Mainan Baru bagi Investor Kakap

Mainan Baru bagi Investor Kakap

Ada instrumen investasi baru bagi investor di Tanah Air: Kontrak Opsi Saham (KOS). Apa itu? Sebagai ilustrasi, KOS tak beda dari sistem ijon yang dilakukan para tengkulak atau orang yang menjual kembali transaksi rumah dalam masa inden. Artinya: yang diperdagangkan adalah hak jual atau hak belinya, bukan barang riilnya.

Secara teoretis, KOS berarti efek yang memuat hak jual (put option) atau hak beli (call option) atas saham induk dalam jumlah dan harga pelaksanaan (strike/exercise price) tertentu serta berlaku pada periode tertentu. Masa kontrak (maturity) bisa satu atau tiga bulan. Pihak pembeli disebut taker dan penjual diistilahkan dengan writer. Harga opsi yang diperjualbelikan namanya premi (premium). “Meski masa kontrak perdagangan KOS satu dan tiga bulan, investor bisa keluar masuk setiap saat,” kata M.S. Sembiring, Direktur Bursa Efek Jakarta (BEJ). KOS mengacu ke American Style, sehingga opsi bisa dilelang dalam beberapa kali transaksi hingga datang masa kontrak dieksekusi.

Sebagaimana layaknya saham, KOS adalah surat berharga yang juga dapat diperdagangkan. Namun, di sini yang ditransaksikan hanyalah hak jual atau hak belinya. “Jadi, bukan saham induk. Akan tetapi, potensi meraih gain nyaris sama dengan transaksi saham inti,” tambah Sofyan Rambey, Executive Vice President Derivative Mandiri Sekuritas.

Bila Anda bingung, begini gambarannya. Contoh: petani X (writer) menjual 10 juta (contract size) butir durian seharga Rp 5 ribu/butir (strike price) kepada pembeli Y (taker) pada bulan Februari sebelum panen tiba. Karena barang belum ada dan supaya X tidak menjual kepada orang lain, maka Y wajib membayar uang panjar Rp 5 juta (premi) kepada X untuk ikatan. Lama perjanjian disepakati tiga bulan (Maret-April-Mei). Terlepas dari isi perjanjian itu, dalam perkembangannya, harga durian di pasar (spot price) bergejolak. Jika panen berhasil, durian berlimpah, harga jatuh, misalnya Rp 3 ribu/butir. Sebaliknya, saat panen buruk, persediaan durian terbatas, sehingga harga naik Rp 6 ribu/butir.

Pertanyaannya: kalau harga pasar durian tiba-tiba turun (bearish), apakah Y perlu membeli/mengeksekusi haknya (call option)? Tidak. Sebab, jika dibeli, Y akan rugi lebih besar karena harus mengeluarkan uang Rp 50 miliar (Rp 5 ribu x 10 juta butir). Padahal, jika mengacu pada harga pasar saat itu, ia hanya bayar Rp 30 miliar (Rp 3 ribu x 10 juta butir). Sementara itu, jika tidak dibeli, paling-paling Y hanya kehilangan uang panjar Rp 5 juta.

Sebaliknya kalau harga pasar durian naik (bullish), pasti transaksi itu segera direalisasi Y, karena untung besar di depan mata. Lihatlah harga pasar durian menjadi Rp 6 ribu/butir, tapi Y cukup bayar Rp 5 ribu/butir sebagaimana kesepakatan awal. Jumlah untungnya Rp 9,995 miliar. Hasil ini diperoleh dari Rp 6 ribu-Rp 5 ribu x 10 juta = Rp 10 miliar – Rp 5 juta (karena premi dianggap uang hilang).

Contoh di atas baru bicara soal call option. Lalu bagaimana dengan put option? Orang membeli put option dengan harapan harga turun. Berapa pun harga turun tidak masalah, karena ia bisa menjual lagi di level tertentu. Sebagai contoh, seorang fund manager Z –untuk menjaga Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana saham yang dikelolanya– dan ia khawatir jika terjadi penurunan saham yang dibeli akibat pasar bearish, lalu melakukan hedging dengan membeli put option dari KOS dengan posisi long put. Dengan demikian, Z punya hak untuk menjual saham yang dimiliki pada harga tertentu. Katakanlah, hari ini saham Telkom di pasar spot Rp 7.300. Z menetapkan batas toleransi penurunan maksimal 10%. Jadi, ketika besok harga Telkom turun menjadi Rp 6.600 tidak masalah karena ia telah melakukan risk management untuk melindungi portofolio investasinya.

Berkaitan dengan jenis KOS, Sembiring menjelaskan, rencananya ada lima opsi saham induk yang ditransaksikan KOS: yakni saham Telkom (TLKM), Astra International (ASII), HM Sampoerna (HMSP), Indofood (INDF), dan BCA (BBCA). Kelima saham bluechips ini dipilih karena kinerjanya terbagus mewakili masing-masing sektor industrinya. Kriterianya: telah listing di bursa minimal 12 bulan, transaksi harian minimum dua ribu frekuensi dalam sebulan, volatilitas harga minimal 10 per bulan, dan harga saham minim Rp 500. Kelak, akan dikembangkan menjadi 40 saham yang bisa dijadikan pilihan transaksi KOS.

Menurut Sofyan, dibanding saham, KOS menyimpan beberapa kelebihan, antara lain fleksibilitas dalam hal pengambilan posisi (strategi trading) dan elemen leverage. Artinya, sebelum ada KOS, tiap investor hanya memiliki satu ekspektasi. Bila pasar ekspektasinya bullish, ambil posisi beli. Sebaliknya, jika ekspektasi pasar bearish, ambil posisi jual atau melikuidasi semua asetnya. Keunggulan KOS yang lain: diversifikasi portofolio, penambahan pendapatan, dan spekulasi.

Hendry Kuswari, Deputy Head Future & Option Department Mega Capital, memperkuat opini Sofyan. “Dengan KOS, potensi return bisa dua arah, yaitu ketika harga saham naik atau turun tetap berpeluang ada untung,” jelasnya. Sebab, investor bisa membeli hak jual (put option) saat pasar bearish. Sementara itu, di pasar spot saham cuma satu arah dengan ekspektasi harga naik. Akibatnya, jika harga saham turun, investor saham hanya bisa diam (hold), cut loss atau jual rugi. Itulah sebabnya Hendry senang atas kehadiran KOS. “Apalagi, potensi capital gain di KOS bisa ratusan persen, bahkan ribuan persen,” tutur Hendry.

Namun, tunggu dulu. Jangan mudah tergiur iming-iming gain besar. Sebab, untuk mendapatkan untung besar, investor mesti mewaspadai beberapa hal. Sofyan menyarankan agar investor memahami betul bagaimana karakteristik KOS dan risikonya. Bagaimana pun, harga KOS dipengaruhi harga saham induknya dan variabel pasar. “Lakukan analisis saham dan pasar, baru implementasikan strategi opsi,” kata Sofyan.

Sembiring membenarkan, di samping aspek manfaat, investor harus berhati-hati dengan dua risiko KOS. Yang pertama risiko pasar yang disebabkan fluktuasi harga saham acuan yang tak dapat diprediksi. Yang kedua risiko likuiditas. Ini diakibatkan oleh keterbatasan jumlah pihak yang melakukan perdagangan KOS di bursa.

Tingginya risiko KOS, belum meratanya edukasi pasar, serta desain produk yang dianggap kurang market friendly membuat investor ritel belum tertarik memilih KOS. Widia Adrianto, Kepala Cabang Samuel Sekuritas di kampus Universitas Bina Nusantara, mengakui hal itu. Kliennya lebih suka bermain saham lantaran praktis dan cocok untuk investor pemula. “Permainan KOS lebih tepat bagi investor yang sudah advanced,” ungkap Widia.

Apalagi, lanjut Sofyan, KOS memiliki kelemahan soal besaran contract size (100 ribu saham) yang akan sangat berpengaruh terhadap modal investasi dan kewajiban pemenuhan margin (minimal 10% dari premi atau harga saham induk). Ini bakal memberatkan investor berkantung cekak. Jika satu kontrak opsi (100 ribu saham), maka besaran satu kontrak opsi setara dengan 200 lot saham (1 lot=500 saham). Bandingkan 100 ribu:500 atau 200:1. Sebagai gambaran, di Amerika Serikat besaran kontrak opsi setara dengan kontrak saham, yaitu sama-sama 100 lembar atau 1:1 (one to one). “Apakah investor kecil punya dana sebesar itu untuk mengakses pasar opsi,” tanya Sofyan sengit. Kekhawatiran lain adalah kemungkinan adanya sementara pihak yang beranggapan bahwa trading KOS tidak beda dengan judi (gambling).

Terlepas dari apakah investor itu spekulan, bertujuan hedging –baik pemula maupun yang sudah berpengalaman di bursa, pada gilirannya perdagangan KOS diharapkan memberikan manfaat untuk peningkatan likuiditas transaksi saham di pasar spot. Alhasil, kelak diharapkan terwujud harga pasar yang wajar. Tambahan lagi, dengan KOS, prinsip manajemen risiko dapat diimplementasi lebih prudent, karena tersedia instrumen lindung nilai.

Boks:

Membandingkan Profit/Loss Saham dan KOS

Salah satu kelebihan KOS, sebagaimana instrumen derivatif lain, adalah leverage. Artinya: dengan dana lebih kecil, investor dapat melipatgandakan tingkat keuntungan –tentunya dibarengi risiko lebih tinggi pula.

Contoh: investor B memiliki dana Rp 80 juta dan berekspektasi bullish atas saham Telkom. Maka, ada dua pilihan investasi. Yang pertama membeli saham Telkom di pasar spot dengan harga saat ini Rp 8 ribu. Yang kedua membeli kontrak call option atas saham BMUN ini di strike price Rp 8 ribu, tapi preminya Rp 200 (harga premi ditentukan penjual dan pembeli).

Alternatif dua transaksi itu membawa konsekuensi masing-masing. Yang pertama strategi membeli saham Telkom pada harga Rp 8 ribu, maka perolehan unit saham yang didapat 20 lot (10 ribu lembar saham).

Lantas berapa potensi profit saham B tadi jika tiba-tiba di pasar spot harga saham Telkom naik Rp 8.500? Hitungannya: (Rp 8.500-Rp8.000) x 20 lot x 500 lembar = Rp 5 juta. Jika dipersentase hasil gain-nya: 6,25%. Sebaliknya, jika saham Telkom turun ke level Rp 7.500, kerugian yang diderita B Rp 5 juta.

Yang kedua strategi beli call option Telkom dengan strike Rp 8 ribu, tapi preminya hanya Rp 200. Maka, perolehan unit yang didapat empat kontrak (400 ribu lembar saham). Perhitungannya: Rp 80 juta : (Rp 200 x 100 ribu) = 4 kontrak.

Berapa potensi profit jika harga saham perusahaan pelat merah ini naik menjadi Rp 8.500? Hitungannya: (Rp 8.500-Rp8.000) x 4 x 100 ribu = 200 juta. Jadi, dengan modal Rp 80 juta, B memeroleh keuntungan 250%. Di lain pihak, potensi loss jika harga saham Telkom turun menjadi Rp 7.500 adalah maksimal sebesar premi yang dibayar, yakni Rp 80 juta (100%).

Dari ilustrasi itu, tampak bahwa elemen leverage akan memberikan potensi keuntungan bermain opsi jauh lebih besar ketimbang saham induk. Pun, disertai potensi rugi yang tidak kalah besarnya.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag