Merek Sepatu Lokal yang Tahan Banting
Namun, ada sejumlah merek sepatu lokal yang sanggup bertahan, antara lain Pakalolo, Edward Forrer, Yongki Komaladi dan Eagle (lihat Tabel). Kabar segar lainnya, terus bermunculannya para wirausaha baru di bisnis ini. Aprisindo mencatat pertambahan, dari 98 (2005) menjadi 105 perusahaan (2006).
Bagaimana strategi merek-merek lokal ini untuk tetap eksis? Pakalolo, misalnya. Berdiri pada 1958, Pakalolo memulai kiprahnya dari sebuah industri rumahan dengan 3-4 karyawan. Kini karyawannya mencapai 300-an orang. Kisah sukses ini dibangun dari keberanian menentukan positioning produk. “Sepatu Pakalolo ditujukan untuk kalangan middle-up.†tutur Husein Pangestu, Presdir Pakalolo yang merupakan generasi kedua dalam bisnis keluarga ini. Memainkan strategi ini bukan tanpa perhitungan. Menurut Husein, segmentasi ini diambil karena kualitas Pakalolo yang tinggi. Bahan baku Pakalolo menggunakan kulit dari Indonesia yang sudah dikenal karena kualitasnya di pasar internasional.
Membangun merek menjadi salah satu aspek yang sangat diperhatikan Pakalolo. Mulai dari merek awal, Eny Shoes, tahun 1970 berubah merek menjadi Grado, hingga sekarang dikenal dengan merek Pakalolo. Pada 1980 Pakalolo mulai mempersiapkan pasar ekspornya. Saat ini aktivitas ekspornya mencapai negara-negara Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia dan Filipina. Bahkan, memasuki 1990-an Pakalolo berhasil menembus pasar Cina, dan sekarang merambah Jepang, Korea, Belanda, Italia, dan beberapa negara Eropa lainnya. Menurut Husein, saat ini negara tujuan ekspor terbesarnya adalah Singapura. Pria kelahiran 57 tahun lalu ini menyatakan, 70% produk Pakalolo untuk pasar ekspor, dan sisanya untuk pasar domestik.
Menanggapi demikian derasnya produk sepatu murah dari Cina dan pemalsuan merek lokal, Husein mengaku tidak cemas. Hal yang terpenting baginya adalah selalu mengupayakan perbaikan menyeluruh, termasuk meningkatkan komitmen karyawan untuk terus-menerus menjaga kualitas produk. Juga, membangun tim pemasaran yang solid. Husein mengklaim distribusi Pakalolo sudah mencapai seluruh wilayah Indonesia. Meskipun mengaku tidak telalu fokus pada aktivitas above the line, menurut pantauan Nielsen Media Research, sepanjang 2006 Pakalolo termasuk dalam top 10 merek untuk urusan belanja iklan — sebesar Rp 1,48 miliar.
Jawara yang masih bertahan lainnya, Edward Forrer, juga memilih menghadapi persaingan bisnis dengan menggelar berbagai strategi andalannya. Selain melipatgandakan jumlah gerainya jadi 63 tahun ini dari 16 pada 2003, Edward Forrer pun menerapkan manajemen modern. Saat ini ia membangun Organizational Learning untuk menjamin perusahaan selalu menjadi yang terdepan dalam hal inovasi. Mengembangkan sistem pemesanan berbasis Web yang inheren dengan skema produksi made to order. Melalui cara ini, Edward Forrer dapat terus menekan biaya secara efektif. Hasilnya, produsen sepatu yang memiliki 2.000 pekerja (termasuk mitra alih daya) ini tetap tampil mengesankan dan menguasai 5% pangsa pasar sepatu nonsport.
Edward Forrer optimistis target pertumbuhan 200 gerai dan penetrasi ke 12 negara dapat tercapai. Optimisme senada diungkapkan Husein, yang kini serius mempersiapkan tongkat estafet di bisnis keluarga ini. Budiman Pangestu, sang putra mahkota, bahkan dipersiapkan khusus untuk mempelajari industri sepatu di Italia. Melihat optimisme mereka, menyala pula harapan bagi industri yang menjadi salah satu cluster industri unggulan dalam roadmap industri nasional 2010 ini.
Sarah Ratna Herni dan Arief Adi Wibowo
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.