Pencetak Return Unitlink Tertinggi

Pencetak Return Unitlink Tertinggi

Nah, berdasarkan riset yang dilakukan Majalah SWA, dari sejumlah unitlink yang sudah dipasarkan ada beberapa unitlink yang mampu mencetak return memuaskan di tahun lalu, yaitu: Equity Plus dari PT AXA Financial Indonesia yang membukukan return tertinggi sebesar 82,58%. Lalu di posisi kedua adalah Rupiah Golden Equity Fund dari PT AJ Sequis Life (61,72%); Zlink Dana Ekuitas Internasional (59,68%) dan Manulife Dana Ekuitas (59,53%), keduanya dari PT AJ Manulife Indonesia; serta Signature Link Adventurous (59,2%) dari PT Asuransi Jiwa John Hancock (selengkapnya lihat: Tabel).

Tentu saja, return yang dibukukan itu hanya cerminan di masa lalu dan tidak merupakan ukuran sebagai proyeksi return ke depan. Apalagi unitlink tersebut sangat dipengaruhi kondisi bursa saham, karena hampir semuanya adalah unitlink berbasis saham. Dan, tahun lalu bursa saham di negeri ini memang sedang digdaya. Akan tetapi, setidaknya hasil riset itu bisa menunjukkan kualitas para pengelola unitlink tersebut. Nah, bagaimana mereka mengelolanya?

Edhi Santoso Widjojo, Presdir PT AXA Asset Management Indonesia, menuturkan, Equity Plus yang dikelolanya sudah dipasarkan sejak 14 Juni 2005. Untuk memaksimumkan return yang dihasilkan, pihaknya menggandeng PT Fortis Investment sebagai manajer investasi. Sesuai dengan namanya, portofolio investasi unitlink AXA ini mayoritas dibenamkan di saham (lebih dari 80%) dan sisanya di pasar uang.

Saham-saham yang selalu jadi pilihannya adalah saham pertambangan seperti saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI); pertanian seperti PT Astra Agro Lestari (AALI), atau saham pilihan yang masuk dalam kategori LQ 45 seperti saham Telkom, Astra, INCO dan PGAS. “Penempatan investasinya tergantung pada kondisi pasar,” katanya sambil mencontohkan selama Januari sampai awal Mei 2008, komposisi investasi sahamnya mencapai 84%, saham BUMI merupakan pilihan utama, dan sisanya 16% di pasar uang.

Dengan pengelolaan seperti itu, return Equity Plus selalu menggembirakan. Seperti tahun 2006, return-nya baru 58,79% dan pada 2007 menjadi 82,59%. “Return ini sangat dipengaruhi oleh kondisi bursa tahun lalu yang sedang meningkat,” ujar Edhi. Sementara, dana kelolanya juga terus meningkat. Pada 2006 mencapai Rp 58 miliar; tahun 2007 sebesar Rp 366 miliar; dan per Maret 2008 bertengger di angka Rp 429 miliar.

Tak beda jauh dari AXA, Manulife juga menjadikan saham pertambangan, agrobisnis, perbankan dan telekomunikasi sebagai basis investasi kedua unitlinknya. Saham BUMI, Telkom, BRI, BCA dan PGAS sering menjadi incarannya. “Kami masih memprioritaskan sektor energi dan saham beberapa bank,” ujar Raymond Gin, Head of Equity Investment PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Untuk dana kelola, Zlink Dana Ekuitas sekitar Rp 7,7 triliun dan Manulife Dana Ekuitas Rp 686 miliar.

Selain unitlink yang berbasis investasi konvensional, unitlink yang berbasis syariah juga tahun lalu mampu membukukan return yang menggembirakan. Contohnya Takafulink Alia (Alia) milik PT Asuransi Takaful Keluarga (ATK) yang sejak Mei-Desember 2007 mencetak return 46,47%. Memang Alia tidak masuk dalam 10 besar seperti data yang tercantum dalam Riset SWA karena Alia baru diluncurkan Mei tahun lalu, sehingga tidak masuk dalam perhitungan Riset SWA. Walau demikian, bisa dibilang Alia adalah rising star di industri unitlink syariah.

Dodik Siswantoro, Manajer Investasi ATK, mengatakan, portofolio investasi Alia adalah 79,98% pada saham syariah dan 20,02% pasar uang syariah. Komposisi saham per sektor secara mayoritas ditempatkan di saham pertanian, pertambangan, otomotif dan properti. Bertindak sebagai manajer investasinya adalah PT Trimegah Scurities. ”Hingga November 2007, dana kelolaan Alia mencapai Rp 25,25 miliar,” ia mengungkapkan.

Bagaimana prospek unitlink saham? Edhi mengatakan, semua investasi sangat dipengaruhi oleh cantolan investasinya. Artinya, kalau investasi basisnya saham, investasi itu sangat dipengaruhi oleh kondisi bursa. Nah, melihat kondisi bursa saham sedang melemah akibat faktor global dan nasional, maka imbasnya: return unitlink saham diprediksi tidak akan sebesar tahun lalu. “Yang pasti, investor jangan panik,” katanya memberi masukan.

Sementara Raymond, meski kondisi bursa sedang lesu, ia tetap optimistis. Pasalnya, masih banyak saham yang memiliki prospek cerah seperti pertambangan khususnya batu bara. Lalu sektor pertanian masih menjanjikan sebab harga CPO terus naik, dan juga sektor perbankan masih menarik. Dengan demikian, kendati return yang dicetak unitlink saham tidak akan sebesar tahun lalu, diperkirakan hasilnya tidak mengecewakan.

Dede Suryadi/Afiff Maulana Dewanda. Riset: Sofyan Eko Putra.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag