meluncur ke Bandung dan Yogya. Dalam pandangannya, penurunan tak semata disebabkan kebakaran kala itu. Alasannya, lanjut Erna, pembeli bisa ambil barang di blok lain atau pasar lain. “Permintaan dari daerah juga berkurang dan kenaikan harga BBM membuat periode penurunan berlangsung lama,” ungkap Erna.

Penurunan kiriman juga diamini Ines. Pemilik ekspedisi Pancar Mas ini mengaku penurunannya drastis sekali dibanding periode tiga tahun lalu. Sebelumnya, Ines dalam sehari bisa mengirim 15 ton muatan dengan tiga kali pengiriman menggunakan truk Colt. Sekarang, 15 ton muatan rata-rata dalam seminggu. Pelanggannya yang kebanyakan dari Samarinda tidak serta-merta kembali belanja setelah Blok A direnovasi. “Ketika dalam masa renovasi, mereka pindah berbelanja ke Pasar Turi, Surabaya, mungkin keterusan sampai sekarang,” katanya. Laki-laki separuh baya ini menilai faktor kenaikan harga BBM, serta rencana pembongkaran Blok B, C, D, E dan F, membuat pedagang dari Samarinda makin menyusut. “Penurunannya bisa sampai 50%,” kata Ines yang biasa melayani pengiriman ke Samarinda dan Surabaya.

Kondisi ekonomi dan munculnya pesaing baru justru diyakini Halim sebagai biang kerok penurunan. Kebakaran Blok A tidak dilihatnya sebagai sebab utama penurunan omset yang juga dialaminya. Manajer Operasional PT Alfindo ini mengaku pesaing baru di industri ini memang telah memperkecil kue Alfindo. Meski tidak mengetahui jumlah penambahannya secara pasti, Halim menilai di sekitar Jl. Mas Mansyur sampai dekat Stasiun Tanah Abang, ada saja ekspedisi baru yang muncul. Sudah begitu, tambahnya, tiga tahun terakhir ini Pulau Sumatera tidak pernah sepi dari bencana alam sehingga turut memengaruhi perilaku belanja mereka. “Mungkin mereka tidak terkena Tsunami dan gempa, tapi namanya waswas boleh jadi membuat mereka lebih memilih menabung ketimbang beli baju. Ini kata saya lho,” ungkapnya.

Alfindo sendiri mengalami kondisi yang sama dengan pemain ekspedisi lainnya. “Kondisi sekarang memang jauh berbeda, sepi,” ujar pria berusia 30-an tahun ini. Sebelumnya, Alfindo bisa mengangkut empat truk Fuso ke daerah Sumatera, terutama Medan dan Palembang. “Saat ini sehari dua truk jalan sudah bagus,” kata Halim yang sudah 10 tahun bekerja di Alfindo.

Diakui Nanto, Manajer Pemasaran CV Kurnia Transindo, saat peak season, seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru, pihaknya bisa mengirim barang terutama tekstil, 8 truk sehari. “Setelah itu ya biasa lagi, tapi rutin,” katanya. Per hari, lima truk bisa diberangkatkan ke Medan dan daerah lain. “Kalau lagi sepi, ya sehari dua truk pasti jalan,” tambahnya. Perusahaan ekspedisi ini sendiri sudah dibangun sejak 1970-an oleh H. Abdul Muis. Saat ini memiliki tiga kantor cabang, di Jakarta, Bandung dan Medan. Sedikitnya 40 armada truk dimiliki perusahaan yang berkantor di Jl. Mas Mansyur ini. Nanto menerangkan, selama ini pihaknya melayani jasa pengiriman tekstil dan barang komoditas. “Tapi kebanyakan pengiriman untuk tekstil,” ujarnya.

Perusahaan ekspedisi di jalan yang sama menuturkan bahwa kondisi usaha PT Kemas Karya Mandiri lumayan stabil. Paling tidak, dalam seminggu ada dua kontainer yang dikirim ke Senegal, Afrika. Ekspedisi ini memang mengkhususkan pengiriman barang lintas negara, terutama Senegal. Menurut Hamdani dari bagian purchasing, saat Idul Adha, misalnya, pengiriman barang ke Senegal bisa sampai lima kontainer per dua minggu. Satu kontainer 40 feet bisa menampung 28 ton barang. Ia menilai pedagang dari Senegal tidak terpengaruh dengan kondisi Pasar Tanah Abang pasca kebakaran. “Mereka tidak hanya belanja tekstil di Blok A tapi juga di blok-blok lainnya dan juga Pasar Cipulir,” ujarnya.

Dengan membawa dolar di tangan, dinilai Hamdani, para pedagang Senegal jelas tidak terpengaruh kondisi ekonomi Indonesia. Mereka biasa datang sebulan sekali. “Biasanya belanja beberapa hari setelah terkumpul baru didrop ke sini,” papar Hamdani.

Menurut pengamatan Tasori, pedagang dari Afrika malah sudah tidak membanjiri Pasar Tanah Abang lagi. Pasalnya, Guang Zhou menawarkan barang tekstil yang jauh lebih murah dengan kualitas bagus. “Jadi mereka beralih ke sana,” katanya. Toh, secara keseluruhan ia tidak melihat ada kemunduran dari Pasar Tanah Abang yang justru saat ini bersolek makin mengkilap. “Masih banyak yang setia berbelanja ke sini,” imbuhnya. Malahan, anak-anak muda yang sebelumnya lebih memilih baju bermerek sudah mulai terlihat banyak datang ke Pasar Tanah Abang. “Bahkan, artis-artis juga banyak yang belanja di sini,” katanya berpromosi.

Soal penurunan omset, menurutnya, memang agak susah dikalkulasi. Dalam hitungannya, tiap pedagang paling tidak meraup omset Rp 10 juta per hari. “Kalau Anda tanya ke pedagang, pastilah mereka tidak mau ngaku. Tapi, lihat tiap pengepakan per karung itu sudah berapa juta,” ia menjelaskan. Ke depan Tasori optimistis, Pasar Tanah Abang jauh lebih berkilau meski dibandingkan dengan Pasar Baru, Mangga Dua, atau pusat grosir lainnya yang ada di Tanah Abang sekalipun. Pasalnya, pasar ini akan tetap mempertahankan pola perdagangan sebagai pusat grosir. “Nantinya akan kami kembangkan konsep one stop shopping, jadi mulai dari pembelian, pengepakan, sampai pengiriman ada semua di Blok A ini,” katanya. Sementara Djan optimistis, harga sewa kios di lokasi ini akan lebih mahal ketimbang harga sewa di Plaza Senayan dan Mal Taman Anggrek. “Harga sewa sekarang saja sampai ada yang satu miliar lebih,” ungkapnya.

Modernisasi Pasar Tanah Abang sudah bergulir. Wajah Tanah Abang yang diproyeksikan menjadi pusat bisnis terpadu jelas memerlukan sentuhan modernisasi. Yang muaranya tentu saja untuk meningkatkan perekonomian pedagang kecil. Kalau tidak, yang untung adalah para pengembang dan investor yang mengambil capital gains dari kenaikan harga properti atau sewa kiosnya. Dan, kalau tarif sewa makin mahal, yang buntung adalah pedagang karena akan mengurangi keuntungan, begitu disebutkan Iwan, pedagang di Blok A. Padahal, seperti dikatakan Djunaedi, untung Rp 5-10 ribu saja sudah bagus sekali saat ini.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag