Obat Murah Ala Indofarma
Program Departemen Kesehatan tersebut untuk mendukung kampanye Paradigma Sehat. “Selama ini orang sakit lalu ke dokter, padahal tidak harus, bisa melalui self-medication. Kalau tidak juga sembuh, barulah ke dokter. Maka itulah dibutuhkan obat-obat murah, efektif dan sifatnya simtomatik,†Syamsul menerangkan apa yang dimaksud dengan Paradigma Sehat.
Program tersebut jelas peluang bisnis buat Indofarma yang selama ini lebih banyak menggarap pasar prescription atau obat dengan resep dokter (termasuk obat generik). Padahal, pasar obat bebas atau over the counter (OTC) tumbuh makin besar. Dari pasar obat yang totalnya sekitar Rp 23 triliun, pasar OTC sekarang ini sudah hampir Rp 10 triliun. “Pasarnya kan besar sekali, mengapa kami tidak masuk ke sana dengan serius,†ujarnya.
Namun, untuk masuk ke sana pun pasarnya sudah penuh sesak. Maka, Syamsul bertekad membuat produk yang memiliki nilai inovasi, di samping tetap memerhatikan target pasarnya. Masyarakat bawah, lanjutnya, memerlukan obat yang cocok untuk mereka. “Jumlahnya besar, sekitar 70 sampai 100 juta orang. Ini pasar tambahan baru yang cukup potensial, hanya saja tidak semua punya daya beli,†kata Syamsul. Dengan harga obat Rp 1.000 saja, hampir 30 juta orang tak bisa membeli karena memang tak punya uang. Karena itu, pihaknya berusaha mencarikan donor untuk golongan ini. Antara lain, “menunggangi†program Corporate Social Responsibility. Semisal, salah satu BUMN produsen pupuk membeli obat murah Indofarma untuk disumbangkan kepada masyarakat sekitar pabriknya. Atau, Pertamina membeli obat murah untuk dibagikan di sekitar daerah pengeboran.
â€ÂKami rencananya meluncurkan 20 jenis obat, tapi yang sudah mendapatkan izin edar 12 jenis,†tuturnya. Obat-obat simtomatik tak berlogo yang disediakan Indofarma itu di antaranya obat sakit kepala, obat flu, obat batuk berdahak, obat batuk cair, obat cacing, obat asma, penurun panas anak, penurun panas dewasa, penambah darah, dan obat sakit lambung. “Obat untuk masyarakatlah, semua menggunakan nama awalan Indo, contohnya Indo Obat Batuk Cair atau Indo Obat Asma dan seterusnya,†kata pria yang pernah 15 tahun berkarier di PT Kimia Farma itu.
Untuk obat murah yang berbentuk cairan, per paket berisi tiga kemasan. Adapun obat yang berbentuk tablet, per paket berisi 6 tablet.
Mantan Direktur Keuangan Kimia Farma itu membantah kalau peluncuran obat murah sekadar memenuhi anjuran Depkes atau gimmick semata. “Saya hitung benar lho, biaya produksi, distribusi, dan biaya untuk keuntungan peritel juga. Jadi Rp 1.000 per strip itu memang harga untuk konsumen,†ungkapnya. Syamsul menguraikan, sekitar 20% biaya untuk peritel, 10% untuk cadangan distribusi, 10% untuk PPn dan biaya lain-lain. “Kami untung, tapi tipis. Indofarma itu pabriknya berskala besar, makin banyak yang diproduksi, hingga miliaran tablet, makin efisien,†tambahnya.
Dijelaskan Syamsul, awalnya memang untung tipis. Namun, makin besar yang diproduksi, harga pokoknya otomatis akan turun. Hingga bulan Juni lalu, Indofarma sudah memproduksi obat murahnya sekitar 12 juta dosis. Untuk langkahnya ini, tak ada investasi tambahan, hanya memaksimalkan kapasitas produksi yang ada.
â€ÂKapasitas produksi Indofarma baru terpakai 60%, berarti ada 40% yang menganggur. Jika kami pakai untuk obat Rp 1.000-an, kan lumayan,†ujarnya. Jika permintaan obat ini meningkat, bisa saja kelak komposisi tersebut dibalik. Obat murah Rp 1.000 per strip itu menggunakan 60% kapasitas produksi, sisanya untuk obat Indofarma yang lain. Tentang biaya iklan dan keuntungan yang diperoleh, “Jika semua biaya dibebankan pada perusahaan, kami tidak akan mampu. Tapi pemerintah membantu PR-nya, sedangkan biaya iklannya dari kami,†kata Syamsul yang tak bersedia menyebutkan keuntungannya.
Sayangnya, belum semua orang tahu ada obat berbanderol murah. Seperti Jajang, tukang ojek di daerah Depok. “Wah belum tahu tuh, memangnya ada?†tanyanya. Baginya jika memang benar, mestinya segera dikampanyekan, sehingga bisa diketahui banyak orang. “Orang kecil seperti kami ini, sering ketinggalan informasi. Kalau mereka tidak gencar memberi informasi, mana kami tahu,†kata ayah dua anak yang pendapatannya sekitar Rp 20 ribu sehari ini.
Akan tetapi Jajang juga mengatakan, obat sakit kepala sebenarnya ada yang lebih murah, seperti parasetamol yang isinya per strip 10 tablet harganya hanya sekitar Rp 800. “Berarti ada yang lebih murah kan? Ya saya pilih yang paling murah,†katanya sambil tersenyum.
Herning Banirestu.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.