Dini Irawati, Kibarkan Brand Fashion Suette
Karier Dini Pratiwi Irawati, sebagai fashion designer menanjak setelah mengikuti ajang fashion terbesar di Indonesia, Indonesia Fashion Week. Namanya melambung ketika hasil karyanya ditampilkan di atas panggung bersama dengan karya-karya adibusana desainer-desainer top Indonesia.
Perempuan kelahiran Ujung Pandang, 2 Februari 1980 ini mengaku bahwa kegemaran dan kebiasaan mengolah busana sejak kecil, menjadi dasar dirinya untuk memberanikan diri terjun ke dunia fashion. Sejak kecil, Dini — sulung dari empat bersaudara ini, mengaku kerap melihat sang ibu menghasilkan pakaian-pakaian untuk anak-anaknya.
Dari situ Dini merasa bakatnya dalam dunia fashion ini pun seakan telah lahir. Meski lulus sebagai sarjana Psikologi, namun dirinya tidak gentar untuk berkecimpung di dunia busana ini. Bersama rekan-rekannya, Dini mengawali karier di dunia fashion dengan mendirikan sebuah butik. Hingga pada akhirnya, Dini pun harus berani mengarungi dunia fashion ini hanya sendirian.
Ditemui di salah satu tempat tinggal keluarganya di bilangan Senayan, Dini bercerita mengenai pengalamannya menapaki tangga profesi sebagai seorang fashion designer. Berikut adalah hasil wawancara Radito Wicaksono dengan Dini.
Dini Pratiwi Irawati
Bagaimana ceritanya Andamenggeluti bisnis fashion ini dengan mengibarkan brand Suette? Mengapa memilih Eropa ketika memulai kariernya? Apa saja produk-produk fashion yang dihasilkannya?
Awalnya sih tidak pernah terpikirkan untuk menjadi seorang fashion designer. Bahkan, dengan background pendidikan saya yang merupakan Sarjana Psikologi, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan assessment di Jakarta, selama 2,5 tahun.
Semuanya berubah ketika saya memutuskan untuk menikah. Ketika memutuskan untuk menikah, saya juga sudah siap dengan komitmen-komitmen yang diputuskan bersama dengan suami. Saat itu, suami meminta supaya saya tidak lagi bekerja di kantor atau bekerja yang memiliki jam kerja antara jam 9 pagi-5 sore. Dari situ saya memutuskan untuk bekerja paruh waktu di sebuah biro konsultasi.
Namun ternyata, dari situ, sayamulai menyadari bahwa minat saya terhadap bidang lain ternyata cukup besar. Saya sadar bahwa bidang desain pakaian lebih menarik minat saya saat itu. Memang sudah sejak lama saya senang mengubah-ubah pakaian, membentuk sendiri model-model pakaian yang sering saya gunakan, dan lain-lain.
Bidang seperti itu sudah saya kenal sejak kecil. Dulu Ibu saya senang menjahit dan menciptakan pakaian untuk saya dan adik-adik saya. Jadi, dulu kalau kami (anak-anak) ingin pergi-pergian seperti menghadiri sebuah acara, pakaiannya itu buatan Ibu saya.
Permasalahannya, saya tidak bisa menggambar atau mendesain pakaian. Saya hanya bermodalkan imajinasi saja kalau ingin membuat sebuah pakaian. Dengan imajinasi saya tersebut, saya hampiri tukang jahit langganan saya, dan minta dibuatkan seperti yang saya inginkan. Makanya itu, tidak jarang model pakaian yang saya pesan ternyata tidak sesuai dengan yang saya inginkan dalam imajinasi saya. Tapi itu kadang-kadang saja.
Meski begitu, apa yang saya buat dan karyakan tersebut ternyata mendapat respon yang cukup positif dari orang-orang yang melihat, termasuk teman-teman saya. Hanya saja, ketika itu saya kurang berani untuk bergelut di dunia tersebut lebih dalam. Karena saya tidak punya keahlian di bidang tersebut. Semua benar-benar karena kegemaran saya terhadap dunia fashion. Dan kegiatan seperti itu berlanjut hingga saya dewasa bahkan sampai saya berumah tangga.
Hingga pada suatu saat ketika saya sedang bekerja paruh waktu di biro konsultasi tersebut, ada teman yang mengajak saya untuk mendirikan sebuah butik. Karena kebetulan saat itu saya sedang jenuh juga bekerja, ya saya terima ajakan teman saya tersebut. Jadi deh, saya enggak jadi psikolog lagi..he he. Kebetulan teman saya tersebut memang punya basic mendesain fashion. Saya terima ajakan teman saya tersebut.
Maka, niat saya dan teman-teman saya tersebut benar-benar di realisasikan. Lantas, kami membuat sebuah butik, yang sudah kami rencakan sejak awal. Butik tersebut lebih banyak memproduksi dan menjual produk-produk fashion seperti tas dan sepatu.
Awalnya, saya dan dua teman saya yang membuat butik tersebut. Hingga lama kelamaan, saya tinggal berdua saja dengan teman saya. Hal tersebut diakibatkan karena masalah selera saja sebenarnya. Karena kalau di dunia fashion seperti ini, selera memang sering menjadi persoalan. Karena ada ketidakcocokan antara kami, maka teman saya yang satu memutuskan untuk tidak bersama kami lagi.
Saat itu, kami berdua lebih banyak membuat baju dan pakaian-pakaian lain di butik kami. Namun, di saat bersamaan , saya pribadi lebih banyak menghasilkan produk sepatu dan tas. Di sini lah kemudian muncul brand Suette.
Dari hasil karya saya pada sepatu dan tas tersebut, di saat yang bersamaan saya dipertemukan oleh Mbak Dina Midiani, seorang fashion designer yang sudah top saat itu. Di situ Mbak Dian menyarankan agar karya-karya saya tersebut diikut sertakan pada ajang Indonesia Fashion Week, yang tidak lama setelah itu akan diselenggarakan. Saya disuruh mengirimkan foto-foto dari karya-karya saya tersebut untuk lantas dikurasi.
Mbak Dian menjelaskan kepada saya, jika karya-karya saya tersebut bisa lolos dari proses kurasi tersebut, nantinya saya dapat ikut serta pada ajang Indonesia Fashion Week tersebut. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Saya coba saja kirimkan, meskipun agak tidak begitu pede saya.
Ternyata, setelah hasil kurasi keluar, karya-karya saya diterima. Lantas dengan begitu saya bisa ikut tampil pada ajang IFW 2012 tersebut. Tapi saat itu sebenarnya saya masih berdua dengan teman saya. Tidak disangka, keiikutsertaan karya-karya saya di IFW 2012 tersebut ternyata mendapat respons yang cukup positif. Banyak orang yang membeli produk-produk saya ketika itu. Terlebih diantara orang-orang tersebut ada beberapa yang merupakan public figure, seperti Poppy Darsono. Selain itu ada orang-orang dari Dubai yang juga membeli karya saya.
Dari situ, minat saya terhadap dunia fashion semakin membesar. Setelah ajang IFW 2012 saya berniat untuk mengasah kemampuan saya di bidang fashion lebih baik, terutama dalam urusan menggambar yang memang saya tidak bisa sebelumnya. Namun masalahnya, sekolah fashion yang saya temui di Jakarta ini rata-rata mengharuskan murid nya untuk menempuh jam pelajaran yang cukup lama. Hingga akhirnya saya menemukan sekolah yang pas dengan keinginan saya, yaitu Instituto di Moda Burgo di Jakarta.
Seiring waktu, tadinya kami yang berdua tersebut pun harus berpisah. Alasannya pun tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Tapi perlu ditegaskan, kalau waktu itu, kami bertiga pisah secara baik-baik. Tidak ada masalah yang terlalu bagaimana, hingga kami berpisah. Sampai sekarang pun kami masih sering berhubungan, baik bertemu langsung maupun melalui handphone.
Di Instituto di Moda Burgo tersebut, saya mendapatkan lebih banyak support lagi dari para pengajar dan teman-teman. Saya juga lebih mendapatkan banyak ide di sana. Karena dengan bersekolah di situ, saya di ajari untuk terus membuka wawasan mengenai dunia fashion ini.
Setelah itu pun, pada ajang IFW tahun berikutnya, saya mencoba lagi untuk berpartisipasi di acara tersebut. Saya diterima lagi oleh pihak penyelenggara untuk kemudian mengikuti ajang tersebut untuk yang kedua kali nya. Namun, saat itu saya diterima oleh pihak penyelenggara sebagai produk-produk yang masuk pada kategori aksesoris. Karena, pada ajang yang sebelumnya, saya mengikutsertakan produk-produk saya yang memang tergolong aksesoris, sepatu dan tas.
Salah seorang pengajar saya di Instituto di Moda Burgo, mengatakan bahwa sebaiknya saya mencoba untuk ikut pada ajang IFW namun pada kategori pakaian. Karena menurut pengajar saya tersebut, saya sudah memiliki keahlian menggambar, yang sebelumnya memang belum saya miliki keahlian tersebut.
Lantas saya coba gambar-gambar model pakaian dan kemudian saya kirim ke pihak penyelenggara IFW 2013. Saya hubungi terlebih dahulu pihak penyelenggaranya. Saya tanya, apa saya bisa masuk pada kategori pakaian. Ternyata, setelah saya kirim, saya mendapatkan respons yang sangat positif dari pihak penyelenggara.
Karya-karya saya diterima dan bahkan karya-karya saya tersebut masuk ke dalam rangkaian parade pakaian di atas panggung penyelenggaraan IFW 2013, bersama dengan karya-karya dari desainer yang sudah lebih besar dan lebih dulu berkecimpung dibandingkan saya.
Dari dua kali keikutsertaan saya pada IFW tersebut lah, karier saya di dunia fashion ini mulai melangkah dan mulai dikenal oleh orang-orang.
Mengapa dia memilih Eropa ketika memulai kariernya?
Saya memulai karier di Indonesia. Ya, di IFW tadi itu. Sampai sekarang pun saya masih berusaha untuk menembus pasar di luar negeri.
Apa saja produk-produk fashion yang dihasilkan?
Selama saya berkecimpung di dunia fashion ini, saya sudah menghasilkan produk-produk seperti tas, sepatu dan pakaian (gaun, baju pengantin, dan lain-lain).

Dini Pratiwi
Apa keunikan yang ditawarkan dari produk fashion-nya itu? Berapa harga yang ditawarkannya? Siapa segmen pasar yang dibidik?
Beberapa orang mengatakan bahwa keunikan dari produk saya adalah produksi yang semuanya masih hand made dan custom made. Semua produk-produk saya adalah hand made. Terutama bagi orang-orang asing. Kelihatannya mereka lebih mengapresiasi barang-barang atau produk-produk yang di buat dengan cara manual, terlihat rumit, dan lain-lain.
Untuk harga, sejauh ini rata-rata produk saya masih memiliki harga yang variatif. Kalau sepatu dan tas, kisaran harga nya antara Rp 1,25 juta – Rp 5 juta. Semua tergantung produknya seperti apa. Karena barang-barang yang saya hasilkan ini adalah custom made, saya tidak bisa pastikan harga nya. Semua tergantung pesanan mereka. Kalau untuk pakaian, hingga saat ini harga nya berkisar antara Rp 4 juta hingga yang paling mahal pernah saya buat adalah Rp 10 juta.
Sedangkan untuk segmentasi pasar, saya sendiri tidak pernah membidik pasar tertentu untuk dijadikan pasar utama produk-produk saya. Ya, yang mau saja, tinggal pesan ke saya.. he he.
Bagaimana Andamelakukan branding? Strategi pemasaran seperti apa yang dijalankan?
Jujur saja, saya belum terlalu banyak mengetahui bagaimana cara berbisnis yang baik. Saya masih menjalankan ini secara konevensional, seperti layaknya bisnis-bisnis lain. Saya masih melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan ketika pertama kali terjun ke dunia fashion ini.
Saya ingat, ketika pertama kali berbisnis fashion bersama dua teman saya yang lainnya, saya menjalankan strategi pemasaran yang cukup berani, sebenarnya malah agak memalukan, he he. Dulu, ketika saya memulai bisnis butik, saya menawarkan jasa kami ke orang-orang secara langsung.
Saya print sederhana mengenai bisnis kami, lantas kami bagi-bagikan brosur tersebut ke orang-orang yang ada. Biasanya kami memilih pusat-pusat perbelanjaan untuk dijadikan tempat pemasaran jasa kami, seperti mall dan pusat-pusat perbelanjaan kain dan pakaian di Jakarta.
Saya melakukannya sendiri. Teman-teman saya malu untuk melakukan hal tersebut. Bahkan, kadang-kadang teman saya sering bercanda kepada saya. Mereka suka mengatakan kalau saya ini bukan teman mereka. Itu saking malunya lihat tingkah laku saya saat itu. He…he…he.
Tapi Alhamdulillah, ternyata usaha saya tersebut membuahkan hasil. Satu per satu mulai ada yang menghubungi kami untuk memesan produk yang mereka inginkan. Dari situ, pelanggan mulai berkembang jumlahnya. Tapi semua memang harus sabar menunggunya.
Sampai saat ini, cara tersebut masih saya lakukan. Walaupun saat ini sudah agak jarang melakukan hal tersebut, karena sekarang saya sudah merasakan the power of words of mouth. Semua dari mulut ke mulut. Namun di samping itu, saya juga memasarkan produk dan jasa saya melalui social media dan internet. Tapi memang belum maksimal. Saya masih meminta bantuan dari adik saya untuk menjalankan hal tersebut. Tapi adik saya sendiri juga sibuk dengan kerjaannya dia sendiri.
Alhamdulillah, sampai saat ini pesanan terus datang. Beberapa bahkan dari artis dan public figure, seperti contohnya Giselle. Dengan seringnya karya saya dipakai di muka umum, makin banyak orang tahu akan produk saya ini.
Namun yang pasti, saya masih harus banyak belajar dalam menjalankan bisnis ini. Karena jujur, sampai saat ini saya masih menjalankan binis ini tidak begitu baik. Semua hasil yang didapatkan setidaknya cukup untuk saya, pegawai saya, dan operasional bisnis ini saja. Terutama untuk urusan manajemen, saya harus banyak belajar. Maka dari itu, saya berkeinginan sekali untuk ikut di ajang-ajang pelatihan dan penghargaan bisnis seperti Wirausaha Wanita Mandiri yang diadakan oleh Bank Mandiri. Saya ingin mendapatkan banyak pembelajaran dari situ.
Bagaimana perkembangan bisnisnya saat ini? Siapa saja pelanggan-pelanggan top-nya? Berapa omsetnya?
Sejauh ini lumayan ada kemajuan. Pesanan terus berdatangan. Bahkan terkadang kami kekurangan pegawai untuk mengerjakan pesanan-pesanan kami. Kalau untuk jumlah pesanan tidak menentu tiap bulannya berapa banyak. Namun, yang pasti hampir di setiap bulan, kami selalu kewalahan menerima pesanan-pesanan dari pelanggan-pelanggan kami.
Untuk pelanggan top, ada beberapa. Tapi yang paling terbaru adalah Giselle. Ada salah satu karya saya yang dibeli Giselle dan dipakai untuk keperluan show nya dia. Dan untuk omset, seperti yang saya bilang sebelumnya, pokoknya cukup untuk operasional kami semua.
