Jagoan Bisnis Resto yang Andalkan Kepekaan Lidah
Yunus Ciptawilangga tidak menyangka usaha bakso yang dirintisnya tahun 1997 bakal menuai sukses. Maklumlah, kedai bakso Malang yang diusungnya kala itu lokasinya kurang strategis. Berada di Jalan Karapitan, Bandung, dengan jalur lalu lintas satu arah yang dipadati toko di kanan-kirinya, kedainya seperti terimpit keramaian jalan. Toh, kelezatan baksonya mampu menyedot banyak pengunjung, meski perjalanan menuju lokasi kedai itu kurang nyaman. Di kedainya itu, Yunus menyajikan bakmi, bakso, ceker (cakar ayam), dan minuman es teler. Kala itu harga semangkuk bakso dibanderol Rp 2.000. Maklumlah, masa itu kurs US$ 1 masih Rp 2 ribuan. Dan, modalnya membesut resto bakso benama Bakso Malang Karapitan (BMK) kala itu sebesar US$ 100 ribu atau Rp 200 jutaan.
Di awal-awal merintis BMK, Yunus mengandalkan promosi lewat spanduk dan iklan di media massa. Namun, lama-kelamaan ia merasa lebih cocok dengan strategi tradisional: pemasaran dari mulut ke mulut. Rupanya, jurus ini jitu juga, apalagi banyak orang yang mulai ketagihan suguhan “si daging bulat†BMK itu. Bisa ditebak, derasnya permintaan konsumen mendorong Yunus berekspansi. Tidak tanggung-tanggung, tahun 1998 ia langsung membuka tiga cabang baru BMK di area mal dan swalayan di Bandung. Bukan perkara mudah bagi BMK menembus pusat perbelanjaan modern. “Awalnya, kami kesulitan juga memenuhi standar resto di mal,†pria kelahiran Bandung, 1959, itu mengakui. Akan tetapi, dengan keuletannya untuk menghadirkan resto bermutu dan selalu menjaga kebersihan, lambat laun pengelola mal luluh juga hatinya. Bahkan, BMK bisa membuktikan keseriusan bisnisnya dengan diperolehnya sejumlah penghargaan sebagai resto paling bersih.
Setelah berhasil menggelindingkan BMK di Bandung, Yunus mulai berani menancapkan kuku bisnisnya ke Jakarta. Tahun 1999 ia kembali menguji kepiawaiannya berbisnis resto dengan membuka cabang BMK ke-5 di Mal Citraland, Jakarta Barat. Rasa percaya dirinya untuk menaklukkan pasar Jakarta muncul lantaran ia punya prinsip: untuk menjadi pemain bisnis makanan terbaik, harus dimulai dari produk itu sendiri. Contohnya, ia membatasi penggunaan pewarna di adonan baksonya. Boleh dibilang, tampilan bakso BMK lebih gelap karena campuran tapiokanya sedikit. Untuk menguji kualitas baksonya, bukan hanya ia yang mencicipi, tapi juga anak- cucunya. Dan, lagi-lagi tangan dingin Yunus mengelola bisnis resto berbuah prestasi. Tak dinyana, hingga kini BMK telah memiliki 11 gerai.
Tak puas hanya meramu resto bakso, tangan Yunus mulai gatal untuk menjajal jenis resto lain. Tahun 2001 ia nekat meresmikan pembukaan resto baru bernama Premium. Entah mengapa, dalam hitungan beberapa bulan resto itu ditutup begitu saja. Selanjutnya, tahun 2003 dibuka lagi resto pengganti Premium dengan nama baru: Platinum. Konsep yang ditawarkan Platinum adalah The Urban Life Style. Di sini, desain interior resto sengaja dibuat bergaya minimalis nan mewah dilengkapi dengan sofa-sofa berwarna terang yang nyaman dan indah dipandang mata.
Alat penyajian dan perlengkapan makan Platinum sekelas hotel bintang lima. Padahal, Platinum mematok harga yang kompetitif: belasan ribu hingga puluhan ribu rupiah per porsi. Sementara jenis masakan dalam menunya cocok untuk mereka yang berselera tinggi, misalnya sapi bakar Set, steamboat Set, nasi ayam Hainan dan nasi goreng XO. Tak mengherankan, sambutan konsumen kembali luar biasa, sehingga cabang Platinum terus beranak-pinak. Sekarang ada 13 gerai Platinum yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain.
Masakan seafood pun menggoda jiwa bisnis Yunus. Maka, pada 2001 ia mengibarkan bendera resto yang kesekian kalinya. Kini dengan nama resto Raja Rasa. Rupanya, kiprah pengusaha kuliner lulusan program MBA Universitas Esa Unggul (dulu bernama IEU School of Business, Jakarta) ini tak berhenti sampai di situ. Berikutnya, pada 2004 ia tergerak mendirikan resto Venus Bistro di La Piazza, Kelapa Gading. Segmen pasar yang dibidik Venus Bistro adalah kalangan premium dengan masakan utama ala Eropa. “Tapi, di sini kami juga menawarkan sop buntut,†ujar anak keempat dari 9 bersaudara ini. Selain di Kelapa Gading, cabang Venus Bistro dapat pula dijumpai di Mal Taman Anggrek.
Petualangan Yunus di industri food & beverage terus berlanjut. Tahun 2005 lagi-lagi ia mengepakkan sayap bisnisnya. Kali ini yang dijajaki adalah bisnis resto masakan Thailand yang telah diolah sedemikian rupa, disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.
Guna mengulang kesuksesan puluhan resto sebelumnya, Yunus masih mengadu peruntungan baru di 2007 dengan membuka resto Raja Sunda. Dari namanya tersirat resto ini menjagokan masakan daerah Jawa Barat.
Selain BMK, Platinum, Raja Rasa dan Raja Sunda, sebenarnya Yunus juga memiliki empat resto lain: Gokkana Teppan dengan 6 gerai lebih, Raacha Suki (dua gerai), 499 dan Pagoda (masing-masing satu gerai). Tiap-tiap resto memiliki kisah sendiri. Pagoda, umpamanya, sebagaimana diceritakan Yunus, merupakan resto perdana yang dirintisnya tahun 1995. Rumah makan ini menyajikan masakan Cina. Sementara itu, 499 merupakan resto masakan Cina yang kelahirannya pada 1968 dibidani orang tuanya, tapi belakangan Yunuslah yang mengelola. Dan, dari ke-9 resto itu, ia memiliki 40 gerai di bawah bendera Grup Champ.
Ya, daya kecap yang unik dan sensitif mengantarkan Yunus menjadi pengusaha resto hebat di tingkat nasional. Ia mengaku kelebihan itu telah lama melekat pada dirinya, dan boleh jadi merupakan warisan orang tuanya yang kebetulan juga pengelola rumah makan. Anehnya, ia baru sadar bahwa dirinya punya keunggulan daya kecap setelah diingatkan teman baiknya. “Kalau suatu masakan ditunjukkan pada saya, lalu saya cicipi, saya pasti bisa mengurai berasal dari bahan apa saja masakan itu. Tidak ada masakan yang tidak bisa saya buat,†ia memaparkan tanpa menyombongkan diri.
Menariknya, dari 40 cabang resto itu, tak satu pun yang dikembangkan secara waralaba. Jadi, semuanya milik Yunus. Mengapa? Ia mengaku khawatir, bila diwaralabakan, kualitas produk dan layanannya menurun. “Kami merintis dari satu cabang menjadi 40 cabang itu tidak gampang. Jadi, saya tak mau gegabah memutuskan ekspansi resto secara franchise,†ungkap Yunus yang juga rajin memberikan pelatihan indoor dan outdoor bagi karyawannya.
Untuk menjalankan dan mengembangkan jaringan restonya, Yunus menganggap penting peran profesional. Ia menerapkan gaya manajemen: the right person in the right place. Sejak 1997, ia melibatkan banyak profesional di resto BMK. Kalangan keluarga hanya ditempatkan di bagian keuangan dan produksi. Baginya, meski anggota keluarga, bila orang itu tidak menunjukkan performa, ya tidak perlu diberi jabatan. “Saya nggak bisa melihat sesuatu yang nggak perfect,†ujarnya. Bagian produksi bertugas mengurus perbumbuan hingga memasoknya ke semua cabang resto. Wawa, istrinya, menangani kontrol produk. “Dengan begitu, saya hanya mengurusi hal-hal strategis,†kata Yunus sembari menjelaskan, nama Grup Champ diambil dari kata “champion†yang berarti sang pemenang. Presdir Champ ini berharap, ke-9 restonya unggul dan merajai bisnis resto sejenis.
Yunus membuka kartu bahwa salah satu kunci keberhasilannya menetaskan sejumlah resto adalah kuatnya riset & pengembangan (R & D). “Dulu, sebelum resto BMK dibuka, saya melakukan survei pribadi selama satu bulan untuk melihat kecenderungan pasar,†ungkapnya. Kini, Champ punya tim R & D yang bertugas menyurvei pasar dan lokasi resto yang bakal berdiri. Biasanya ada tiga hal yang diteliti. Pertama, produk (menu, rasa, penampilan masakan sudah pas ataukah belum). Kedua, perencanaan bisnis berkelanjutan. Ketiga, pengembangan produk dan kualitas pelayanan. Divisi R & D bekerja sama dengan bagian pengembangan bisnis ketika ada penawaran untuk masuk ke mal atau pusat belanja. Dan, keputusan terakhir tetap di tangan Yunus. Sayangnya, ia menutup rapat-rapat informasi tentang omset resto ataupun nilai investasi yang dibenamkan di tiap-tiap gerai.
Sama halnya dengan pebisnis lain, tak selamanya usaha yang dibesut Yunus meraih sukses. Sebelum fokus menggarap resto, ia pernah menyambi membuka ruang pajang mobil bekas bernama 99 Mobil pada 1990-2003. Namun, tahun 2002 pasaran mobil bekas menyusut seiring dengan mulai banyak diluncurkannya mobil baru. “Padahal, waktu itu showroom saya sudah empat,†tutur pelahap berbagai buku manajemen itu. Alhasil, keempat ruang pajang mobil itu gulung tikar.
Sejumlah rencana bisnis jangka pendek dan panjang telah diagendakan Yunus. Pada Mei 2008, misalnya, resto Raja Rasa membuka cabang kedua seluas 2.500 m2 di Jakarta. Sementara di Bandung, ia bakal merintis dua resto baru yang namanya masih dirahasiakan. Resto pertama seluas 2.600 m2 menawarkan masakan Sunda, sedangkan resto kedua yang luasnya 6.000 m2 akan berfungsi juga sebagai gedung serba guna.
Selain itu, pada 2008 ini Yunus bakal meningkatkan kecanggihan sistem teknologi informasi Champ menuju ke arah integrasi. Dengan demikian, nantinya laporan harian hasil penjualan setiap resto bisa diakses oleh Yunus di Bandung dan Jakarta. “Ini kami lakukan setelah membenahi produk sehingga lebih sempurna,†kata bos yang mempekerjakan minimal 20 orang di setiap gerai restonya, terutama cabang BMK, Platinum dan Venus Bistro, itu.
Sosok Yunus di mata karyawan dipandang sebagai orang yang kreatif dan ulet. “Pak Yunus selalu melakukan perbaikan di sana-sini,†ujar M. Rusli, Supervisor in Charge BMK Cabang Sarinah. Misalnya, tersedia snack dan kerupuk gratis buat pengunjung. Dan, untuk efisiensi, Yunus tidak merampingkan karyawan, melainkan menghemat penggunaan listrik dan air.
Ambisis Yunus, 10 tahun ke depan Champ memiliki 300 cabang resto dengan berbagai jenis masakan. Ia optimistis mampu mewujudkan impiannya karena tahun 2004 saja berhasil membuka 13 cabang resto. Apalagi, kini Champ didukung manajemen yang lebih baik. “Selain itu, tahun 2010 saya berharap Champ Group bisa go public,†tuturnya bersemangat. Jika cita-citanya menjadikan Champ sebagai perusahaan publik terwujud, Yunus ingin orang-orang yang berjasa dalam membangun grup usahanya itu mendapat jatah saham.
Menanggapi rencana ekspansi Champ itu, William Wongso menggarisbawahi, khusus resto Platinum diperlukan volume yang besar untuk mendapatkan keuntungan optimal. Artinya, dengan tarif Platinum yang murah, tentu dibutuhkan cabang yang banyak guna mengumpulkan keuntungan berlipat. “Tidak bisa begitu saja resto Platinum ekspansi di berbagai daerah. Perlu dipikirkan konsep value for money, apakah bisa diterapkan di daerah yang berbeda atau tidak,†kata pengamat kuliner itu mengingatkan. Apalagi, makanan tradisional di pinggir jalan menawarkan harga yang jauh lebih murah ketimbang Platinum jika resto tersebut akan memenetrasi sejumlah daerah. “Sebaiknya Champ fokus saja. Pilih beberapa brand dari 9 merek resto yang bakal dikembangkan lebih lanjut. Harus ada yang dijadikan flagship,†demikian saran pendiri Flavours of W itu.
Reportase: Rias Andriati
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.