Wah, Alun-Alun Indonesia Makin Kinclong ...

Wah, Alun-Alun Indonesia Makin Kinclong ...

Menurut Presdir AAI Dea Sudarman, pihaknya juga menciptakan desain dan wahana pendukung yang menarik, sehingga bisa membanggakan produk-produk yang dipajang di AAI. Ketika memasuki pusat belanja ini, pengunjung akan terbawa alur desain interior, seperti sungai yang mengalir tanpa ada sekat yang menghalangi layaknya department store lain. Pusat belanja ini menyediakan wahana barang antik; wahana batik, tenun dan ikat; wahana produk hunian dan gaya hidup; wahana perhiasan; wahana cenderamata; wahana aksesori; wahana busana, buku, kaset dan produk anak; hingga kafe yang menyajikan hidangan kuliner khas Indonesia.

Awalnya Dea mencoba mencari konsep yang paling tepat untuk pusat perbelanjaan yang mengusung produk Nusantara itu. Ia ingin pusat belanja itu juga sebagai tempat orang berkumpul, berinteraksi, berdagang, pusat pemerintahan dan semua kegiatan orang Indonesia. “Ketemulah alun-alun, setiap kota dan kabupaten di Indoneesia memiliki alun-alun, itu yang kami pakai sebagai simbol AAI,” ungkap kelahiran Bandung 5 Desember 1955, yang siang itu berbusana batik warna cokelat khas motif Solo.

Sejak umur 17 tahun, Dea sudah melanglang buana, dan menjelajahi seluruh daerah di Tanah Air. Penggemar fotografi ini tahu dan paham kekayaan budaya dan produk kerajinan dari Sabang hingga Merauke. Hal itu membuat PT Mitra Adiperkasa Tbk. memercayai Dea sebagai komandan AAI.

AAI yang peresmiannya dilakukan oleh Ibu Negara, Ani Yudhoyono, pada Oktober 2007, menyediakan beraneka ragam fashion, mulai dari batik hingga T-shirt yang bergambar Bung Karno, Jenderal Sudirman, Bung Tomo, sampai ondel-ondel dan becak. Bahkan, ada kaus dengan tulisan posisi Indonesia berdasarkan garis lintang dan bujur. Beragam batik juga tersedia, mulai batik tulis, batik cat hingga tekstil yang bermotif batik. Sejumlah perancang busana terkemuka Indonesia juga membuka gerainya di sini, seperti Iwan Tirta, Edward Hutabarat, Ghea, Ronald V. Gaghana, Obin, Biyan, dan Carmanita. Sementara perancang perhiasan yang ikut andil antara lain Runi Palar, Reny Feby, Mieke Sahala, dan Ratna Zhuhry.

Menurut Edward Hutabarat, desainer batik yang terkenal dengan konsep Part One-nya, AAI perlu diperbesar lagi secara fisik. “Sebagai medium yang memperkenalkan kultur Indonesia tidak cukup hanya dengan itu, karena Indonesia kaya aneka ragam kerajinan yang merupakan produk kekayaan budaya,” ungkap pria kelahiran Tarutung (Sumatera Utara) 31 Agustus 1958, yang akrab disapa Edo. Di mata Edo, produk batik yang ada di AAI tidak hanya sebagai komoditas komersial. Melainkan, terdapat tiga pesan yang perlu disampaikan, yakni: “Sebagai identitas bangsa, membantu pengembangan UKM, dan menjadi sumber tambahan devisa dari pariwisata,” paparnya seraya menambahkan bahwa stand-nya di AAI kecil, tetapi yang dijual adalah message-nya. “Saya tidak bisa menyampaikan pesan itu sendiri, jadi saya dibantu juga lewat AAI,” kata Edo. Kerja samanya dengan AAI berpola konsinyasi.

Selain produk fashion, dijual pula beberapa barang antik, yang harganya berkisar Rp 50 ribu-jutaan. Sementara bagi para penikmat musik tempo doeloe, seperti Benyamin S. dan Koes Plus, bisa membeli kaset aslinya di AAI, termasuk ensiklopedia Indonesia yang belum tentu tersedia di toko buku umumnya.

AAI juga menghadirkan bergama kuliner khas Indonesia. Ada kopi tubruk, dan penganan pendamping seperti jajanan pasar berupa cenil, lupis, pisang goreng, sampai makanan berat seperti pempek dan gado-gado. Jika ingin suasana yang lebih formal, tersedia restoran Palalada. Nama ini diilhami oleh pala dan lada yang merupakan rempah-rempah kekayaan Indonesia, yang diperebutkan oleh bangsa Portugis abad ke-15. Desainnya elegan tanpa meninggalkan citarasa Indonesia.

Menurut Dea, pasar AAI, 95% untuk kalangan lokal. “Mengenalkan budaya Indonesia lebih penting ke orang Indonesia. Kalau bangsa Indonesia tidak menghargai budaya sendiri, jangan kaget kalau dicuri negara lain seperti kasus Reog Ponorogo dan batik yang diklaim oleh negara tetangga,” ungkap Dea yang memayungi 250 karyawan. Barang yang ada di AAI membidik segmen luas, tak hanya tamu negara atau kalangan selebriti. Adapun omset per bulan rata-rata sekitar Rp 2 miliar.

Saat ini AAI bekerja sama dengan 147 vendor konsinyasi dan 208 vendor beli putus dari berbagai daerah di Indonesia. Tiap bulan rata-rata ada lima vendor baru. “Bukan berarti tiap vendor bisa dengan mudah masuk AAI. Kami punya tim creative buyer, yang tugasnya memilih barang dari para perajin industri kreatif,” tuturnya. Dalam pengembangan produk-produknya, AAI menjalin kerja sama dengan para perajin Yogyakarta, Kalimantan, Madura, Solo, Aceh hingga Papua.

Menurut mantan Produser Eksekutif Nippon Televisi Jepang ini, strategi mengelola bisnisnya adalah dengan passion, dedikasi tinggi, dan membangun jaringan yang luas. “Kami lebih percaya lewat promo word of mouth, yang jauh lebih efektif ketimbang memasang iklan. Biarkan mereka yang menjadi jubir,” ujar pemilik Gedung Kesenian Dua8 ini.

Saat ini, lanjut Dea, AAI hendak mengembangkan cabang baru di Bali. Setelah sukses membuka AAI di Nusa Dua Bali yang sudah diluncurkan bersamaan dengan Climate Change Conference, Desember tahun lalu, AAI akan dibuka di Kuta. “Akan ada rencana penambahan cabang di Kuta. Segmennya turis asing dan turis domestik yang berkunjung ke Pulau Dewata,” kata Dea.

Moh. Husni Mubarak dan Henni T. Soelaeman.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag