Memulai Perubahan dari Sampah

Memulai Perubahan dari Sampah

Yang sekarang sudah berjalan adalah bisnis pengelolaan sampah menjadi kompos, plastik dan biomassa. Khusus biomassa, warga Jati Murni menjualnya ke PT Indocement sebagai bahan baku pengganti batu bara. Adalah Hidayat, sang ahlinya. Rhenald mengenalnya lewat acara talk show Bedah Bisnis yang disiarkan sebuah stasiun radio beberapa tahun silam. Melalui perusahaannya, PT Mitratani Mandiri Perdana (Mittran), Hidayat berpengalaman mengelola sampah menjadi kompos dan memasarkannya ke berbagai wilayah di Indonesia.

Dibantu Hidayat, sampah warga di kawasan Jati Murni mulai dikelola pada 2007. Tiap hari petugas RP mengangkut sampah di depan rumah warga menggunakan mobil bak terbuka. Sampah akan tiba di sebuah lokasi seluas 700 m2, yang letaknya tidak jauh dari RP. Setelah diolah, sampah diayak untuk memisahkan antara komponen yang halus dan yang kasar, juga antarplastik. Sampah organik halus dapat langsung dijual sebagai kompos dengan harga Rp 8.000 per 20 kg. Proses ini menghasilkan kompos 10%-20%. Sisanya berupa plastik dan energi biomassa, yang akan dipres lagi untuk dijual ke pabrik. Pada dasarnya, Hidayat menjelaskan, pengelolaan sampah yang dilakukan RP tidak jauh berbeda dari yang lain. Hanya saja, di tempat ini semua tahapan dikombinasikan menjadi sebuah proses yang dia sebut “manajemen sampah” sehingga proses pengumpulan sampah menghemat biaya dan waktu. Misalnya, bak-bak sampah diganti drum-drum bekas berkapasitas 100 liter yang dijadikan tempat sampah berkaki tiga. Drum tersebut diletakkan di beberapa titik pengangkutan. Biaya per drum Rp 30 ribu/bulan yang bisa dibagi untuk 2-5 keluarga, sehingga biaya yang ditanggung per keluarga lebih ringan. Selain itu, waktu pengangkutan juga lebih cepat: hanya 1,2 menit per drum. Dengan waktu kerja 6 jam sehari, 240 drum dapat diangkut. Jika setiap drum dibagi rata kepada lima keluarga, dalam sehari sampah yang berasal dari 1.200 keluarga dapat ditangani dengan baik.

Kini, usaha pengolahan biomassa RP sudah merambah ke wilayah lain: Jabodetabek (8 pengolahan), Yogyakarta (1), Bali (2), Purwokerto (2) dan Kalimantan Timur (1). Hidayat akan membangunnya pula di Merauke. Selain dapat mengatasi masalah sampah, usaha yang dikembangkan RP juga memberikan lapangan kerja bagi warga sekitar. “Mereka dipekerjakan dengan sistem yang sangat sederhana. Mereka datang, menyerahkan KTP, kerja, lalu pulang membawa uang,” tutur Hidayat.

Upaya pembenahan sampah juga dilakukan oleh Bupati Sragen, Untung Wiyono, bekerja sama dengan Yayasan Danamon Peduli. Pada 10 April 2008, di Dayu Alam Asri, Kecamatan Karangmalang, Sragen, bersama Yayasan Danamon Peduli, Untung mengundang 70 pemimpin kabupaten/kota dari seluruh Indonesia untuk mempelajari, menyaksikan dan mereplikasi unit pengelolaan pupuk organik berbasis sampah pasar di Pasar Bunder. Mengapa memilih Sragen? “Di Sragen proses pengelolaan sampah organik dan anorganik sudah menjadi habit,” kata Risa Bhinekawati, Ketua Umum dan Direktur Eksekutif Yayasan Danamon Peduli.

Setiap hari, pasar Sragen berpotensi menghasilkan 5 ton sampah organik yang dapat diolah menjadi 2 ton pupuk organik berkualitas tinggi. Saat ini, baru 3 ton sampah organik yang dapat diolah menjadi 1,2 ton pupuk organik. “Dari jumlah itu, akan dihasilkan 0,9-1,8 m3 biogas, yang cukup untuk memasak 20 warung di sekitar pasar,” ungkap Dr. Darmono Taniwiryono, Direktur Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia yang menjadi mitra teknologi Danamon Peduli dan Pemerintah Kabupaten Sragen.

Sejak terpilih sebagai Bupati Sragen pada 2001, Untung telah mencanangkan dan menyosialisasi penggunaan kompos organik murni buatan sendiri. “Kelompok tani sudah membuat pupuk organik sendiri di Sragen. Kami juga mengekspor pupuk organik ke Korea Selatan dan Jepang,” katanya seraya menambahkan, ekspor pupuk dimulai tahun 2003.

Kerja keras Untung memopulerkan pengelolaan sampah menjadi pupuk organik sudah terlihat hasilnya. Dulu, untuk menggarap 1 hektare lahan, petani menghabiskan 1 ton pupuk kimia. Sekarang, petani hanya menggunakan 250 kg pupuk kimia per ha lahan.

Di samping Sragen dan Bantul, Risa mengungkapkan, ada 10 pemkab/pemerintah kota yang siap bekerja sama dengan Danamon Peduli melalui program ini, yaitu Kendal, Rembang, Wonosobo, Pekanbaru, Pacitan, Banyuwangi, Jambi, Sumedang, Yogyakarta dan Balikpapan. Untuk mereplikasi program ini di beberapa kota sampai akhir 2008, Danamon Peduli menyiapkan dana Rp 4,5 miliar. Masing-masing pemkab/pemkot akan memperoleh dana hibah Rp 50-70 juta.

Rencananya, Pemkab Sragen akan mereplikasi program ini di pasar-pasar tradisional lainnya di kabupaten tersebut. Sementara Danamon Peduli bakal mereplikasinya di tingkat nasional. Jika program replikasi ini berhasil, Risa berharap, pada 2011 akan ada 900 pasar tradisional di 400 kabupaten yang mengolah 6.300 ton sampah menjadi 1.800 ton kompos dengan nilai transaksi Rp 720 juta/hari, serta menyerap 3.600 tenaga kerja di lingkungan pasar. Nah, tertarik mengikutinya?

Firdanianty/Wini Angraeni

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag