Pernah Catat Transaksi Saham Rp 1 Triliun Setahun
Tak ada sedikit keraguan pun pada diri Eddy Siswanto tatkala ia harus mengisi data kekayaannya di formulir yang disodorkan petugas Komisi Pemberantasan Korupsi. Semuanya dipaparkan secara gamblang dan rinci. Termasuk, nilai transaksi sahamnya yang pernah mencapai nilai Rp 1 triliun dalam setahun. “Saya tulis apa adanya dan transparan. Karena, main saham kan sudah kena pajak. Jadi, tak perlu takut,†ujar Pemimpin Divisi Pengendalian Keuangan BNI saat ditemui di kantornya, Gedung BNI lantai 12.
Besarnya nilai transaksi saham itu terjadi saat Eddy masih aktif bekerja di BNI Securities. Frekuensi transaksinya sangat tinggi, karena saban hari pasti trading. Sekali transaksi bid atau offer yang dilakukan Eddy, nilainya bisa mencapai Rp 100-200 juta. Tiap hari ia melakukan bid/offer hingga empat kali. Asyiknya, kala itu capital gains yang ada di genggaman rata-rata 20% per transaksi.
Pilihan sahamnya pun bervariasi, bisa saham-saham jempolan (blue chips), adakalanya saham-saham lapis kedua. Misalnya, saham BCA, BRI, Telkom, Astra International, Astra Agro Lestari dan Bumi Resources. Tak mengherankan, tiap hari kerja bursa, bisa dipastikan Eddy rajin memelototi pergerakan harga saham di layar monitor di kantornya.
Yang pasti, Eddy mengaku semua kekayaannya diraih melalui jerih payah yang bersih sepanjang kariernya di BNI. Setamat kuliah S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, ia meniti tangga karier di BNI. Nah, setelah itu ia dimutasi ke beberapa bagian, seperti sekuritas dan dana pensiun. Bahkan, ia dan beberapa temannya turut membidani lahirnya divisi kartu kredit BNI.
Bagi mantan Direktur Investasi Dana Pensiun BNI ini, investasi di saham dilakukan secara cermat dan penuh etika. Berkaitan dengan etika itu pula, tatkala ia masih ditempatkan di BNI Securities, pantang baginya bermain saham di perusahaan sekuritas yang masih terafiliasi dengan BNI itu. Ia tak mau terlibat dalam insider trading. Maka, ia pun bermain saham di tempat lain guna menyalurkan keahliannya dalam jual-beli saham. Dengan alasan yang sama pula, ia tak mau menjamah saham BNI untuk diperjualbelikan. Lagi pula, di daftar emiten Bursa Efek Jakarta, masih banyak saham perbankan lainnya yang layak dimasukkan ke dalam portofolio pribadinya.
Masih karena alasan etika, Eddy tidak berlangganan layanan real time pergerakan saham di kantornya. Padahal, tidak ada larangan khusus untuk itu. Kini ia mengandalkan berita koran semata, sehingga telat terus infonya. Alhasil, transaksinya saat ini tak seagresif dulu. “Saya tidak enak aja jika pasang monitor saham di ruang kerja. Soalnya, sekarang kan divisinya di pengendalian keuangan. Dulu sih bisa, saat masih di BNI Securities,†kata pria kelahiran Medan, 18 Desember 1956, ini. Jadi, isi dan interior ruang kerjanya tak ubahnya pejabat di lingkungan BNI lainnya. Ruangannya yang bergaya minimalis berisi seperangkat komputer, meja dan kursi kerja, lemari hias, sofa dan televisi. “Lihat, tayangan tevenya kan liputan golf, bukan berita pasar modal atau pergerakan saham,†ujar Eddy sembari menuturkan, dirinya tengah semangat-semangatnya belajar mengayunkan stik golf.
Soal kecermatan, Eddy selalu mengambil keputusan transaksi berdasarkan analisis. Adalah hal yang naif, menurutnya, jika bermain saham hanya sekadar berspekulasi. Pertimbangan kapan saat masuk atau keluar, dijual di harga berapa yang pantas, sektor apa saja yang layak dipilih, bagaimana pembagian diversifikasinya, dan sebagainya telah dipikirkan masak-masak. “Pokoknya, harus ditinjau dari analisis fundamental dan teknis,†kata eksekutif yang mendalami ilmu pasar modal saat kuliah di S-2 Perbankan dan Finance di MM Universitas Gadjah Mada ini. Dengan kepiawaiannya itu, Eddy tidak memercayakan segala keputusan investasinya di tangan broker atau pialang. “Ngapain? Kan saya sudah tahu seluk-beluknya dan punya pengalaman lama,†tuturnya tandas.
Prinsip utamanya dalam berinvestasi: jangan gunakan uang belanja, sehingga duit itu benar-benar idle alias nganggur. Selanjutnya, lakukan diversifikasi untuk menyebar risiko. Bagi ayah tiga anak ini, diversifikasi yang dimaksud, selain instrumennya, juga jenis investasinya yang lebih detail. Berkaitan dengan itu, ia mencontohkan, keranjang investasi sahamnya ia pilah-pilah lagi ke beberapa sektor: perbankan, infrastruktur dan pelayaran. Yang pasti, sektor-sektor itu mesti punya fundamental yang bagus dan prospeknya cerah.
Adapun strategi transaksi yang ditempuh Eddy, pertama, jangan emosional. Artinya, kalau harga saham turun, jangan di-cut loss, “Biarin aja, nanti juga akan balik seperti semula jika horizon investasinya jangka panjang,†kata Eddy yang saat wawancara berlangsung mengenakan setelan kemeja hijau-celana hitam. Juga, jangan serakah. Maksudnya, jika harganya naik, cepat-cepat jual sesuai dengan angka yang ditargetkan. Soalnya, kalau mengejar hingga harga tertinggi, belum tentu kesampaian. Malah, harga saham justru tiba-tiba terjungkal. Itulah sebabnya, ia memberi ancang-ancang toleransi lonjakan harga sebesar 3%-5% di atas bunga obligasi di pasar.
Lantas, seperti apa pengalaman untung-rugi Eddy selama bergumul dengan dunia saham? Ia hanya menceritakan beberapa contoh. Umpamanya, ia membeli saham BCA di harga Rp 4.500/lembar pada September 2006, lalu terjual Rp 5.400 pada Februari 2007. Ia memprediksi, saat ini masih ada potensi capital gains lagi karena laporan keuangan dan jumlah dividen yang akan dibagikan BCA belum diumumkan. “Dulu banyak dapat untung juga dari transaksi saham Bumi Resources,†ungkap penyuka tenis ini.
Beberapa saham juga masih ditahan Eddy. Sebut saja, saham Total Persada. Saham perusahaan konstruksi ini diliriknya dengan alasan prospeknya kinclong dan ketika itu pemerintah mencanangkan tahun yang berjalan sebagai Tahun Infrastruktur. September tahun lalu ia membeli saham Total Persada di harga Rp 500/lembar. Belakangan sempat naik menjadi Rp 700. “Tapi saya tidak lepas, karena belum terlalu butuh duit. Eh, ternyata sekarang malah melorot harganya di Rp 640,†ujar Eddy dengan menyesal. Padahal, harga saham itu sudah di atas nilai buku. Akhirnya, sampai kini saham tersebut masih nangkring di keranjang investasinya.
Pengalaman rugi? “Itu sih biasa. Sebagai investor, (saya) harus siap untung dan rugi. Tapi, nggak terlalu banyak sih,†ujar investor yang disiplin menyisihkan seperlima keuntungan main saham untuk disumbangkan ke kaum duafa ini. Bahkan, guna menyiasati agar tidak kedodoran ruginya, ia sengaja menyimpan saham itu untuk ekspektasi jangka panjang. Contohnya, ia membeli saham Berlian Laju Tanker (BLT) di harga Rp 2.500/lembar pada September 2006, kini harganya turun menjadi Rp 1.800, sehingga saham itu pun disimpannya.
Pemilihan diversifikasi saham Eddy dipuji Hendra Bujang. “Saham BCA, Total dan BLT adalah saham-saham yang bagus,†ujar analis saham sebuah perusahaan sekuritas lokal ini. Kalaupun harga saham-saham itu sempat menukik, prospek jangka panjangnya masih oke. BLT, misalnya. Perusahaan pelayaran skala internasional ini pendapatannya berbasis US$. Untuk saham bank, selain BCA, patut pula diincar: saham BRI dan Bank Mandiri.
Selain saham, investasi Eddy di pasar modal pun pernah menjamah reksa dana. Jenis reksa dana yang dibelinya waktu itu adalah pendapatan tetap. Tujuannya, untuk alternatif uang cash yang diharapkan setiap saat bisa dicairkan. Wajar saja, karena uang itu merupakan bagian dari tabungan yang dianggarkan untuk membangun rumah. Celakanya, reksa dana pilihan Eddy juga terseret imbas aksi redemption tahun 2005 yang nilai aktiva bersihnya jeblok. “Akhirnya meski nilainya menyusut, saya tarik juga. Padahal, uang itu untuk jaga-jaga membangun rumah,†katanya mengenang dengan pilu.
Toh, kekecewaan Eddy cukup terbayar. Rupanya, kegagalan investasi reksa dana terobati oleh kemilaunya bermain saham. Keuntungan dari hasil bermain saham justru ditanamkannya ke properti. Selain bertangan dingin saat berinvestasi saham, ia pun bernasib mujur di dunia properti. Ia pernah beberapa kali untung dari instrumen aktiva tetap ini. Misalnya, ia membeli rumah di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, seharga Rp 275 juta di tahun 2002, dan pada 2005 sudah melonjak menjadi Rp 500 jutaan. Kemudian, rumah itu disewakan sehingga ia mendapat passive income paling tidak Rp 30 juta/tahun.
Tidak berhenti sampai di situ, pada 2005 ia membeli tanah di Kebon Jeruk seharga Rp 1,3 juta/m2. Kini pasarannya mencapai Rp 3 jutaan. “Waktu itu sudah ditawar orang, tapi tidak saya lepas karena untuk dibangun rumah,†ujar Eddy yang enggan membeberkan komposisi investasinya. Adapun pertimbangannya selalu memilih lokasi di Kebon Jeruk: airnya jernih, tidak banjir, asri dan strategis.
Lima tahun lagi masa pensiun Eddy tiba. Untuk mengantisipasi agar keuangan tidak seret di kala pensiun, ia berniat membeli rumah-toko. “Ruko itu akan dipakai untuk usaha membuka kantor konsultan keuangan,†katanya. Ia berharap, bisnis jasa konsultannya bisa menjadi penyambung hidup di hari tuanya kelak.
BOKS
Tip Bermain Saham Eddy
Yang harus dilakukan: – Gunakan uang yang idle – Diversifikasi jenis saham dan sektornya – Pahami analisis fundamental emiten dan ekonomi makro – Pahami analisis teknis – Tentukan horizon investasi: jangka panjang atau pendek – Tetapkan batas maksimal capital gains yang dikejar dan loss yang bisa ditoleransi
Yang tidak boleh dilakukan: – Berspekulasi – Serakah mengejar capital gains – Emosional – Curang
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.