Pertaruhan Bimantara di Bisnis Telekomunikasi

Pertaruhan Bimantara di Bisnis Telekomunikasi

Sedikitnya US$ 200 juta dibenamkan anak perusahaan Bimantara itu untuk masuk ke bisnis yang diyakini menyimpan potensi sangat besar ini. “Komitmen kami di bisnis ini sangat tinggi, karenanya kami berani mengeluarkan investasi yang besar,” ungkap Djoko. Ia menjelaskan, dalam tahap awal Mobile 8 telah melakukan uji coba layanan wireless broadband pada 17 base tranceiver station (BTS) di Jakarta, dengan rata-rata throughput 500-800 Kbps, atau jauh lebih cepat dibanding 80 Kbps untuk CDMA 2000 1x. Saat ini, secara keseluruhan Mobile 8 memiliki 300 BTS yang tersebar di Pulau Jawa.

Tawaran akses data dengan kecepatan lebih tinggi ini, menurut Djoko, diharapkan dapat menjawab kebutuhan pelanggan yang selama ini merindukan layanan itu. “Ini merupakan salah satu nilai tambah yang kami tawarkan,” katanya.

Dibanding operator lain, layanan yang ditawarkan Mobile 8 jauh lebih maju. Di samping layanan suara, SMS dan data, Fren juga menawarkan produk-produk aplikasi konten lainnya, seperti faster data access, traffic monitoring dan video on demand, berita, info finansial, e-mail serta info sinema. Djoko menjelaskan, sesuai dengan namanya, Fren berusaha selalu menemani pelanggan untuk memenuhi semua kebutuhannya. “Yang kami tawarkan adalah komunikasi total. Belakangan kebutuhan data cable terasa sangat meningkat,” ujarnya.

Untuk mendukung layanannya, Mobile 8 menjalin kerja sama dengan lebih dari 20 content provider yang mendukung konten-konten pada layanan yang mereka tawarkan. “Semakin banyak content provider, jumlah pengguna layanan ini akan terus meningkat,” katanya.

Namun, berbeda dari Telkom Flexi (PT Telkom) dan Esia (PT Bakrie Telekom) — yang juga mengusung teknologi CDMA — Fren tidak mengedepankan harga murah sebagai salah satu alat bersaing. “Segmen yang kami bidik adalah segmen mobility, karenanya tarif yang kami tetapkan kompetitif dengan GSM,” Djoko menjelaskan. Izin yang mereka kantongi sama seperti Telkomsel, Satelindo dan Excelcom, yaitu komunikasi mobile.

Roy Suryo, pengamat industri telekomunikasi, mengatakan, Mobile 8 harus melakukan usaha yang sangat keras, khususnya mengedukasi konsumen bahwa meski mengusung teknologi yang sama, keberadaan mereka berbeda dari Telkom Flexi dan Esia. “Ini bukan usaha yang mudah, karena CDMA seakan-akan sudah identik dengan tarif murah,” ujarnya.

Senada dengan Roy, Djoko pun berujar, edukasi merupakan target utama mereka saat ini. Terlebih fitur-fitur yang mereka tawarkan merupakan hal yang baru bagi kebanyakan masyarakat. Karena itu, dalam tahap peluncuran ini Mobile 8 juga menyelenggarakan pameran di berbagai pusat penjualan ponsel untuk mendemokan kecanggihan teknologi dan fitur yang mereka tawarkan.

Industri telekomunikasi, khususnya telekomunikasi seluler, memang merupakan salah satu industri yang pertumbuhannya sangat fantastis. Tahun 2003 saja, jumlah pelanggan baru seluler mencapai angka 6 juta. Karena itu, Roy menilai Mobile 8 tetap berpeluang bersaing dengan operator lain yang lebih dulu bermain di industri ini. “Sebagai operator baru, langkah Mobile 8 sudah cukup baik, karena mereka menawarkan sesuatu yang berbeda dari pemain-pemain yang lebih dulu masuk,” ujarnya.

Namun, keunggulan teknologi CDMA yang diusung Mobile 8, menurut Roy, bisa menjadi hambatan tersendiri bagi mereka. “Ketersediaan dan mahalnya harga handset CDMA akan menjadi kendala tersendiri bagi mereka,” katanya. Karena itu, ia menilai sulit bagi Mobile 8 bisa menyalip operator-operator seluler yang menggunakan teknologi GSM yang telanjur sangat memasyarakat di Indonesia.

Keberadaan Fren di industri seluler nasional, dikatakan Roy, sama dengan Metro TV di industri broadcast di Indonesia. Sebab, keunggulan layanan yang mereka tawarkan belum banyak dibutuhkan sebagian besar pelanggan seluler di Indonesia. “Metro TV tidak akan menjadi televisi nomor satu atau nomor dua, karena segmen mereka sangat berbeda dari televisi lain. Mobile 8 juga harus sadar dengan posisinya itu.”

Berbeda dari Roy, Djoko sangat optimistis akan peluang Fren. Dikatakannya, dengan keunggulan teknologi dan fitur yang ditawarkan, Fren akan menjadi kartu ponsel pilihan masyarakat. Tahun pertama, Mobile 8 menargetkan meraih 5%-10% pangsa pasar industri telekomunikasi nasional, atau setara 1 juta pelanggan. “Kami harus terlebih dulu membuktikan kepada pasar bahwa produk ini memang memiliki kualitas yang lebih baik dibanding operator lain,” ujarnya.

Mobile 8 juga akan mengembangkan jaringan ke luar Jawa. “Rencana ke arah sana sudah ada, mungkin akhir 2004 atau awal 2005,” ungkap Djoko. Yang pasti, tahun ini Mobile 8 akan kembali membangun sekitar 133 BTS baru di Jawa, yang 33 di antaranya untuk layanan wireless broadband.

# Tag