Apotek Rini, Bertahan 40 Tahun dan Tetap Dicintai

Apotek Rini, Bertahan 40 Tahun dan Tetap Dicintai

Pengelola apotek ini tampaknya tahu betul bagaimana menyatukan hati dengan pelanggannya. Simak saja tulisan di salah satu sudut ruangan depannya, ”Apotek Rini siap melayani Anda, kapan pun Anda perlu.” Di sisi lain, ada tulisan yang lebih panjang, berbunyi: ”Apotek Rini dibuka pada 14 Desember 1968. Perjalanan panjang ini, Anda kenal kami. Kami mengenal Anda, menjadikan kita satu Keluarga Besar Apotek Rini.”

Keberadaan Apotek Rini yang mampu bertahan dalam waktu cukup lama di tengah hadirnya banyak apotek bergaya modern dewasa ini, tak lepas dari peran pendiri sekaligus pemiliknya, Murdiana Baskoro. Hingga kini, Murdiana masih rajin mengawal perkembangan bisnis apoteknya ini.

Seperti dituturkannya, kehadiran apotek ini 40 tahun silam bermula dari peristiwa penggusuran beberapa rumah di Jl. Bonang, Jak-Pus, untuk kepentingan pembangunan Tugu Proklamasi. Hal ini memaksa pengusaha Mursidi Effendi membawa istri dan ke-10 anaknya hijrah ke Jl. Balai Pustaka, Jak-Tim. Di atas tanah seluas 1.300 m2 itu, Murdiana yang merupakan anak sulung meminta pada ayahnya agar sebagian tanah seluas 100 m2 digunakan untuk membangun apotek.

Bagi Murdiana, membuka usaha apotek adalah pilihan usaha yang dinilai paling pas dengan dirinya. Maklumlah, wanita kelahiran Surakarta 64 tahun lalu ini pernah bekerja sebagai asisten apoteker selama lima tahun di Apotek Radja Farmasi (yang kini menjadi Apotek Kimia Farma). Adapun nama yang digunakan, Rini, tak lain nama anak bungsu keluarga Mursidi Effendi. Selain gampang diingat, penggunaan nama itu pun untuk menghindarkan konflik dengan saudara yang lain. ”Pastinya tak ada yang iri dong karena ini nama adik paling kecil dan semua sayang dia,” ujar wanita yang baru saja pulang dari lawatannya selama 6 minggu ke Amerika Serikat, dalam rangka mengunjungi putri tunggal dan cucunya itu.

Sejak awal, Murdiana memosisikan Apotek Rini sebagai apotek terlengkap dengan harga terjangkau. Tak heran, beberapa waktu lalu apotek yang selalu terlihat ramai ini memperoleh penghargaan dari Departemen Kesehatan sebagai penyedia obat generik paling lengkap. Total ada 8 ribu item obat yang disediakan, dan harga produknya relatif kompetitif. Rohini (64 tahun), salah satu pelanggan Apotek Rini, mengungkapkan bahwa ia pernah membeli sejumlah obat jantung. Di Apotek Persahabatan, harganya sekitar Rp 370 ribu. “Di sini cuma Rp 280 ribu,” ujar warga Jatinegara Kaum ini.

Mengenai kelengkapan produknya, Murdiana menyebutkan, ia dan anak buahnya cukup proaktif untuk berinisiatif mencarikan produk yang tak tersedia di tempatnya. ”Kami punya banyak jaringan apotek di daerah. Bila ada obat resep yang langka, kami akan berusaha mencarinya sampai ke daerah,” tuturnya.

Murdiana mengaku, ia dan keluarganya berusaha akrab dengan para pelanggan dan karyawannya. Pendekatan kekeluargaan diterapkan dalam mengelola apotek ini. Tak heran, ia memiliki cukup banyak karyawan loyal. Bahkan, tak sedikit yang usia kerjanya hampir sama dengan usia Apotek Rini, sekitar 40 tahun. Di antara mereka, “Ada yang anaknya saya sekolahkan di Sekolah Menengah Farmasi (SMF), bahkan ada yang kedua anaknya mendapat beasiswa dari saya. Dengan catatan dia memang pintar dan lulus tes masuk SMF,” ujar alumni Sekolah Asisten Apoteker Bandung ini.

Pendekatan kekeluargaan bukan cuma diterapkan pada karyawan dan pelanggan, melainkan juga pada lingkungan sekitarnya. Yang paling kasat mata, sejumlah pedagang kaki lima diberinya lokasi berjualan secara gratis di halaman apotek, seperti pedagang sate, siomay, bakso, dan buah. Bahkan, pihaknya sampai membatalkan rencana perluasan area parkir. Mungkin karena melihat keramaiannya, di apotek ini sekarang tersedia lima mesin ATM (dua ATM Bank Mandiri, dua ATM BCA, dan satu ATM Bersama).

Saat ini, Murdiana sudah lebih banyak mendelegasikan wewenang kepada keponakannya, Meta Pramana. Ibu dari Maria Angela Artania Widyasari (36 tahun) ini berharap Meta dapat meneruskan usaha apoteknya. Karena itu, dulu ia mengarahkan Meta mengambil studi bidang farmasi di Universitas Indonesia, dan menempatkan Meta dalam pengelolaan usaha apoteknya, mulai dari posisi kasir sampai kini memiliki wewenang lebih besar dalam mengelola apotek. Putrinya sendiri sejak SMA memilih bersekolah di AS, meneruskan kuliah di Oregon University bidang ilmu pangan (food science), dan kini menetap di Portland, bersama suami dan anaknya.

Murdiana mengakui, seharusnya ia telah melebarkan sayapnya dengan ekspansi gerai ataupun dengan pola waralaba. Namun, ia tak melakukannya karena merasa cukup puas dengan apa yang telah diperolehnya dari satu gerai Apotek Rini. “Belum terpikir mau waralaba,” kata wanita yang biasa disapa Bu Baskoro oleh karyawan dan pelanggan lamanya itu.

Bagi Murdiana, tidaklah mudah mengembangkan gerai. Ia pernah membangun Apotek Tania di bilangan Pondok Bambu, Jak-Tim, yang mengandalkan kelengkapan produk di apotek induknya (Apotek Rini), tetapi ternyata tak begitu berhasil. ”Sudah deh, kalau saya sih maunya tetap eksis di bisnis apotek. Habis bisanya cuma ini,” ucapnya agak merendah.

Yuyun Manopol & Siti Ruslina.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag