Kemilau Investasi Emas Tak Pernah Pudar
Sejak ribuan tahun lalu, emas sudah dijadikan pilihan investasi. Orang tua kita dulu biasanya berinvestasi emas, selain tanah, rumah, dan tabungan. Bahkan, kabarnya orang Cina keturunan, India, Madura, Manado, Bugis, Batak, dan Padang telah menjadikan emas sebagai instrumen investasi utama mereka. Terlebih bagi mereka yang mobile karena harus merantau ke tempat lain untuk berbisnis sehingga emas bisa dicairkan di mana saja.
Malah di beberapa daerah, misalnya Pandeglang di Provinsi Banten, masih ada yang mengukur sebuah nilai dengan emas. Umpamanya ketika akan menjual sebidang tanah, hitungannya bukanlah uang rupiah, tapi dikonversi dalam hitungan gram emas. Emas juga digunakan untuk menghitung nilai properti. Misalnya, dulu saat membeli ruko menghabiskan 3 kg emas, maka saat ruko itu akan dijual harus seharga 3 kg emas. Ini menunjukkan bahwa persepsi nilai itu adalah emas sehingga terhindar dari kerugian. Makanya, wajar saja emas menjadi pilihan investasi karena logam mulia ini memiliki sejumlah nilai lebih: semakin lama harganya cenderung naik. Pada 1995 harga emas per gram Rp 20 ribu dan sekarang Rp 200 ribu. Sebenarnya, harga emas tidak naik, tapi mata uangnya yang melemah. Saat ini dengan adanya Washington Agreement, kemungkinan harga emas merosot akan jarang terjadi. Pasalnya, agreement itu mengikat 15 bank sentral dunia agar tidak sembarangan dalam menjual cadangan emas, sehingga diperkirakan harga emas relatif stabil. Lalu, emas kebal terhadap laju inflasi. Bahkan ketika inflasi naik, harganya pun ikut naik. Data menyebutkan bahwa ketika inflasi naik 10%, harga emas naik 13%. Ketika inflasi meningkat 20%, harga emas melonjak sampai 30%. Karena itu, emas sering dijadikan wahana yang ampuh untuk investasi saat krisis yang membuat inflasi meningkat tajam. Dan biasanya dalam kondisi ekonomi dan politik yang stabil, jarang sekali harga emas meningkat tajam. Terbukti, saat kita mengalami krisis yang hebat pada 1998 harga emas meningkat tajam karena naiknya permintaan terhadap logam mulia itu. Saat krisis, emas banyak dijadikan sebagai wahana lindung nilai (hedging) terhadap aset seseorang.
Nilai lebih lainnya, emas mudah dicairkan (likuid) dengan cara dijual atau digadaikan di Perum Pegadaian. Dengan demikian, emas sebenarnya bukanlah aset yang pasif, tapi bisa diproduktifkan seperti dengan cara diagunkan ke Pegadaian untuk mendapatkan modal kerja. Hanya dalam tempo 15 menit uang akan cair.
Melihat sejumlah nilai lebih pada emas itu, Mohamad Ihsan Palaloi, penulis buku Kemilau Investasi Emas, menyimpulkan bahwa emas adalah muara segala harga dan muara segala kejadian manusia di dunia ini. Artinya, emas kadang jadi patokan untuk mengukur tingkat perekonomian. Karena itu, hampir di semua negara yang ingin mata uangnya tidak melemah, cadangan emasnya di bank sentral harus ditambah. US$ dan euro pun di-back up dengan emas. Tak mengherankan, Alan Greenspan, saat menjabat Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat pernah mengatakan, sampai saat ini emas merupakan alat pembayaran yang paling utama di dunia. Itu sebabnya, kata Ihsan, ada dua alasan mengapa orang berinvestasi emas. Pertama, hadirnya standar emas dalam mata uang. Kedua, terus meningkatnya permintaan terhadap emas dari waktu ke waktu. Ketiga, investasi emas tidaklah rumit dan bisa dikelola sendiri. Bahkan, bisa dimulai dari nilai terkecil dan bertahap. “Mulailah berinvestasi emas dari yang terkecil, misalnya 1 gram, yang dimulai dari sekarang,†kata Ihsan, yang juga konsultan investasi emas, menganjurkan. Saat ini bentuk emas berbeda-beda: ada perhiasan, koin, atau batangan (lantakan) dengan kadar berbeda, seperti 22 dan 24 karat, atau ada yang menghitung dalam persentase, yaitu 95% dan 99%. Untuk mendapatkan emas tidaklah sulit. Tinggal datang ke toko emas di mana saja, seperti di pusat perdagangan emas Cikini dan Melawai (Jakarta) atau langsung ke PT Aneka Tambang (Antam) di Jalan Pemuda, Pulogadung, Jakarta Timur, yang menjual emas secara eceran, tapi produknya komplet. Emas Antam dijamin karena perusahaan ini telah mengantongi sertifikat logam mulia dari London Bullion Market Association, asosiasi emas internasional. Hanya saja, untuk koin emas, saat ini tergolong langka yang menjual. Dulu, Pegadaian pernah menjual koin emas ONH 24 karat sebagai wahana investasi untuk persiapan ongkos naik haji. Bahkan, Pegadaian memiliki sejumlah gerai khusus yang menjual koin ONH emas ini yang bernama Galery 24. Saat ini Pegadaian tak lagi menjual koin emas ONH ini. Deddy Kusdedi, Direktur Utama Pegadaian, menjelaskan alasannya: pertama, pasar belum terlalu paham dengan instrumen ini; bahwa emas bisa jadi instrumen investasi untuk naik haji, tidak hanya sebagai perhiasan untuk dipakai. Kedua, harganya tidak kompetitif atau lebih mahal karena emas ONH dari Pegadaian ini dikenakan pajak yang cukup tinggi (10%), padahal pajak emas biasa untuk perorangan hanya 2%. “Tingginya pajak karena disamakan dengan pajak korporasi,†katanya sambil mengungkapkan, selama masa pemasarannya pada 1998-2003, Pegadaian telah menjual 400 kg gram koin emas tersebut. Saat ini, yang sedang berancang-ancang menjual koin emas adalah PT Indonesia Gold Dinar (IGD), berupa Gold Dinar, juga emas batangan dengan merek IGD. Menurut Fenny Widjaja, pemilik IGD, sistem transaksi jual-beli di IGD menggunakan platform perdagangan emas (gold trading platform) yang lebih dikenal dengan Gold for Gold (G for G). Dengan gold trading platform, konsumen dimungkinkan melakukan perdagangan fisik emas untuk memaksimalkan keuntungan karena harga emas cenderung stabil. Sebagai tahap awal menancapkan kukunya di industri emas di Indonesia, IGD tengah membangun 50 galeri emasnya di kota-kota besar di seluruh Indonesia dengan cara waralaba (franchise). Kabarnya, target investasi pengembangan jaringan gerai itu mencapai Rp 90 miliar. IGD yang bertindak sebagai master franchise mengantongi izin dari IGDX Holdings Ltd., prinsipal IGD yang berpusat di Malaysia. Di Negeri Jiran itu, IGDX mengembangkan gerai emasnya yang disebut Wakala, dan telah mencapai 22 gerai. Hanya saja, tidak dikembangkan dengan cara waralaba. “Perusahaan kami sudah dicatatkan di Australian Stock Exchange,†ujar Dato Shamshudeen Yunus, CEO IGDX Holding Ltd. Keunikan bisnis emas IGD ini, menurut Fenny, adalah pada sistem perdagangannya yang menggunakan platform G for G. “Keunikan bisnis kami, emas adalah emas. Bukan jual emas dengan mata uang,†katanya. Ia mencontohkan, seorang pelanggan membeli 1 ons emas = US$ 550. Lalu, dalam 2-3 bulan harga emas naik dan menjadi 1 ons = US$ 560. Berarti ada kenaikan US$ 10. Dengan sistem G for G, US$ 10 itu adalah sama dengan 0,0178 ons. Dengan demikian, emas pelanggan itu akan bertambah 1,0178 ons dalam waktu 2-3 bulan.
Mekanisme perdagangan seperti itu akan dijalankan melalui bursa emas atau pasar fisik emas yang rencananya akan dirintis IGD. Malah, bursa emas ini akan dibangun bekerja sama dengan Bapepti dan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). “Namun, sistem perdagangan kami bukan future trading (derivatif), tapi kami betul-betul jual emas dengan emas secara fisik,†Yunus menandaskan. “Ini semua sedang dalam proses yang kami bangun secara bertahap,†ujar Fenny yang merupakan salah satu anak pengusaha Eka Tjipta, pendiri kelompok Sinar Mas. Fenny pun menegaskan, tahap awal ini adalah membangun jaringan gerai IGD di Indonesia. Gerai itu sudah bisa berfungsi untuk jual-beli emas IGD meskipun bursa emas belum berdiri.
“Kalau ada pasar fisik emas, ini merupakan sebuah terobosan di sini. Karena saat ini perdagangan fisik emas itu tidak terkoordinasi,†ujar Hasan Zein Mahmud, Direktur Utama BBJ. Dengan adanya bursa fisik emas itu, instrumen ini menjadi ajang investasi yang lebih menarik. Bursa fisik emas mirip balai lelang emas, tapi menggunakan sistem elektronis dan IGD atau siapa pun bisa berperan sebagai penggerak pasar (market maker). “Mudah-mudahan, dalam waktu dekat kami sudah bisa membuat pasar fisik emas tersebut,†ia berharap.
Selama ini BBJ sendiri sudah memperdagangkan emas malalui perdagangan Kontrak Gulir Emas (KGE) dan Kontrak Indeks Emas (KIE). Kalau dilihat dari data BBJ, KIE lebih diminati. Agustus lalu transaksi KIE mencapai 2.532 kontrak naik dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 2.469. Sementara KGE pada Agustus hanya 29 kontrak, turun dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 34. KIE pernah mengalami lonjakan transaksi tertinggi pada Mei yang mencapai 7.188 kontrak.
Selain itu, BBJ pernah akan memperdagangkan Negotiable Gold Forward, bekerja sama dengan Antam yang berperan sebagai emiten/issuer. Antam ini yang mengeluarkan sertifikat emas yang dipegang para investor. Sertifikat emas ini ada jatuh temponya dan menghasilkan bunga dalam bentuk emas lagi. Jadi, emas berbunga emas dan fisiknya bisa diambil di Antam pada saat jatuh tempo. Nah, sertifikat emas itu bisa diperdagangkan di BBJ dari satu investor ke investor lain dan BBJ sendiri yang menyediakan bursanya berupa fasilitas online. “Namun karena tidak mendapat support yang memadai dari otoritas, Antam mundur dan rencana ini tertuda,†ujarnya.
Bagi Ihsan, pada prinsipnya berinvestasi dengan underlying emas bisa menguntungkan. Hanya saja, bagi yang tidak memahami berdagangan future emas seperti di BBJ sebaiknya investor menunda dulu. Lebih baik berinvestasi emas secara fisik yang bisa dikelola sendiri dan relatif lebih mudah.
Pengelola website investasi emas ini memberikan tip cara berinvestasi emas. Pertama, pelajari dulu apa itu emas, apa manfaatnya, dan siapa saja yang bermain emas. Kedua, mulailah berinvestasi emas secara bertahap atau sedikit demi sedikit, tapi rutin. Ketiga, jadikan emas sebagai wahana investasi jangka panjang, tidak hanya mengandalkan capital gain/margin dari harga jual dan beli dalam tempo singkat karena hasil investasinya akan kurang maksimal. Keempat, simpanlah logam mulia itu di tempat yang aman, bisa di rumah dengan memiliki safety deposit box atau disimpan di bank dengan jaminan asuransi.
Kelima, untuk perorangan, investasi emas bisa dengan perhiasan sehingga bisa digunakan aksesori, sementara bagi perusahaan atau UKM sebaiknya dalam bentuk emas batangan. Namun, kemungkinan perorangan memiliki emas batangan juga tidak tertutup. Malah emas batangan ini lebih menguntungkan karena tidak ada ongkos pembuatan yang dibebankan pada pembeli dan saat dijual, toko emas hanya membeli harga emasnya. Keenam, sebaiknya membeli emas di tempat-tempat terpercaya dan direkomendasikan membeli di Antam. Ketujuh, jika tidak paham, hindari investasi emas melalui dunia maya atau online trading. Apalagi, kalau tidak ada jaminan otoritas bursa atau pemerintah.
Budi, seorang investor emas, mengungkapkan pengalamannya. Ia sudah lama berinvestasi emas. Oleh orang tuanya, ia diajari hal yang sudah turun-menurun dalam keluarganya itu. “Biasanya setiap ada keuntungan usaha saya belikan emas dan saya simpan,†katanya. Ketika emasnya sudah dirasa cukup, ia bisa membeli aset-aset produktif seperti ruko yang kemudian bisa ia sewakan atau jual kembali. “Hitungannya, saat saya membeli ruko itu, saya menghabiskan berapa gram emas dan nanti kalau akan dijual, hitungan gram emasnya harus sama seperti saat saya akan membeli ruko atau lebih. Itu dijamin untung,†tuturnya. Yang jelas, Budi mengaku, berinvestasi emas tidaklah rumit dan tak pernah rugi selama bisa menyimpannya dengan aman.***
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.