Harakiri

Harakiri

Usia membawa wibawa. Di Jepang, usia panjang identik dengan senioritas. Karismanya terpancar dan terpandang dalam komunitas politik, bisnis, bahkan di masyarakat umum. Bukan keinginannya, ia dinobatkan sebagai panutan yang dituakan, suri teladan yang diyakini bisa mencerahkan. “Untuk menjaga nama baik dan kehormatan, ia rela membayar harganya. Nyawa menjadi taruhannya,” ujar Nakamura. “Seperti pernah kau tulis dalam salah satu esai sastra tentang Yushio Mishima yang melakukan harakiri karena merasa gagal dalam percobaan pemberontakan melawan penguasa Amerika Serikat dan Pemerintah Jepang pasca-Perang Dunia II. Bunuh diri adalah harga yang mesti dibayar demi menghapus dosa dan menjaga kehormatan. Honored death is the name of the game,” paparnya lebih lanjut.

Prisip utama itulah yang juga dipegang teguh oleh Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Toshikatsu Matsuoka, 62 tahun. Pada 28 Mei silam, ia bunuh diri dengan seutas tali di flat tempat tinggalnya di Distrik Akasaka, Tokyo. Ia menerima uang haram dari kontraktor, terbelit dana 28 juta yen, dan mengaku lupa melaporkan donasi sebesar US$ 8.500 dari Business Export Forum. Matsuoka sejatinya adalah orang sederhana. Setamat dari Fakultas Pertanian Universitas Totori, anak petani ini langsung diterima bekerja di Departemen Pertanian, Kehutanan dan Perikanan. Matsuoka meninggalkan 8 surat wasiat menjelang kematiannya, termasuk untuk istrinya, Hatsumi, dan Perdana Menteri Shinzo Abe. Kepada rakyat Jepang, ia berpesan: “Dengan kematian ini, saya mengambil semua tanggung jawab dan memohon maaf. Tolong kasihani orang-orang yang masih hidup … Negara Jepang, Banzai!”

@@@@@@@@@@@

“Itulah salah satu cara orang Jepang menghabisi hidupnya,” ungkap Nakamura dalam selembar faksimile. Cara mati dengan gantung diri berbeda dari cara para panglima perang di masa lalu yang memilih seppuku atau harakiri, bunuh diri dengan cara menikam dan merobek perut menggunakan pedang samurai.

Seperti diberitakan di berbagai media, di era modern, tercatat empat pejabat yang mencabut nyawanya sendiri dengan cara menggantung diri. Mereka adalah Ichiro Nakagawa, mantan Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, mati di Hotel Sapporo karena kalah dalam pemilihan Presiden Partai Liberal Demokrat (LDP); Yukio Matsumoto, pengurus Partai Sosialis, tewas di rumahnya; Shokei Arai, aktivis LDP meninggal di sebuah hotel di Tokyo, tersangkut skandal yang melibatkan Nikko Securities Co.; dan Yoki Nagaoka, aktivis LDP mengakhiri hidupnya di Setagaya, karena ketidaktegasannya soal privatisasi perusahaan pos. Di era modern ini gantung diri lebih disukai ketimbang harakiri.

“Yes, Supiyo-san. Caranya berbeda, tapi tujuan sama, yakni menghapus dosa dan menjaga kehormatan,” ungkap Nakamura seraya menjelaskan bahwa Jepang bukan negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. “Yang jelas, bunuh diri tak ada kaitannya dengan urusan perut lapar atau penyakit,” tulisnya yang langsung menyengat nurani saya mengingat beberapa kasus bunuh diri di Indonesia. Di Bandung, Batu, Jawa Timur, lalu Jakarta. “Mengakhiri hidup yang dikaruniakan Tuhan dengan cara bunuh diri. Duh, Gusti …,” saya menahan isak yang mengharukan nurani.

Olah batin mana yang membisikkan niat seseorang untuk melawan pembenaran diri dan ajaran Ilahi? Semoga dengan kasih sayang dan peduli kepada sesama, kita dengan tulus dan jujur dapat mengilhami orang untuk tetap menerima dan mensyukuri segala karunia Tuhan, kendati hidup begitu sulit, masyarakat tak ramah lagi, dan impitan beban terasa tiada tertanggungkan.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag