Kontribusi Software Berlisensi Menguntungkan Perekonomian Negara

Kontribusi Software Berlisensi Menguntungkan Perekonomian Negara

Penggunaan perangkat lunak (software) berlisensi ternyata bukan hanya bermanfaat bagi pribadi ataupun perusahaan yang memakainya. Negara juga diuntungkan dengan pemakaian produk tersebut. Keuntungan yang diberikan pun tidak kecil.

Studi yang dilakukan oleh BSA, advokat global untuk industri perangkat lunak, dengan Insead, salah satu sekolah bisnis dunia, yang berjudul “Competitive Advantage: The Economic Impact of Properly Licensed Software” menemukan bahwa peningkatan penggunaan perangkat lunak berlisensi bakal memberikan pemasukan yang lebih besar kepada negara. Ini adalah sebuah studi inovatif yang mengumpulkan data dari 95 perekonomian, yang mana 15 diantaranya dari Asia Pasifik.

“Studi ini mengonfirmasi bahwa perangkat lunak berlisensi tidak hanya baik untuk perusahaan, tapi juga merupakan faktor pendorong yang penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” terang Roland Chan, Senior Director Marketing BSA Asia Pasifik, di Jakarta, Rabu (22/5/2013).

Roland Chan, Senior Director Marketing APAC BSA

Tentunya, perangkat lunak berlisensi terbilang mahal ketimbang produk yang palsu atau bajakan. Akan tetapi, penggunaan produk yang asli sebenarnya adalah hal yang tak bisa ditawar. Roland mengatakan, “Menggunakan perangkat lunak berlisensi mengurangi resiko dan menciptakan efisiensi operasional yang mendasar dan dapat langsung dirasakan bagi perusahaan.”

Manfaatnya penggunaan perangkat lunak yang asli ternyata bukan hanya jadi milik perusahaan ataupun individu. Negara juga turut merasakan dampak positifnya. Hasil studi memperlihatkan, kenaikan 1 persen pengunaan perangkat lunak berlisensi akan menghasilkan produksi nasional sebesar US$ 593 juta. Lebih besar dibandingkan US$ 254 juta dari kenaikan yang sama untuk penggunaan perangkat lunak bajakan. Dengan demikian perangkat lunak berlisensi memberikan tambahan nilai ekonomi sebesar US$ 339 juta bagi perekonomian Indonesia.

Perhitungan yang demikian juga berlaku untuk skala regional. Di mana peningkatan jumlah penggunaan perangkat lunak berlisensi di Asia-Pasifik sebesar 1 persen akan menambahkan US$ 18,7 miliar ke perekonomian regional, atau lebih besar ketimbang US$ 6 juta dari perangkat lunak bajakan. Artinya, terdapat selisih US$ 12,7 miliar.

Selain itu, studi juga menemukan bahwa setiap penambahan US$ 1 investasi pada perangkat lunak berlisensi diperkirakan menghasilkan return on investment (ROI) atau laba atas investasi sebesar US$ 248. Hasilnya lebih besar jika dibandingkan dengan laba sebesar US$ 17 yang didapat dari pemakaian perangkat lunak bajakan.

Eduardo Rodriguez-Montemayor, senior research fellow dari INSEAD eLab, menambahkan, “Hasil ini menegaskan bahwa perangkat lunak berlisensi menguntungkan bagi bisnis dan perekonomian nasional. Dan perangkat lunak berlisensi memiliki dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan perangkat lunak bajakan bagi seluruh perekonomian yang termasuk dalam studi ini.”

Untuk itu, BSA memandang bahwa penting untuk menetapkan hukum kekayaan intelektual yang kuat dan modern demi melindungi perangkat lunak dan materi ber-hak-cipta lainnya di dalam komputer, perangkat bergerak, dan di dalam cloud. Kesadaran publik akan resiko pembajakan perangkat lunak juga harus ditingkatkan. “Pemerintah, aparatur penegak hukum, dan industri di Indonesia harus mengambil setiap kesempatan untuk mendapatkan potensi keuntungan ini dengan menurunkan angka pembajakan dan mempromosikan penggunaan perangkat lunak berlisensi,” tegas Roland. (EVA)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag