Indriati Lim : Sunsilk Punya Cara Sendiri Gaet Hati Wanita
Punya rambut, hitam, panjang, dan lurus? Anggapan kuno mungkin masih menjadi polemik bagi sebagian wanita yang mau beralih warna atau tetap konsisten mempertahankan warna rambut hitam. Namun tak perlu risau, sebab kini Sunsilk mewadahi para wanita di Indonesia agar bangga dan tetap mempertahankan model rambutnya sesuai dengan warna asli. Lewat deklarasi Hari Kemilau Indonesia, Indriati Lim, Senior Brand Manager Sunsilk sukses menyihir jutaan wanita untuk terpikat kembali dengan Sunsilk. Bagaimana perjalanannya membawa brand Sunsilk hingga sukses sampai sekarang? Berikut penuturannya kepada Gustyanita Pratiwi dari Swaonline :
Indriati Lim, Senior Brand Manager Sunsilk Indonesia
Bagaimana perjalanan karier Anda hingga bisa menapaki karier sebagai salah satu brand manajer Unilever?
Saya lulusan Quensland University of Technology jurusan Teknik Industri. Nah setelah pulang dari sana, saya bekerja di salah satu perusahaan multinasional kurang lebih 2 tahunan. Akhirnya saya masuk ke Unilever pada tahun 2003. Dari Unilever saya sudah pegang beberapa brand. Ice cream pernah, laundry juga pernah yaitu di produk Fabric Cleaning, dan sekarang saya kebagian pegang hair category yaitu Sunsilk. Nah, tepat pada hari ini, 30 Mei 2013 kami melakukan deklarasi Hari Kemilau Indonesia di bawah bendera Sunsilk.
Kenapa Anda tertarik masuk ke industri consumer good seperti Unilever?
Apa yang saya pikirkan, apa yang saya mau lakukan terhadap brand baru, itu bisa dilakukan dengan bebas di Unilever. Di sini kami memiliki kesempatan untuk menerapkan strategi-strategi marketing yang baik bagi brand, perusahaan, maupun terspesialisasikan ke konsumen wanita, khususnya untuk brand yang saya tangani sekarang. Jadi sebenarnya apa yang mau kami lakukan untuk banyak masyarakat itu bisa saya wujudkan di Unilever.
Apa tantangan yang dihadapi?
Banyak ya. Dari pesaing-pesaing mungkin itu yang menjadi faktor penentu kami dalam berkreasi lagi, lebih dan lebih sehingga akhirnya konsumen dapat berpaling ke brand kami hingga ke taraf loyal.
Dari sekian brand yang pernah ditangani di Unilever, mana yang paling menarik?
Semuanya enak ya, karena semua mempunyai tujuannya masing-masing. Tujuannya berbeda-beda. Misalnya Sunsilk, misinya supaya kami dapat mendorong wanita Indonesia agar lebih bangga dengan apa yang kita punya sekarang. Dengan rambut hitam yang kita miliki sejak lahir, jangan hanya ikut-ikutan trend mewarnai rambut saja, sebab setelah melakukan digital poling via Shine with Pride, saya mendapatkan beberapa data yang mengejutkan. Sebanyak 4,2 juta wanita Indonesia memilih mempertahankan rambut hitam dari total 7 juta suara dalam waktu 2 minggu saja. Sementara dari survei yang dilakukan di beberapa kota di Indonesia terhadap 100 wanita, 94%-nya wanita Indonesia pun menyatakan ingin tetap mempertahankan warna rambut aslinya. Jadi udah deh, jangan galau-galau lagi mau ganti warna rambut. Percaya aja, warna rambut asli kita lebih sesuai dengan bentuk muka kita bahkan akan lebih menonjlkan kecantikan alami kita sebagai wanita-wanita Indonesia.
Kalau tanggung jawabnya sendiri di posisi ini apa saja?
Salah satunya yaitu mengembangkan brand. Bagaimana brand ini bisa lebih dicintai lagi oleh masyarakat Indonesia. Sejak masuk di brand Sunsilk pada April 2011, banyak campaign-campaign yang telah kami lakukan, seperti hari ini yang lebih terfokus ke Sunsilk Black kami. Jadi bukan hanya di iklan yang kami gencarkan, tapi lebih dari itu kami ingin wanita Indonesia bisa benar-benar jatuh cinta terhadap brandnya.
Selama menjadi brand manajer Sunsilk tentunya banyak campaign-campaign yang sukses, bagaimana strategi Anda dalam meraih prestasi tersebut?
Pertama tentu dari sisi produknya sendiri. Kami selalu usahakan produknya meaning in the market, jadi benar-benar bagus di pasaran. Karena tidak ada gunanya kami cuap-cuap, ngomong apa segala macam ambil hati konsumen, tapi dari produknya sendiri tidak mencover. Jadi kami mengkombinasikan antara produknya sendiri dan bagaimana cara kami mengkomunikasikannya.
Budget belanja Iklannya boleh dishare?
Maaf terkait data saya tidak berkompeten untuk menjawabnya.
Tapi untuk strategi pemasarannya lebih banyak ke iklan atau bagaimana?
Campur ya. Iklan TV itu sudah pasti. Digital, kami lumayan heavy. Kami banyak sekali campaign dalam bentuk digital contohnya di www.sunsilk.co.id, hairfashion.me, dll. Jadi lumayan banyak sih, karena kami juga mengikuti tren sebab konsumen-konsumen kami, seperti anak-anak peserta Kemilau Day hari ini, mereka sekarang cenderung ke mobile. Jadi kami mengikuti saja bagaimana bisa berkomunikasi dengan mereka setiap saat. Karena kita tahu kalau TV itu kan sebenarnya tidak bisa setiap saat disaksikan. Jadi ada cara lain lah untuk selalu berkomunikasi dan dekat dengan konsumen. Tapi untuk porsinya memang masih banyak tradision ya (lewat TV).
Indriati Lim (paling kanan) berpose dengan Rieke Diah Pitaloka dan Raisa
Kalau bicara masalah kompetitor, ada beberapa yang gencar sekali beriklan dan bahkan menjadi promotor utama beberapa event-event besar, apakah Sunsilk akan mengikuti jejak yang sama?
Kami mempunyai cara sendiri, merekapun mempunyai cara sendiri untuk menarik perhatian konsumennya. Contohnya, dengan mendeklarasikan Hari Kemilau Indonesia ini, rencananya kami akan jalan ke begitu banyak store dengan mencanangkan adanya simbol, misalnya hair piece. Itu kan sesuatu yang berbeda menurut saya kalau dilihat dari sisi marketingnya, sebab selama ini belum ada simbol-simbol semacam itu.
Deklarasi Hari Kemilau ini apakah ada kaitannya untuk mendongkrak penjualan?
Tidak sih. Ini lebih sebagai bentuk apresiasi kepada wanita Indonesia agar lebih bangga dengan ciri khas rambutnya.
Apa lagi target dan rencana Anda ke depan terkait karier?
Kalau saya sih jiwanya di marketing ya. Jadi walaupun saya pindah ke manapun, apakah saya tetap di Unilever, pegang brand apapun, saya masih tetap on track di marketing. Karena menurut saya marketing itu sangat dinamis. Begitu banyak hal-hal yang bisa dieksplorasi. Setiap harinya saya selalu berpikir cara apa lagi ya yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Jadi breaktrough itu banyak. Untuk ke depannya, saya masih ingin di marketing. (EVA)

